Pekan Khutbatul Arsy adalah salah satu sunnah pondok. Tidak boleh hilang, bahkan bergeser pun tidak boleh. Ini prinsip.

Mengapa disebut Khutbatul Arsy? Ada banyak tafsiran. Bisa jadi, maksudnya adalah khutbah tertinggi yang ada di pondok sbgm Arsy itu berada di tempat paling tinggi. Di forum itu, Kiai sbg sentral figur, sbg Pimpinan Pondok, Pengasuh dan bahkan Pendiri menyampaikan pandangan-pandangannya tentang nilai-nilai dan sistem pondok, tentang sunnah-sunnah, tentang pakem, tentang aturan, dan lain sebagainya. Semua tentang pondok dan kepondokan disampaikan oleh sosok yang kedudukannya paling tinggi di pondok.

Bisa jadi, Khutbatul Arsy itu maksudnya bahwa Kiai akan menyampaikan pandangan-pandangannya dari “tempat yang paling tinggi”; melihat pondok dari atas. Seperti halnya burung, semakin tinggi terbang maka akan semakin luas daya dan jelajah pandangnya karena tidak terhalang oleh apapun. Melihat pondok “dari atas” tentu akan semakin luas spektrum dan cakrawalanya.

Maka, Khutbatul Arsy itu sakral. Semua harus hadir mengikuti dan menyimaknya. Tidak boleh ada yang absen, bahkan yang sakit pun harus ikut hadir dan menyimaknya.

Dalam rangkaian Khutbatul Arsy, ada Apel Tahunan. Sama sakralnya! Apel Tahunan bukan sekedar upacara dan show of force, apalagi sekedar penampilan-penampilan. Yang menganggapnya demikian, berarti jarak pandangnya pendek dan terbatas, seperti orang yang berada dalam kotak persegi ukuran 2 x 2 meter tertutup rapat, ia tidak bisa melihat apa-apa.

Ada pendidikan kebersamaan dalam Apel Tahunan; sebagaimana pendidikan kepemimpinan; pendidikan kesigapan; pendidikan disiplin; pendidikan tanggungjawab; pendidikan empati; dan pendidikan kreatifitas.

Coba renungkan, menyelenggarakan Apel Tahunan yang spektakuler seperti itu, bisakah tanpa kebersamaan dan empati? Bisakah terlaksana tanpa kepemimpinan yang kuat (strong leadership)? Ada yang merancang ide, merumuskan, lalu menyampaikannya ke orang banyak, lalu menyusun strategi, membagi personil ke dalam berbagai mata acara, melatih mereka, memantau, membina dan mengevaluasinya. Bisakah semua itu tanpa kepemimpinan yang kuat? Dan, kepemimpinan itu berjalan secara berjenjang, dari bawah ke atas, dari santri baru, yunior hingga senior, guru baru hingga guru senior dan puncaknya kepada Pimpinan Pondok.

This is the real education of leadership. Ya, dari sini kita sedang menciptakan pemimpin masa depan; yang visioner, berkepribadian kuat, berakhlak, berwawasan, kreatif tapi tetap berjiwa santri.

Bisakah Apel Tahunan terlaksana dengan baik tanpa kesigapan, tanpa disiplin, tanpa tanggungjawab dan tanpa kreatifitas? Rasanya tidak mungkin. Apalagi menyaksikan Apel Tahunan yang spektakuler seperti itu, banyak orang tidak percaya bahwa semua itu dirancang idenya dan disiapkan oleh anak-anak remaja berusia belasan tahun. Amazing!

Cobalah Anda tinggal di pesantren ini selama satu minggu saja pada hari-hari jelang pelaksanaan Apel Tahunan dan Khutbatul Arsy. Lihatlah bagaimana anak-anak remaja itu berlatih dan sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Itu dilakukan bersamaan dengan kesibukan mereka mengikuti kegiatan belajar di kelas. Belum lagi, kesibukan mereka mengurus kebutuhannya sendiri; mandi, cuci, dan lain sebagainya. Oh ya, jangan lupa perhatikan: berapa jam mereka tidur sehari? Tidak lebih dari 5 jam!

supaya Anda tahu, semua mereka lakukan dengan disiplin tinggi.

Apa rahasianya? Mau tahu? Jawabnya: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyyah dan kebebasan.

Oh ya, ada satu lagi: mereka telah berpisah dari dunianya selama ini: dunia bermain, dunia gadget, dunia nge-gank, dunia motor-motoran, dan sejenisnya. Karena kini mereka telah berada di dunia baru: dunia pesantren; dunia masa depan.