“Orang yang tidak mengenal sejarahnya, tidak akan pernah mengerti jati dirinya.”
Ahad pagi, 21 Juli 2025, menjadi hari yang penuh makna bagi santri baru Pondok Pesantren Tahfizh Darunnajah 17 Ummul Mu’minin. Dalam rangkaian kegiatan pengenalan santri baru, Napak Tilas kembali diadakan sebagai cara untuk mengenalkan sejarah dan perjuangan pondok kepada generasi penerusnya.
Kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan saja. Di dalamnya, para santri diajak menyusuri titik-titik penting yang menyimpan kisah berdirinya pondok. Mereka mendengarkan langsung cerita perjuangan para pendiri dan pengasuh, serta menyaksikan tempat-tempat yang dulu menjadi bagian dari langkah perjuangan para pendiri pesantren.
Dengan semangat dan wajah penuh rasa ingin tahu, para santri mengikuti rute yang telah direncanakan. Di setiap pemberhentian, para santri dengan antusias mendengarkan penjelasan tentang nilai tempat tersebut—mulai dari bangunan lama, asrama, masjid, kelas, hingga tanah-tanah wakaf yang masih kosong dan belum terdapat bangunan. Tempat-tempat itu dahulu dikenal sebagai titik perjuangan yang menjadi bagian dari sejarah penting berdirinya pesantren.
Suasana berlangsung khidmat. Napak tilas ini menjadi jembatan yang menghubungkan santri dengan jejak langkah para pendahulu, agar mereka tidak hanya menjadi penuntut ilmu saja, tapi juga menjadi pewaris nilai-nilai perjuangan, keikhlasan, dan keteguhan hati para pendiri.
Seperti dalam pepatah Arab:
“مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ”
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Napak tilas bukan hanya tentang mengenal suatu tempat atau lingkungan, tapi juga sebagai sarana mengenal diri. Yaitu mengenal siapa diri kita sebagai santri, sebagai hamba, dan sebagai bagian dari perjuangan.
Semoga kegiatan ini menjadi bekal awal yang menancap kuat di hati para santri baru, menguatkan niat dan semangat mereka dalam menjalani kehidupan pondok dengan rasa syukur, kesungguhan, dan cinta yang terus tumbuh.




