Aula Fathammubina menjadi pusat kegiatan ilmiah pada Ahad malam (9/11/2026) pukul 20.00 WIB melalui pelaksanaan Munaqosyah ‘Ammah yang diikuti santriwati kelas 6 Tarbiyyatul Mu’allimat Al-Islamiyyah (TMI). Kegiatan ini mengangkat tema “Toleransi Aqidah Para Sahabat ketika Fathu Mesir dan Penerapannya di Indonesia” sebagai upaya memperdalam pemahaman keilmuan sekaligus membangun budaya diskusi yang kritis dan konstruktif.

Munaqosyah ‘Ammah merupakan forum diskusi terbuka yang dirancang untuk menguji kapasitas intelektual santriwati tingkat akhir. Dalam kegiatan ini, enam peserta tampil sebagai pemateri, yakni Khenza Ramadhani, Khansa Syaila, Hazimah Ariqoh, Aghnia Nur Azizul Haq, Fika Nabila Hakim, dan Naila Ramadhani. Mereka memaparkan gagasan serta analisis terkait praktik toleransi aqidah pada masa penaklukan Mesir oleh para sahabat Nabi dan relevansinya dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
Diskusi dipandu oleh moderator Al-Ustadzah Yosvi Anggrarian Putri, S.Pd, yang mengarahkan jalannya forum agar tetap sistematis dan interaktif. Sebelum sesi utama dimulai, acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Pengasuh Pesantren Putri Al-Manshur Darunnajah 3, Al-Ustadz Nur Ali Saputra, S.Th.I, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguasaan ilmu yang disertai dengan sikap bijak dalam menyikapi perbedaan, khususnya dalam konteks aqidah.
Para peserta tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga terlibat dalam sesi tanya jawab yang menantang kemampuan berpikir kritis dan argumentasi ilmiah. Berbagai sudut pandang disampaikan dengan mengacu pada sumber sejarah dan kajian keislaman, sehingga diskusi berlangsung dinamis namun tetap dalam koridor akademik.
Kegiatan ini menjadi sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi yang berlandaskan ajaran Islam. Selain itu, munaqosyah juga berfungsi sebagai bagian dari proses kaderisasi, mempersiapkan santriwati kelas 6 TMI untuk menjadi generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki wawasan luas dan sikap moderat dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui Munaqosyah ‘Ammah ini, diharapkan santriwati mampu mengintegrasikan pemahaman historis dengan realitas kekinian, khususnya dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen pesantren dalam mencetak kader yang berkualitas, berilmu, dan berakhlak, serta siap berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.
