Bagaimana Metode Belajar Bahasa Asing di Pesantren yang Berbeda dari Sekolah Biasa

Salah satu hal yang paling sering menarik perhatian tentang pesantren modern adalah kemampuan bahasa santrinya. Anak-anak yang bisa bercakap dalam bahasa Arab dan Inggris di usia remaja — itu bukan hal yang biasa. Tapi bagaimana sebenarnya pesantren mengajarkan bahasa asing? Dan apakah metodenya benar-benar efektif untuk semua anak?

Apa yang berbeda dari cara pesantren mengajarkan bahasa?

Di sekolah biasa, bahasa asing diajarkan sebagai mata pelajaran — beberapa jam per pekan, di ruang kelas, dengan buku teks. Santri mendengar bahasa Inggris atau Arab hanya saat jam pelajaran itu berlangsung. Setelah kelas selesai, mereka kembali ke bahasa Indonesia.

Di pesantren, pendekatannya berbeda secara fundamental. Bahasa asing bukan hanya pelajaran — tapi bahasa kehidupan sehari-hari. Setiap pekan bergantian: satu pekan seluruh percakapan harus dalam bahasa Arab, pekan berikutnya dalam bahasa Inggris. Di asrama, di kantin, di lapangan, di lorong — ke mana pun santri pergi, bahasa asing menjadi medium komunikasi.

Metode ini disebut direct method — bahasa diajarkan langsung dalam bahasa itu sendiri, bukan melalui terjemahan. Santri belajar bahasa Arab dengan instruksi dalam bahasa Arab. Dari hari pertama.

Kedengarannya menakutkan? Mungkin. Tapi metode ini sudah terbukti bekerja selama puluhan tahun di pesantren-pesantren yang menerapkan kurikulum TMI.

Apakah semua santri langsung bisa?

Tentu tidak. Di minggu-minggu awal, banyak santri baru yang kebingungan. Mereka belum punya kosakata yang cukup. Kalimat yang keluar masih campur-campur. Ada yang malu bicara karena takut salah. Ini fase yang sangat normal dan dialami hampir semua santri baru.

Pesantren mengantisipasi ini dengan program vocabulary pagi — santri menerima kosakata baru setiap hari yang harus dihafal dan digunakan. Perlahan, perbendaharaan kata bertambah. Kalimat mulai lebih utuh. Kepercayaan diri bicara meningkat.

Prosesnya tidak cepat bagi semua orang. Ada santri yang dalam beberapa bulan sudah cukup lancar. Ada yang butuh satu atau dua tahun. Dan ada yang kemampuan pasifnya lebih kuat dari kemampuan aktifnya — mereka mengerti tapi masih ragu bicara. Semua variasi ini normal.

Seberapa efektif metode ini?

Kalau dibandingkan dengan metode konvensional di sekolah biasa, hasilnya secara umum lebih baik — khususnya untuk kemampuan berbicara aktif. Santri yang sudah beberapa tahun di pesantren biasanya bisa bercakap dalam bahasa Arab dan Inggris dengan cukup lancar untuk percakapan sehari-hari.

Tapi perlu realistis. Kemampuan bahasa yang didapat dari pesantren lebih kuat di sisi percakapan dan pemahaman lisan. Untuk kemampuan menulis akademis atau bahasa formal tingkat tinggi, santri biasanya perlu pengembangan lebih lanjut di jenjang pendidikan berikutnya.

Metode ini juga lebih efektif untuk bahasa Arab dibandingkan bahasa Inggris — karena bahasa Arab digunakan juga dalam pelajaran agama, mengaji, dan ibadah, sehingga paparannya jauh lebih intensif. Bahasa Inggris, meski digunakan bergantian, paparannya sedikit lebih terbatas karena tidak ada konteks ibadah atau kitab yang menggunakannya.

Apa tantangan utamanya?

Konsistensi. Dalam komunitas besar, ada santri yang disiplin berbahasa asing dan ada yang kadang “bocor” ke bahasa Indonesia — terutama di situasi informal. Pesantren biasanya punya sistem enforcement — pengawas bahasa yang mencatat pelanggaran — tapi efektivitasnya bervariasi.

Kualitas pengajar juga faktor penting. Guru yang fasih dan bisa membuat pelajaran bahasa terasa hidup memberikan dampak yang sangat berbeda dibandingkan yang hanya mengandalkan buku teks. Pesantren berusaha merekrut pengajar yang berkualitas, tapi seperti institusi mana pun, hasilnya tidak selalu seragam.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, menjalankan program bilingual Arab-Inggris dengan metode direct method selama lebih dari tiga dekade. Hasilnya cukup terlihat pada banyak santri, meskipun tentu ada variasi individual yang besar. Program vocabulary harian, muhadharah tiga bahasa, dan insya menjadi bagian dari sistem yang terus diperbaiki kualitasnya.

Kalau penasaran mendengar langsung santri bercakap dalam bahasa asing, kunjungan ke pesantren di hari biasa bisa memberikan gambaran yang nyata. Datang tanpa janji.

Untuk pertanyaan, hubungi WhatsApp 0812111180.