
Pekan ini adalah salah satu pekan terpenting bagi Siswa Akhir TMI Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8. Bagaimana tidak? Pekan ini mereka akan mengenal lebih dalam tentang pemikiran/buah pikir Ulama Klasik yang penuh dengan puluhan bahkan ratusan karya-karya mereka. Baik di bidang Akidah, bidang tafsir, bidang fiqh, ataupun bidang hadis.
Setiap siswa diwajibkan membaca dan menelaah minimal lima buah pikir Ulama Klasik tersebut dalam satu bidang ilmu yang sama. Setelah dibaca dan ditelaah, kemudian harus dituangkan dalam bentuk tulisan/karya ilmiah (paper). Tidak mudah bagi santri akhir meramu dan meracik apa yang telah mereka telaah selama berjam-jam sehingga menjadi sebuah karya sederhana yang enak dibaca. Butuh ketelitian dan kecermatan dalam mengutip langsung, parafrase, atau bahkan membahasakan ulang. Maka para pembimbing akan menilai setidaknya dari tiga hal yaitu: isi tulisan secara keseluruhan, uslub bahasa yang digunakan, serta teknik dan sistematika penulisan.
Benarlah perkataan seorang bijak “Buku adalah teman sejatimu, selamanya ia takkan pernah mengkhianatimu, kapan dan di mana pun”. Jika engkau hendak berbincang dengan Tuhanmu maka bacalah kalam-Nya. Jika engkau hendak bersenda gurau dengan Imam Syafii, maka daraslah kitab-kitabnya. Jika engkau ingin menepi dari kebisingan dunia fana ini serta bertafakkur ke hadirat dzat-Nya, maka selamilah karya-karya Imam Ghazali dan sejenisnya.
Buku adalah sebuah karya yang tak terhingga. Setidaknya, sebuah paper dapat menjadi karya perdana bagi siswa akhir.
Mengenai kutub turots/kitab klasik ini masihlah sangat cocok dan layak (shôlih) untuk terus dikaji. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Syaikhul Azhar Prof. Dr. Ahmad Tayyib dalam Konferensi Ulama Internasional di Kairo pekan lalu.


