Menjadi Guru, Why not??

Visi pesantren Darunnajah 2 Cipining tertera dalam akronim IMAMA (Imam, Muttaqien, Alim, Mubaligh, dan Amil). Untuk mencapai hal tersebut, salah satu visi yang kini tengah dilakukan ialah ujian praktik mengajar (amaliyah tadris) bagi santri kelas 6 TMI. Dalam ujian ini, terdapat 3 tahapan, yaitu pembekalan, percontohan, dan praktik individu.

Menjadi Guru Memperbaiki Mutu

Pembekalan dilaksanakan secara serempak yang diikuti oleh 88 santri pada tanggal 16-18 Januari 2011. “ Ballighuu ‘annii walau ayatan”, hadits ini pula yang menjadi dasar mengapa Santri Darunnajah 2 Cipining dibekali untuk menjadi guru. Begitulah isi sambutan yang disampaikan oleh Ustadz Musthofa Kamal, M.Ag selaku kepala MA sekaligus Direktur TMI.

Dalam pembekalan ini, narasumber menyampaikan sifat-sifat guru dan metodologi pengajaran, dan disampaikan pula tata cara dan istilah yang digunakan dalam menulis kritik dalam mengajar, karena setiap guru praktik akan dikritisi oleh pembimbing dan teman-teman satu kelompok yang terdiri dari kurang lebih 12 orang. Adapun materi-materi yang akan diajarkan oleh guru praktik adalah materi B. Inggris dan B. Arab  seperti, Muthola’ah, Mahfudzot, Nahwu, Aqidah, Tarikh Islam, Hadits, Tafsir, Imla’.

Tahapan selanjutnya adalah percontohan yang dihadiri oleh pembimbing dan seluruh peserta yang ikut serta memberikan kritik kepada guru praktik percontohan. Guru praktik percontohan berbahasa Arab adalah Chairul Rahmat dengan materi muthola’ah, dan guru praktik percontohan berbahasa Inggris adalah Gita Marsela dengan materi Bahasa Inggris. Percontohan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Januari 2011 di auditorium pesantren.

Sehari setelah itu, tepatnya pada hari Sabtu, 22 Jan 2011 s/d Sabtu, 29 Jan 2011 adalah praktik individu di kelas sesuai dengan materi dan jam yang telah ditentukan oleh panitia. Sebelum praktik, peserta harus membuat i’dad (RPP) dan dikonsultasikan dengan pembimbing masing-masing.

Setelah praktik, guru praktik bersama kelompok dan pembimbingnya melakukan evaluasi dan sidang intiqodat (sidang kritik). Dimulai dari menulis kritik hingga membacakannya. Usai evaluasi dan sidang, pembimbing akan mengumumkan hasil kelulusan guru praktik dengan kriteria tertentu. Ada yang lulus dengan nilai cukup, baik, baik sekali, atau istimewa.

Penilaian tidak hanya dari aspek kemampuan mengajar, tapi juga keaktifan hadir, kualitas i’dad, dan kemampuan mengkritik.     “Menegangkan dan menguji mental” ungkap Diah Santika salah satu peserta Amaliyah Tadris seusai praktik mengajar.

“Persiapan yang matang dan percaya diri adalah kunci kesuksesan dalam ujian amaliyah tadris ini” kata santri kelas 6 TMI memotivasi diri. Menjadi guru, Why not??.
(Warna/Gita Marsela & Diah Santika)