Guru,ustadz,ustadzah,musrif,murabbi atau apapun itu namanya mutlak diperlukan untuk mencetak generasi terbaik

Ulama dan ilmuan besar pun dilahirkan oleh banyak guru.dalam kitab al fatur kabil jilid 3 disebutkan bahwa rasullah saw pernah mempelajari teknik pembuatan senjata muktahir waktu itu yang disebut dabbabah(sejenis tank dengan rangka kayu tebal berlapis kulit dan memiliki sejumlah roda).
Ulama ulama nusantara pun seperti syekh nawawi al minangkabawi dari sumatera barat,syekh nawawi al bantani dari banten,syekh ar rahiriry dan syekh al singkili dari aceh,syekh al maqasari dari makasar,syekh abdus shamad al falimbangi dari Palembang,syekh Muhammad arsyad al banjari dari Kalimantan,syekh wahabal bugisi dari Sulawesi,dan syekh rahman al batawi dari betawi/Jakarta.mereka semua ini pernah belajar di beberapa kota di timur tengah ,terutama mekah dan madinah.mereka mempelajari
berbagai jenis ilmu,seperti aqidah,akhlak,balaghoh,fiqh,tarikh islam,matematika,hingga
ilmu falakh atau astronomi.
Suatu ketika al falimbangi,al bugisi,al singkili,al maqasari,al banjari dan al batawi meminta izin kepada guru mereka di makkah,athallah al mashiri untuk menimba ilmu ke kairo/mesir.namun sang guru berpesan”mengejar ilmu itu penting,tapi mengajarkan ilmu itu lebih penting lagi”al mashari lalu meminta mereka semua untuk berdakwah di kampung halaman masing masing.
Setelah bekunjung ke mesir,ulama ulama itu kembali ke tanah air(kecuali al falimbangi) untuk membina umat.sebelum kembali ke kampung halaman masing masing mereka sempat singgah di betawi atau Jakarta untuk mengantarkan syekh rahman al batawi pada tahun 1773 msehi atau 1186 hijriah.
Azyumardi azra dalam bukunya “jaringan ulama timur tengah dan nusantara”ia menuturkan dalam persinggahan di jakrta al banjari yang pakar astronomi dan matematika sempat meluruskan arah kiblat masjid pekojan dan jembatan lima,Jakarta pusat.
Dari kisah diatas kita dapat mengambil hikmah betapa ulama mementingkan umat dari pada diri nya sendiri demi kemajuan dan dakwah umat islam itu sendiri.