Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari bulan-bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah disebut-sebut sebagai hari-hari terbaik dalam setahun. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih pada waktu itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah).”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (untuk berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari no. 969)
Pada bulan ini pula terdapat dua ibadah agung: ibadah haji dan ibadah qurban, keduanya sangat sarat dengan nilai pengorbanan dan ketakwaan. Ibadah haji adalah puncak dari rukun Islam, dan hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Setiap rangkaian manasik haji mengajarkan pelajaran besar tentang kepasrahan dan penghambaan, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan keluarganya.
Kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail adalah simbol pengorbanan sejati. Ketika Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya sebagai bentuk ketaatan mutlak, Ismail pun merespons dengan iman yang luar biasa. Allah mengabadikan kisah ini dalam Al-Qur’an:
“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Selain haji, ibadah qurban adalah bentuk nyata pengorbanan harta demi mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu lah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini menekankan bahwa hakikat ibadah qurban bukan semata menyembelih hewan, melainkan menumbuhkan ketakwaan, keikhlasan, dan empati sosial.
Momentum Dzulhijjah seharusnya dimanfaatkan kaum Muslimin untuk memperbanyak amalan shalih seperti puasa, dzikir, sedekah, dan mempererat ukhuwah. Puasa di sembilan hari pertama, terutama hari Arafah (9 Dzulhijjah), sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)
Dengan memahami makna ibadah dan pengorbanan dalam Dzulhijjah, umat Islam diharapkan bisa memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Bukan hanya tentang ritual, tetapi bagaimana menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dzulhijjah mengajarkan bahwa setiap pengorbanan yang dilandasi keikhlasan dan iman tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.




