Mengenal Asal Mula Kata Santri
Menu

Mengenal Asal Mula Kata Santri

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Indonesia memiliki ciri khas dalam menghadirkan dakwah dan pendidikan Islam. Lembaga pesantren merupakan contohnya. Penamaan dengan kata pesantren cenderung diterima luas di Jawa.

Adapun di Sumatra, lembaga yang sama bernama surau atau meunasah (Aceh). Di ranah Melayu luar Indonesia, umpamanya Malaysia atau Kamboja, istilah pondok lebih akrab dijumpai. Sementara itu, masyarakat Filipina dan Singapura memakai istilah madrasah.

Pondok dari kata funduq yang dalam bahasa Arab berarti ‘asrama.’ Sementara itu, kata pesantren memiliki akar kata santri. Para ahli memiliki pendapat yang beragam tentang asal mula kata ini.

Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ” santri” mempunyai beberapa pengertian, di antaranya, pertama, orang yang mendalami agama Islam, kedua orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yang saleh), ketiga, orang yang mendalami pengajiannya dalam agama Islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lainnya.

Kata Santri berasal dari Hindu?

Kata santri berasal dari ajaran Hindu. Dalam pandangan Soegarda Poerbakawatja menyebutkan prosesi yang diterpa terhadap santri disebut “pesantren”, tradisi pesantren itu bukanlah berasal dari sistem pendidikan Islam di jazirah Arab, melainkan asalnya dari agama Hindu dengan melihat seluruh sistem pendidikannya bersifat agama, guru tidak mendapat gaji, penghormatan yang besar terhadap guru.

Beliau juga menyebutkan letak tempat tersebut jauh dari keramaian atau di luar kota, indikator ini dijadikan sebagai alasan untuk membuktikan bahwa asal-usul pesantren dari Hindu. Argumen ini didukung dan dikemukakan juga oleh Van Bruinessen.

Santri juga diyakini berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa Sansekerta atau Jawa), mempunyai pengertian orang yang selalu mengikuti guru.

Santri Bahasa Tamil

Prof. Dr. Zamakhsyari Dhafier mengutip pendapat Prof. Johns menyebutkan kata “santri” berasal dari bahasa Tamil dengan pengertiannya “guru mengaji”. Di samping itu ada juga pakar bernama C.C.Berg yang menilai kata santri berasal dari kata India ‘shastri’ yang berarti “orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci”.

Seorang pakar bernama Cliford Geertz mendukung pendapat C.C.Berg tentang asal kata “santri”, C. Geertz menduga, bahwa pengertian santri mungkin berasal dan bahasa Sansekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuwan yang pandai menulis.

Pesantren Lembaga Pendidikan Tertua di Indonesia

Di Indonesia, khususnya Jawa, dalam masa transisi memudarnya pengaruh Hindu-Buddha sekaligus menyebarnya dakwah Islam, para kiai antara lain Wali Songo mengislamkan sistem lembaga pendidikan warisan dua agama tersebut. Kemudian, mereka mengembangkan sistem yang lebih islami yakni pesantren seperti yang kita kenal sampai sekarang.

pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara. Sejumlah sejarawan menyebut eksistensi pesantren terlebih dahulu hadir sebelum kedatangan bangsa Eropa di Nusantara pada abad ke-16.

Istilah pesantren merujuk pada tempat belajar bagi kaum intelektual Muslim yang dinamakan santri. Mereka mewarisi dan memelihara keberlanjutan tradisi keilmuan Islam sehingga sampai kepada dakwah Rasulullah SAW.

Mereka pada umumnya mempelajari ragam keilmuan, mulai dari tata bahasa Arab, nahwu dan sharaf, tafsir dan membaca Alquran (qiraat), tauhid, fiqih empat mazhab, khususnya Imam Syafii, akhlak, mantiq, sejarah, hingga tasawuf. Selain itu, aksara Jawi, yakni huruf Arab dengan bahasa Melayu, kian memantapkan signifikansi pesantren sebagai pusat transfer ilmu yang menjaga corak khas Nusantara di tengah-tengah dunia Islam.

Dalam corak pendidikan pesantren, setidaknya ada beberapa ciri khas, antara lain, hubungan yang akrab antara kiai atau pendiri pesantren itu dan para santri. Kemudian, kehidupan yang sederhana atau mendekati zuhud, kemandirian, gotong royong, pemberlakuan aturan agama secara ketat, serta kehadirannya di tengah masyarakat sebagai pemberi solusi dan mengayomi, alih-alih eksklusif dan berjarak. Selain itu, teknik pengajaran juga terbilang unik.

Adanya sistem halaqah serta hafalan atas teks-teks dasar keilmuan agama, merupakan beberapa contoh. Ada lima unsur dasar dalam setiap pesantren, yakni asrama, masjid, para santri, pengajaran kitab-kitab kuning, serta figur sentral kiai. Ketokohan kiai itulah yang membuat sebuah pesantren menjadi ikon daerah tempatnya berada.

(dn.com/adam)

 

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait