Kelas merupakan tempat belajar para siswa di seluruh sekolah di dunia. Berbagai macam kelas maupun sistem yang berbeda menjadi sorotan para akademisi untuk menemukan cara belajar yang terbaik bagi para siswa. Ada sistem kelas menetap, yang merupakan sistem moving teacher, yakni siswa tetap menetap di kelas, sedangkan gurunya yang berpindah-pindah dari satu kelas ke kelas yang lain, sistem ini lazim digunakan di sekolah negeri di seluruh Indonesia. Ada juga sistem Moving Class, yakni para siswa berpindah kelas dari satu kelas ke kelas yang lain lagi, sedangkan guru menetap di kelas tersebut dan sistem ini lazim digunakan di sekolah-sekolah berstandar Internasional.
Ada juga kelas yang bertempat di luar ruangan, kelas tersebut terdapat di beberapa sekolah yang memang memiliki sistem belajar di luar kelas, dan biasanya terdapat di sekolah-sekolah yang berada jauh letaknya dari pusat perkotaan. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi belajar para siswa serta membuat siswa menjadi berfikir lebih fresh.
Kelas pun menjadi tempat belajar bagi para siswa dalam zaman modern ini, dan tidak sama seperti zaman dulu yang menjadikan tempat-tempat peribadatan sebagai tempat belajar, tempat tersebut antara lain adalah masjid, mushalla, langgar, gereja, pura dan vihara sebagai pusat pendidikan.
Dari kelas, para siswa diharuskan untuk menuntut ilmu dan membawa pulang ilmu tersebut untuk dipraktekkan dan diajarkan kembali kepada orang lain, dalam istilah lain seluruh siswa diwajibkan untuk membawa oleh-oleh dari kelas. Ustadz Tamim, S.Pd, Pengajar Matematika di Madrasah Aliyah Darunnajah mengatakan “Jika kalian pergi ke kelas, harus membawa oleh-oleh dari kelas, jika tidak ya sama saja bohong” tuturnya. Oleh-oleh tersebut merupakan ilmu yang telah dituntut oleh para santri yang juga merupakan ilmu yang telah diajarkan oleh para guru. Maka dari itu, teruslah bersungguh-sungguh menuntut ilmu dimanapun dan kapanpun berada.
Rasulullah saw. bersabda:
“Barang siapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia akan berada di jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Tirmidzi)