Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Mari Kita Menjaga Shalat”
Tingkatkan ibadahmu. Kalau kamu ke masjid, shalat dulu. Ketika nanti kita dibangkitkan dari tanah setelah Kiamat, manusia berbondong-bondong untuk menuju suatu tempat di mana manusia akan ditimbang amal perbuatannya. Pada saat itu matahari tidak seperti sekarang panasnya. Tapi lebih panas lagi karena lebih dekat lagi. Kondisi orang bermacam-macam; ada yang berenang dengan keringatnya, ada yang keringatnya sampai ke lutut, ada yang sampai ke dada, ada yang tenggelam dengan keringatnya sendiri. Panasnya bukan main. Pada saat itu ternyata di kejauhan ada satu tempat yang bisa digunakan untuk berlindung dari panasnya matahari dan peluh manusia itu. Tapi sayang ketika sudah berusaha dengan mati-matian untuk menggapai tempat tersebut yang nampaknya sejuk, adem, terasa nyaman, ternyata di situ hanya untuk orang-orang yang hatinya terikat dengan masjid. Itu adalah tempat orang-orang yang rajin shalat di masjid.
Ketika bepergian anak putri harus membawa mukena di mana kamu akan shalat nanti. Ketika pergi jauh kira-kira melewati waktu shalat kamu harus membawa mukena. Anak putra kalau bepergian pakai celana yang bersih, jangan celana yang justru tidak tampak kotornya. Anak muda sekarang senang memakai celana yang tidak bisa kotor katanya. Justru kita orang Islam ini menggunakan yang tampak kalau kotor sehingga kita tahu dan langsung ganti. Jangan seperti orang yang maunya seminggu tidak dicuci tidak kelihatan kotornya. Karena orang Islam itu cinta kebersihan, dan kita perlu menjaga kesucian untuk shalat.
Inilah anak-anak sekalian, shalat itu jangan dianggap main-main. Itu penting sekali untuk kamu. Kamu sangat memerlukan shalat, karena shalat adalah sarana bagi kita untuk memohon rizki, ampunan dosa, serta kasih sayang Allah Swt. Orang yang tidak mau shalat berarti orang itu tidak mau rizki, tidak mau kasih sayang dari Allah Swt., dan tidak perlu ampunan. Na’udzu billah.
Orang tidak ingin masuk surga dipaksa masuk surga itu susah, giringnya susah. Keinginan kamu harus dibangkitkan. Kemauan kamu di dalam hidup ini harus dibangkitkan. Jangan menjadikan dirimu sebagai orang yang pantas diberi oleh manusia. Kalau kamu menjadikan dirimu sebagai orang yang minta-minta kepada manusia, menjadi orang yang pantas diberi oleh manusia, maka kamu adalah pengemis. Jangan jadikan dirimu sebagai seorang pengemis. Mengemis pekerjaan, melamar pekerjaan ke sana kemari, ditolak. Kalau kita menjadi orang yang bertakwa, tanpa kita harus mengemis, kita akan mendapatkan pekerjaan.
Hidup kamu harus lebih sukses daripada orang tua kamu. Dan kamu patut bersyukur jika sekiranya orang tua kamu adalah orang yang rajin shalatnya, rajin ibadahnya. Inysa Allah, kamu tidak akan didhalimi oleh mereka. Kamu akan didukung terus oleh mereka. Bahkan kamu akan didoakan oleh mereka agar kamu menjadi orang yang lebih baik daripada mereka. Kalau kamu melihat bapak kok seperti ini, ibu kok seperti ini, maka kamu harus tetap sayang kepada mereka, kamu ingatkan dengan pelan-pelan, dengan cara yang bijak.
Tidak ada gunanya bekerja mati-matian kalau kita tidak melakukan shalat. Akhirnya berapa pun rizki yang diterima tidak ada berkahnya. Rizki yang tidak ada berkahnya ibarat air yang dituangkan ke dalam sebuah keranjang. Keranjang kan tempat juga. Diisi berapa banyak air untuk bisa penuh? Untuk sebuah keranjang perlu air berapa ember? Semilyar ember air pun tidak akan membuatnya penuh. Kalau kita tidak melakukan ibadah, akan seperti itu. Kita mendapatkan uang berapa pun, uang tersebut akan seperti air masuk ke keranjang itu, tidak ada yang tersisa, tidak ada yang bermanfaat, habis semuanya, bahkan keranjangnya ikut terguling, kebanjiran, terbawa air karena kebanyakan airnya.
Lihat orang main judi. Mungkin sekali pasang karena nasib lagi untung ia bisa mendapatkan 10 juta. Berapa lama uang 10 juta itu akan bertahan? Ternyata 1 hari pun sudah amblas; teman-temannya datang meminta, anaknya menangis minta dibelikan ini itu, satu hari sudah amblas. Katanya, “Nanti kalau saya menang, saya akan beli rumah.” Belum sempat beli rumah, uangnya sudah habis.
Anak-anak sekalian, selama ini kita berada di lingkungan pesantren yang berada di bawah satu komando. Semuanya satu. Kita shalat, shalat semuanya. Yang harus dilakukan dan apa yang dilarang juga jelas. Tidak ada macam-macam di lingkungan ini karena memang setiap kegiatan sudah ada programnya. Ketika nanti kamu terjun ke masyarakat, kamu akan mendapatkan pemandangan atau menjumpai situasi dan kondisi yang jauh berbeda.
Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Mari Kita Menjaga Shalat”