Makna Hari-hari Dalam Islam
Menu

Makna Hari-hari Dalam Islam

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Kenapa Hari Ahad dirubah Menjadi Hari Minggu?

Hari ini adalah hari Ahad, hari pertama dalam bahasa Arab, namun pada kalender nasional diganti penyebutannya dengan hari Minggu yang merupakan bahasa saduran dari bahasa Portugis

“Domingo”, yang berarti hari Tuhan. Dalam literature lain disebutkan bahwa Domingo adalah nama seorang Pendeta Kristen, yang pada hari Ahad selalu melakukan Kebaktian Gereja dan aktifitas rutin mingguan.

blankIni berdasar-kan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini di-eja sebagai “Dominggu”. Baru sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai “Minggu” hingga sekarang.Sebagai seorang muslim selayaknya kita tetap menyebutnya dengan nama Ahad.

Kata minggu (m dalam huruf kecil) berarti pekan, satuan waktu yang terdiri dari tujuh hari. Terlepas dari apa pun penyebutannya, hari Ahad atau Minggu, Sunday atau Aditya, Raditya, Redite atau Dite yang diambil dari bahasa Sansekerta dan berarti matahari, ternyata hari tersebut mengandung pengertian yang sama dalam hal Ketuhanan.

Dalam Islam, Ahad artinya satu (dalam bahasa Arab), yang bermakna bahwa Tuhan manusia itu hanya Satu atau Esa, yaitu Allah Swt. Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya, Dialah yang menciptakannya, merawatnya, menjaganya bahkan mungkin suatu masa nanti menghancurkannya.

Bangsa Portugis selama kurang lebih 85 tahun (1511 M – 1596 M) berinteraksi dengan Nusantara, peninggalannya yang masih membekas sampai hari ini adalah dirubahnya hari Ahad menjadi Minggu pada penanggalan nasional. Ada tujuh hari dalam penanggalan nasional yang berasal dari bahasa Arab, satu yang sudah dirubah yaitu hari Ahad menjadi Minggu.

Berdasarkan artinya mari kita urutkan nama-nama hari tersebut;

  • Ahad (Bahasa Arab: Ahad) = Satu / Kesatu. Menurut penjelasan Nabi saw ketika ditanya tentang makna nama-nama hari oleh para sahabatnya; Hari Ahad adalah hari yang baik untuk bertanam dan membuat binaan, kerana pada hari Ahad Allah memulai menciptakan dunia dan membangunnya.
  • Senin (Bahasa Arab: Isnain) = Dua / Kedua. Hari Isnin adalah hari yang baik untuk musafir dan untuk berniaga, kerana bahawasanya pada hari Isnin Nabi Syith telah musafir dalam urusan perniagaan dan beliau banyak mendapatkan keuntungan dari perniagaannya.
  • Selasa (Bahasa Arab: Tsalasa ) = Tiga / Ketiga. Hari Selasa adalah hari berdarah, kerana pada hari itu, bermulanya Siti Hawa berhaid, dan pada hari itu pula mula-mula terjadinya pembunuhan anak Nabi Adam iaitu Qabil membunuh Habil.
  • Rabu (Bahasa Arab: Arbaa)= Empat / Keempat. Hari Rabu adalah hari kebinasaan yang berkekalan, kerana pada hari itu Allah SWT menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Kaum Samud dan kaum ‘Ad yang mereka itu adalah kaum Nabi Saleh, juga di binasakan oleh Allah pada hari Rabu.
  • Kamis (Bahasa Arab: Khamsa) = Lima / Kelima. Hari Khamis adalah hari yang baik untuk menuntut sekalian hajat, kerana bahawasanya Nabi Ibrahim AS pergi ke istana raja Mesir, maka raja Mesir menunaikan hajatnya dan mengembalikan isterinya Siti Sarah.
  • Jum’at (Bahasa Arab: Jumu’ah)= Hari Ramai /Berkumpul/Berjama’ah. Hari Jumaat adalah hari yang baik untuk mengadakan perhubungan dan pernikahan.
  • Sabtu (Bahasa Ibrani: Sabbat)= Hari Berhenti atau Terakhir. Hari Sabtu adalah di namakan sebagai hari tipu daya, kerana pada hari itu orang-orang kafir Quraish telah mengadakan tipu daya pada perjanjian Darrun Nadwah.

Keistimewaan Hari Jumat

Diantara ke-7 hari tersebut, ada satu hari yang di agungkan dalam Islam, yakni hari Jumat. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw: “Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi umat Islam …” (HR. Ibnu Majah). Tentang kebesaran hari Jumat ini Paling sedikit didasarkan pada alasan-alasan berikut ini:

  1. Satu-satunya nama hari yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an adalah Jum’at, yakni surat al-Jumu’ah [62] yang terdiri atas: 11 ayat, 180 kata, dan 748 huruf. Di luar Jum’at, tidak ada hari lain yang dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an. Bahkan pada umumnya disebutkan pun tidak dalam Al-Qur’an.
  2. Berbeda dengan enam hari lainnya yang diposisikan sebagai ‘anggota-anggota’ hari, Jum’at dijuluki sebagai penghulu atau pemimpin hari. Gelar sayyid al-usbû’ (Pemimpin Minggu) atau saayid al-ayyâm (penghulu hari),
  3. Pada hari Jumat ada Shalat yang namanya sesuai dengan nama harinya, shalat tersebut wajib dilaksanakan secara berjamaah. Pensyariatan pelaksanaan shalat Jum’at harus dilakukan secara berjamaah, dipastikan memiliki nilai-nilai positif tersendiri. Paling tidak dalam rangka mempererat tali silaturrahmi, persaudaraan, persatuan dan kesatuan umat Islam.
  4. Bagi kaum Muslimin, hari Jum’at dipastikan memberikan penambah pengetahuan tentang keagamaan, di samping merupakan hari-hari pemupukan persaudaraan/ukhuwah. Penyampaian khutbah Jum’at oleh ahli-ahli ke-Islam-an dan umumnya disampaikan orang-orang yang sejatinya menyandang predikat saleh, akan memberikan peningkat-an kecerdasan bagi umat Islam. Baik itu kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual. Paling tidak bagi mereka yang selalu mengikuti jamaah shalat Jum’at.
  5. Banyak riwayat yang menyebutkan kelebihan Jum’at dibandingkan dengan hari lain, terutama berkenaan dengan berbagai macam dzikir dan amalan-amalan tertentu yang memiliki nilai lebih dibandingkan jika dilakukan di hari lain.

Keistimewaan lain, pada hari Jum’at ada suatu waktu jika seseorang memohon dan berdoa kepada Allah, maka niscaya doa dan permohonan itu akan dikabulkan (disebut waktu mustajab). Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah: “Di hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.”

Hari Jum’at juga merupakan hari pengampunan dosa. Kaum muslim yang melaksanakan shalat Jum’at dan menyimak dengan kecerdasan emosional, maupun kecerdasan moral dan bahkan kecerdasan sosial. Dosa-dosa kita akan diampuni sampai Jum’at berikutnya, asal kita tidak melaksanakan dosa besar.

Yang lebih istimewa lagi adalah hari Jum’at merupakan Yaumil Mazid, hari saat Allah menampakkan diri kepada kaum mukminin di surga nanti. Allah berfirman: “Mereka di dalam surga memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya [QS 50:35]. Anas bin Malik mengomentari ‘tambahannya’ dalam ayat ini: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum’at”.

 

============================

Disampaikan pada Ta’lim Shubuh oleh Ustadz Deni Rusman

Dari berbagai Sumber

Post by: WARDAN/@abuadara

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Kenikmatan Yang Membuat Manusia Tertipu

Islam menempatkan waktu sebagai suatu perkara penting bagi kehidupan manusia, jika tak dimanfaatkan dengan baik, maka kerugianlah yang akan di dapatkan. Waktu merupakan salah satu