Kehidupan keseharian dewan guru Darunnajah Cipining sarat dengan berbagai aktifitas keummatan yang meliputi; pendidikan, pengajaran, pengasuhan dan pengkaderan. Disamping disibukkan dengan kewajiban mengajar baik secara formal maupun non formal, berbagai macam pertemuan dan musyawarah, setiap guru Darunnajah Cipining juga tetap berupaya menyempatkan diri meningkatan kualitan SDM, wawasan dan pengetahuan. Hal tersebut antara lain ditempuh dengan berpartisipasi aktif dalam kegiatan Majlis Ilmi yang dilaksanakan ba’da Shubuh di ruangan musyawarah mingguan di sekretariat pesantren. Sabtu dan Ahad pagi untuk guru-guru Tahfidz Alqur’an dan santri cilik, Senin untuk para guru pria bujang, Selasa untuk para guru wanita lajang, Rabu untuk forum diskusi antara kelompok hari senin dan selasa, adapun kamis pagi merupakan jadwal para guru yang sudah berkeluarga.

Seiring dengan keingingan pimpinan pesantren untuk menjadikan forum majlis limi semakin berpotensi, bahkan diharapkan akan melahirkan para kyai yang kompeten dalam berbagai disiplin pengetahuan, ruangan tersebut dalam beberapa bulan terakhir ini sudah dilengkapi dengan fasilitas presentasi berupa in-focus. Beberapa guru juga sudah mulai membiasakan diri menggunakan fasilitas tersebut untuk menyampaikan presentasi materi tertentu di depan dewan guru lainnya, yang juga senantiasa didampingi oleh pimpinan pesantren. Dengan berbagai tampilan slide yang menarik, menambah tingkat perhatian peserta Majlis Ilmi yang kemudian dengan semangat dan cermat merespon penyampaian nara sumber, baik berupa pertanyaan, tanggapan maupun penambahan pengetahuan terkait bahsan.

Seperti pagi ini, Kamis, 10 Maret 2011, Ust. Muhammad Mudatstir, S.H.I dengan tampilan power point berlatar-belakang hitam dan segitiga bergaris-gris nan berwarna-warni di sebelah kiri atas, mempresentasikan materi dengan judul: Sure, I’m Sure. Alumni TMI Darunnajah Cipining tahun 1999 tersebut mengupas syair terkenal Hasan Al Bashri yang berjudul ‘Aku Tahu’. Dengan didasari dalil dari Al Qur’an dan Hadits, staf TU Keuangan ini mengulas konsep jaminan rizki setiap manusia, ketentuan jodoh masing-masing individu, keharusan bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban dan amal-amal sholeh, belajar merasakan muraqabatullah terhadap diri kita sehingga malu berbuat maksiat dan pentingnya mempersiapkan diri menjemput ajal yang pasti datang.

Seusai pemaparan, giliran para pendegar untuk menyampaikan tanggapan. Diawali oleh ust. Muhlisin Ibnu Muhtarom yang menyampaikan pentingnya redifinisi rezaki jangan hanya dimaknai materi, namun juga kefahaman, seperti tersurat dalam do’a masyhur; Rabbi zidnii ‘ilman warzuqnii fahman, diteruskan oleh ust. Saeful Hadi Scada, S.Pd.I, M.T yang menekankan pentingnya keyakinan untuk sukses. Selanjutnya pertanyaan dari Ust. Fathul Mu’min Wasyraf, S.Pd.I tentang kaitan ketentuan jodoh dan perceraian yang dijawab oleh ust. Faruq Abshari, S.Pd.I dengan penjelasan Taqdir Mu’allaq (taqdir yang masih bisa dirubah dengan usaha) dan Taqdir Mubram (taqdir yang sudah bisa dirubah/ketentuan final dari Allah SWT). Pertanyaan berikutnya datang dari ust. Trimo Abu Labib, S.Pd.I terkait sikap dan perasaan hati yang terkadang muncul dalam diri seseorang ketika melihat kenimatan / rizqi orang lain, pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh ust. M. Mufti Abdul Wakil, S.Pd.I dengan penjelasan Hasad, yaitu iri dengan kenikmatan orang lain dan mengharapkan hilang atau pindahnya nikmat tersebut dari orang lain, hasad ini ini tercela. Adapun Ghibthah, keinginan untuk menyamai atau juga memiliki seperti kenikmatan yang ada orang lain tanpa adanya rasa iri dan dengki, maka hal tersebut tidak tercela, bahkan merupakan stimulus untuk maju dan bekerja keras. Majlis Ilmi ini kemudian ditutp dengan do’a Kaffaratul Majlis dan salam menjelang pukul 06.00 wib, dan segenap dewan guru segera bersiap-siap melaksanakan aktifitas jihadnya via pendidikan dari pukul 07.00 – 13.40 wib!. (WARDAN/ Mr. MIM)