Laporan Dauroh Ummul Quro Tahun 2025: Napak Tilas Dakwah Nabi dari Hudaibiyah menuju Gua Hira Laporan Dauroh Ummul Quro Tahun 2025: Napak Tilas Dakwah Nabi dari Hudaibiyah menuju Gua Hira

Laporan Dauroh Ummul Quro Tahun 2025: Napak Tilas Dakwah Nabi dari Hudaibiyah menuju Gua Hira

Makkah, 11 Agustus 2025— Rombongan jamaah memulai perjalanan spiritual ba’da Ashar, melintasi sejumlah tempat bersejarah yang menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Rangkaian perjalanan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan ziarah batin menembus waktu, dari Hudaibiyah hingga tempat turunnya wahyu pertama di Gua Hira.

Destinasi pertama adalah Hudaibiyah, lokasi bersejarah di mana Rasulullah ﷺ dan para sahabat menandatangani Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah. Meski kala itu perjanjian terasa merugikan, sejarah membuktikan inilah titik balik menuju kemenangan Islam. Di kawasan ini pula berdiri Masjid Asy-Syajarah, kini menjadi miqat bagi jamaah umrah. Suasana sore yang tenang memperkuat nuansa kontemplatif para peziarah.

Perjalanan berlanjut ke Bukit Tsur, tempat bersembunyinya Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq selama hijrah ke Madinah. Meski tidak sempat mendaki hingga ke Gua Tsur, pandangan dari kaki bukit saja sudah cukup menggetarkan hati, membayangkan ketegangan malam-malam penuh pengharapan dan tawakal.

Saat malam mulai menyelimuti Makkah, rombongan singgah di Masjid Ar-Razhi untuk shalat Maghrib dan Isya secara jama’. Semburat lampu kuning menciptakan atmosfer damai sebelum perjalanan panjang malam dilanjutkan.

Dari sana, rombongan bergerak menuju Mina, wilayah yang biasa menjadi tempat bermalam (mabit) para jamaah haji. Di tengah lembah, berdiri Masjid Al-Khaif, tempat yang diyakini pernah menjadi lokasi shalat 70 nabi. Di dekatnya, bangunan modern Jamarat menjulang — tempat pelontaran simbolik terhadap setan, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS. Di sepanjang jalan, tampak Mina Palace, tenda megah untuk para tamu kerajaan, menjadi pengingat bahwa semua manusia setara di hadapan Tuhan.

Selanjutnya, bus mengarah ke hamparan luas Padang Arafah. Di tengah padang, berdiri kokoh Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa, sekaligus lokasi Rasulullah ﷺ menyampaikan Khutbah Wada’, khutbah perpisahan yang sarat pesan persatuan dan kemanusiaan. Meski tidak dalam musim haji, para jamaah seolah bisa membayangkan jutaan manusia berpakaian ihram, menengadahkan tangan dalam wuquf.

Rute kemudian membawa rombongan ke utara, menuju Jabal Nur. Di sinilah Gua Hira berada, tempat Rasulullah ﷺ pertama kali menerima wahyu dari Malaikat Jibril. Waktu yang terbatas tidak memungkinkan untuk mendaki, namun memandang jalur menuju puncak saja sudah cukup menggugah kenangan tentang peristiwa sakral turunnya ayat pertama: “Iqra’…”

Perjalanan spiritual ini ditutup di Museum Wahyu , yang terletak tidak jauh dari kaki Jabal Nur. Di dalamnya, pengunjung disuguhkan replika Gua Hira, manuskrip kuno, serta diorama visualisasi proses turunnya wahyu, membuat pengalaman sejarah semakin hidup dan mengesankan.

Perjalanan malam itu bukan hanya menelusuri lokasi-lokasi bersejarah, melainkan sebuah pengembaraan spiritual yang memperdalam cinta kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat iman, dan membangkitkan semangat untuk terus berjalan di jalan yang diridhai Allah SWT.