
Mukomuko, Bengkulu — Tahun ajaran baru di Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 tidak diawali dengan sekadar pembagian jadwal mengajar atau penyusunan administrasi pendidikan. Ia dibuka dengan sesuatu yang jauh lebih mendasar: meluruskan niat, menyatukan langkah, dan menghidupkan kembali ruh perjuangan.
Itulah makna yang tersirat dalam Khutbatul ‘Arsy Guru, sebuah tradisi ilmiah sekaligus ruhani yang menjadi warisan pendidikan Darunnajah. Di hadapan seluruh guru dan tenaga kependidikan, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6, Ustadz H. Abadi, Lc., M.Pd., mengajak seluruh peserta kembali merenungkan satu pertanyaan besar: Mengapa kita memilih jalan menjadi guru di pesantren?
Bukan sekadar untuk mengajar. Bukan sekadar memenuhi kewajiban. Tetapi untuk menjadi mata rantai perjuangan yang akan melahirkan generasi penjaga agama dan pembangun peradaban.
“Pondok ini tidak sedang mencari guru yang hanya pandai berbicara di depan kelas. Pondok membutuhkan guru yang mampu menjadi teladan, menjadi inspirasi, dan menjadi cahaya di tengah zaman yang semakin kehilangan arah,” tegas Ustadz H. Abadi.
Kalimat itu seketika mengubah suasana ruangan. Khutbatul ‘Arsy tidak lagi terasa sebagai agenda seremonial tahunan. Ia berubah menjadi ruang muhasabah, tempat setiap guru bercermin tentang kualitas niat, keikhlasan, dan pengabdiannya.
Khutbatul ‘Arsy Mengembalikan Ruh Sebelum Memulai Langkah
Dalam tradisi pesantren, setiap awal perjalanan harus dimulai dengan penyamaan arah. Sebab, sebesar apa pun sebuah lembaga pendidikan, ia tidak akan pernah melahirkan generasi hebat apabila para pendidiknya berjalan dengan visi yang berbeda-beda.
Karena itulah Khutbatul ‘Arsy bukan sekadar forum penyampaian materi. Ia adalah proses menyatukan frekuensi hati, memperkuat komitmen perjuangan, dan meneguhkan kembali filosofi bahwa pendidikan adalah jalan panjang membangun peradaban.
Dalam pemaparannya, Ustadz H. Abadi, Lc., M.Pd. mengingatkan bahwa seorang guru pesantren tidak pernah bekerja untuk sekadar menghasilkan angka-angka pada rapor. Guru sedang menanam nilai, membentuk karakter, dan mewariskan akhlak yang kelak akan hidup jauh setelah dirinya tiada.
“Seorang guru boleh saja dilupakan namanya, tetapi jangan sampai hilang jejak kebaikannya. Sebab murid yang saleh adalah autobiografi terbaik seorang guru.”
Pesantren Tidak Dibangun oleh Orang Hebat, tetapi oleh Orang-Orang yang Ikhlas
Dengan gaya penyampaian yang reflektif, beliau mengajak seluruh guru kembali melihat sejarah lahirnya pesantren.
Tidak ada pesantren besar yang dibangun oleh orang-orang yang mengejar kenyamanan. Semua lahir dari keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, dan keyakinan bahwa mendidik manusia adalah investasi paling mulia.
“Pesantren ini tidak diwariskan kepada kita dalam bentuk kemewahan. Yang diwariskan adalah nilai perjuangan. Maka tugas kita bukan hanya menjaga gedungnya, tetapi menjaga ruhnya.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 bukan pertama-tama terletak pada bangunan fisiknya, melainkan pada kualitas manusia yang menghidupkannya setiap hari.
Guru Boleh Mengajar dengan Lisan, tetapi Mendidik Harus dengan Keteladanan
Dalam sesi yang banyak menyentuh hati peserta, Ustadz H. Abadi menegaskan bahwa ilmu akan mudah dilupakan apabila tidak disertai keteladanan.
Santri mungkin lupa isi pelajaran yang diajarkan hari ini. Namun mereka akan selalu mengingat bagaimana gurunya bersikap, berbicara, menghormati orang lain, menjaga waktu, dan memperlakukan sesama.
Karena itu, beliau mengajak seluruh guru menjadikan dirinya sebagai “kitab hidup” yang dapat dibaca oleh para santri setiap hari.
“Santri mendengar apa yang kita ucapkan. Tetapi mereka lebih percaya kepada apa yang kita lakukan.”
Panca Jiwa Nafas yang Tidak Boleh Pernah Hilang
Sebagai bagian dari keluarga besar Darunnajah, seluruh aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 dibangun di atas nilai-nilai Panca Jiwa Pondok: keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Menurut beliau, nilai-nilai tersebut bukan slogan yang dipasang di dinding, melainkan karakter yang harus hadir dalam setiap keputusan, setiap interaksi, dan setiap pengabdian seorang guru.
“Panca Jiwa bukan untuk dihafal. Panca Jiwa harus menjadi cara kita berpikir, cara kita bekerja, dan cara kita melayani umat.”
Mengajar Adalah Ibadah, Mendidik Adalah Dakwah
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tantangan pendidikan semakin kompleks. Teknologi berkembang pesat, informasi mengalir tanpa batas, dan karakter generasi terus berubah.
Namun, menurut Ustadz H. Abadi, satu hal yang tidak boleh berubah adalah ruh seorang pendidik.
Guru pesantren harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, memperkuat profesionalisme, sekaligus menjaga keikhlasan dalam setiap pengabdian.
“Jika profesi lain mengejar keuntungan, maka guru pesantren mengejar keberkahan. Sebab setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan terus hidup, bahkan ketika pemiliknya telah tiada.”
Beliau juga mengingatkan bahwa setiap langkah seorang guru sesungguhnya adalah dakwah yang tidak selalu dilakukan melalui mimbar, tetapi melalui keteladanan sehari-hari.
Menjadi Mercusuar di Tengah Gelombang Perubahan
Di penghujung penyampaian, suasana kembali hening ketika beliau mengibaratkan guru sebagai mercusuar.
Mercusuar tidak pernah mengejar kapal. Ia hanya berdiri tegak, memancarkan cahaya, dan menunjukkan arah bagi siapa pun yang membutuhkan.
Demikian pula guru pesantren.
Di tengah derasnya arus globalisasi, guru harus tetap menjadi cahaya yang menuntun santri menuju ilmu, akhlak, dan nilai-nilai Islam.
“Jangan pernah lelah menjadi cahaya. Sebab dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan orang-orang yang mampu menerangi.”
Mengawali Tahun dengan Niat, Mengakhirinya dengan Keberkahan
Khutbatul ‘Arsy Guru akhirnya tidak hanya menjadi pembuka kalender akademik, tetapi juga pembuka kesadaran bahwa setiap ruang kelas adalah ladang amal, setiap santri adalah amanah, dan setiap guru adalah penjaga estafet perjuangan.
Melalui momentum ini, seluruh guru Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6 kembali dipersatukan dalam satu tekad: menghadirkan Pendidikan Islam yang unggul, melahirkan generasi berakhlak mulia, berilmu luas, serta siap menjadi pelopor perubahan bagi umat dan bangsa.
Sebagaimana ditutup dengan penuh penekanan oleh Ustadz H. Abadi, Lc., M.Pd.
“Mari kita bekerja bukan sekadar dengan standar manusia, tetapi dengan standar langit. Karena yang kita bangun hari ini bukan hanya sekolah, melainkan peradaban. Yang kita didik bukan hanya santri, tetapi calon ulama, pemimpin, dan pewaris perjuangan Rasulullah ﷺ. Ketika niat lurus, langkah akan kokoh. Ketika hati bersatu, insya Allah lahirlah generasi yang mengubah dunia.”
Khutbatul ‘Arsy akhirnya mengingatkan seluruh guru bahwa mengajar mungkin hanya berlangsung beberapa jam setiap hari. Namun mendidik adalah jejak yang akan terus hidup, bahkan ketika nama seorang guru telah lama tak lagi disebut. Itulah kemuliaan pengabdian. Itulah jalan perjuangan. Dan itulah ruh yang terus dijaga oleh Pondok Pesantren Annakhil Darunnajah 6.


Khutbatul ‘Arsy Guru Pondok pesantren Annakhil Darunnajah 6 Menyatukan Hati, Meneguhkan Pengabdian, Membangun Peradaban