Senin, 18 Muharram 1447H / 14 Juli 2025 M, Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta kembali menggelar Khutbatul ‘Arsy babak II yang diadakan diaula Al-Ghazali. Acara ini diikuti oleh 250 guru yaitu asatidz dan asatidzah dari berbagai unit pendidikan di lingkungan Darunnajah.
Pada kesempatan ini, K.H. Mad Roja Sukarta hadir sebagai pembicara utama. Dan mengajak para guru Darunnajah menjadi pejuang, bukan pecundang . Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga niat, pengabdian, dan mentalitas pejuang dalam membangun serta mengembangkan Darunnajah.
“Betapa beratnya menjadi orang yang gila hormat, tapi betapa indahnya menjadi orang yang menghormati orang lain,” ungkap K.H. Mad Roja Sukarta mengawali nasihatnya.
Beliau juga menekankan bahwa siapa pun, tanpa memandang agama dan latar belakangnya, jika memuliakan seorang ibu, maka itu setara dengan memuliakan ibu kandungnya sendiri.Selain itu, beliau mengingatkan para guru tentang pentingnya memperjuangkan Darunnajah dengan penuh kesadaran dan pengorbanan.
“Memperjuangkan Darunnajah itu adalah satu paket. Kalau mau ikut berjuang, ayo! Tidak ada paksaan bagi hak privasi seseorang, tapi perlu diingat bahwa mengurus Darunnajah ini tidaklah mudah.”ujarnya.
Beliau juga menegaskan agar setiap pribadi yang datang ke Darunnajah tidak hanya menambah jumlah, tapi juga memberi kontribusi nyata. Kita berkumpul di sini bukan untuk melemahkan, tetapi untuk saling menguatkan. Jangan pernah menumbuhkan mental sampah karena itu akan merusak. Jadilah pejuang, bukan pecundang. Kunci-Kunci Pengabdian di Pondok menurut beliau adalah esensi nilai pondok yang tercermin dalam Panca Jiwa Pondok sebagai nilai dasar pengabdian. Panca Jangka & Panca Bina sebagai pedoman dalam perjuangan membangun pondok.
Tatkala kita menghadapi permasalahan, jangan jadi pecundang. Jadilah pejuang yang sejati. Memperjuangkan Darunnajah itu perlu misi besar, perjuangan besar, dan risiko yang besar pula. Beliau juga mengingatkan bahwa keterampilan bukan sekadar diajarkan, tetapi harus lahir dari mental yang terampil dan siap berjuang. Keterampilan hanya dikuasai oleh orang-orang kuli. Kita harus mendidik mental yang tangguh. Yakinlah, jika kita ingin membela agama Allah, maka pertolongan-Nya pasti datang.
Di akhir tausiyahnya, K.H. Mad Roja Sukarta berpesan untuk memberikan kesempatan agar Darunnajah terus memberi ruang bagi generasi muda untuk berkembang dan melanjutkan perjuangan para pendiri. Dan Darunnajah harus menyiapkan generasi muda untuk menjadi pejuang sejati. Semua yang kita lihat dan rasakan di sini adalah bagian dari perjalanan kehidupan.
Acara ini ditutup dengan doa bersama dan harapan agar para guru dapat terus berkomitmen menjadi bagian penting dalam perjuangan dan pengabdian di Pondok Pesantren Darunnajah.
