Khutbatul Arsy Babak Kedua:  Penyampaian Nilai Kepesantrenan di Ruang Kelas Khutbatul Arsy Babak Kedua:  Penyampaian Nilai Kepesantrenan di Ruang Kelas

Khutbatul Arsy Babak Kedua: Penyampaian Nilai Kepesantrenan di Ruang Kelas

Sabtu pagi, 8 Agustus 2026, ruang-ruang kelas berubah fungsi. Bukan tempat menghafal rumus atau mengurai kaidah nahwu, melainkan ruang dialog tentang nilai. Seluruh santri, dari kelas 1 hingga kelas 6 Tarbiyatul Mu’allimin al-Islamiyah (TMI), mengikuti Pendalaman Khutbatul ‘Arsy di kelas masing-masing. Kegiatan ini digerakkan oleh TMI bersama para wali kelas dan asistennya. Tujuannya jelas: menuntaskan pesan-pesan yang belum sempat tersampaikan pada kuliah umum Khutbatul ‘Arsy 3–4 Agustus lalu.

Kuliah umum itu berlangsung di ruang besar, dihadiri ribuan pasang mata sekaligus. Formatnya massal, waktunya terbatas, dan pesannya padat. Ada nilai yang tersampaikan utuh, ada pula yang hanya sempat disinggung. Pesantren Darunnajah 2 Cipining memilih tidak membiarkan sisa pesan itu menguap begitu saja. Ruang kelas kemudian dipakai sebagai kanal kedua, tempat pesan yang sama disampaikan ulang dengan cara yang lebih dekat.

Di titik inilah wali kelas mengambil peran utama. Bersama asistennya, mereka bertugas menyampaikan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi inti Khutbatul ‘Arsy. Posisi wali kelas menguntungkan: mereka mengenal nama, karakter, dan latar belakang setiap santri di bawah asuhannya. Penjelasan pun bisa disesuaikan dengan daya tangkap masing-masing kelompok usia. Apa yang terasa abstrak di aula besar menjadi konkret ketika dibicarakan di ruang yang lebih kecil.

Rentang peserta yang lebar menjadikan penyesuaian ini penting. Santri kelas 1 TMI baru beberapa pekan mengenal ritme kehidupan pesantren. Sementara santri kelas 6 sedang berada di tahun terakhir, ketika pemahaman tentang arah dan cita-cita lembaga justru paling dibutuhkan. Satu materi yang sama karenanya perlu disampaikan dengan kedalaman yang berbeda. Wali kelas menjadi penerjemah yang menjembatani jarak tersebut.

Khutbatul ‘Arsy sendiri menempati posisi khusus dalam tradisi pesantren. Ia lazim disampaikan di awal tahun ajaran sebagai penjelasan tentang arah, orientasi, dan falsafah lembaga kepada seluruh warganya. Isinya menyangkut hal-hal mendasar: untuk apa santri belajar, nilai apa yang diperjuangkan, dan ke mana semua proses ini bermuara. Tanpa pemahaman itu, aktivitas harian berisiko berjalan sebagai rutinitas kosong. Pendalaman di kelas hadir untuk menutup celah tersebut.

Ada pelajaran pendidikan yang tersimpan dalam pilihan metode ini. Nilai berbeda dengan informasi. Informasi cukup disampaikan sekali, sedangkan nilai memerlukan pengulangan, keteladanan, dan kedekatan personal agar benar-benar mengendap. Tradisi Islam mengenal prinsip ini melalui konsep ta’lim dan ta’dib, dua proses yang menempatkan pengajaran dan pembentukan adab sebagai satu kesatuan yang berjalan perlahan. Pesantren tampaknya memahami bahwa pembentukan karakter berjalan dalam tempo yang panjang.

Hasil yang diharapkan pun dirumuskan sederhana. Santri diharapkan lebih mengenal dan memahami pesantren secara lebih dalam dan lebih luas. Rumusan ini terdengar bersahaja, tetapi menyentuh persoalan yang nyata: banyak santri menjalani sistem tanpa sepenuhnya memahami alasan di baliknya. Pemahaman yang utuh membuat aturan terasa masuk akal, bukan sebagai beban. Dari sanalah kepatuhan berubah menjadi kesadaran.

Kegiatan ini menempatkan wali kelas sebagai ujung tombak pendidikan nilai, sekaligus mengingatkan bahwa ruang kelas menyimpan fungsi yang lebih luas daripada transfer materi pelajaran. Bagi para santri, momentum ini layak dimanfaatkan dengan bertanya sejauh mungkin kepada wali kelas masing-masing tentang hal-hal yang masih mengganjal. Bagi para wali santri, percakapan tentang nilai-nilai ini dapat dilanjutkan di rumah saat liburan tiba. Pemahaman yang tumbuh di ruang kelas akan jauh lebih kokoh jika ikut dirawat di lingkungan keluarga.