“Ketika pertama kali saya datang kesini, pondok ini masih hutan, tempat jin buang anak, tidak menarik…!”. Ujar Ust. Dedi, ya itulah ucapan yang selalu beliau sampaikan kepada santri ketika kuliah dalam masa orientasi pondok pesantren, Pondok Pesantren Annur adalah cabang kedelapan Darunnajah, pondok ini berdiri pada tahun 2006. Dimulai dari santrinya yang masih pulang pergi, setelah itu mulailah santri mukim yang berjumlah tiga orang dari anak tetangga pondok, dan terus berkembang hingga saat ini dengan santri yang berjumlah hampir seribu lebih yang berasal dari berbagai macam daerah nusantara.

Photo By Annurgraphy

Photo By Annurgraphy

Hal tersebut, tidak terlepas dari kesuksesan Pendidikan pesantren dalam mendidik santri-santri dimulai dari kelas senior hingga junior dan juga penanaman nilai yang terkandung dalam pesantren. Seperti nilai keislaman, nilai kemasyarakatan, dan juga nilai kepesantrenan. Karena nilai-nilai inilah pesantren dapat eksis dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu nilai pesantren terkandung dalam panca jiwa yaitu lima jiwa yang wajib dimilki oleh seorang santri, berikut adalah Panca Jiwa pesantren :

  1. Jiwa Keikhlasan, jiwa inilah yang sangat penting untuk menumbuhkan jiwa-jiwa selanjutnya. Ikhlas sendiri berarti mengerjakan sesuatu dengan patuh tanpa mengharapkan imbalan. Maka dari sulit sekali untuk menggambarkan keikhlasan yang sesungguhnya, bahkan dalam Bahasa Inggris kata ikhlas tidak benar-benar sesuai dengan arti yang sesungguhnya,
  2. Jiwa Kesederhanaan, Tidak semua yang sederhana itu miskin, karena lain pengertiannya. Karena Rasulullah SAW pun hidup dalam kesederhanaan, tetapi walaupun begitu beliau adalah seorang saudagar dan meminang Khodijah dengan mahar 100 ekor unta merah. Oleh karena sederhana itu berarti sesuai dengan kebutuhannya,
  3. Jiwa Kemandirian, dalam hadits dikatakan “ seorang muslim yang kuat, lebih baik dari pada muslim yang lemah.” Dalam hal ini, pondok sudah mengajarkan santri dengan hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Karena dengan hal ini seseorang dapat berkontribusi dan bermanfaat bagi masyarakat, tidak hanya menjadi penonton kesuksesan orang lain,
  4. Ukhuwah Isalamiyyah, Jiwa ini menjadi pelengkap dalam setiap keadaan santri dalam bermasyarakat. Menjaga persatuan seagama dan keyakinan untuk saling tolong menolong dalam mencari ridho Allah SWT,
  5. Jiwa Kebebasan, Santri itu bebas walaupun dibatasi oleh dinding peraturan-peraturan yang ada, tentunya bebas dalam hal positif bukan bebas yang kebablasan, yang enak-enak saja. Yaitu berupa pengembangan minat dan bakat dengan kegiatan extrakurikuler.

Inilah Nilai yang sejak dulu ditanamkan pesantren kepada santri-santrinya, yang selalu berbekas walaupun sudah keluar dari pondok pesantren. Karena hal tersebut menjadi bekal hidup dimasyarakat yang sesungguhnya. Yaitu sebagai mundzirul qoum, yang menunjukkan kepada kebenaran yang diajarkan Rasulullah SAW kejalan yang di ridhoi-Nya.