a href=”http://darunnajah3.com/khutbah-pertama-di-malam-awal-ramadhan/khutbah-tarawih/” rel=”attachment wp-att-2420″>img class=”alignleft size-medium wp-image-2420″ title=”Khutbah Tarawih|www.darunnajah3.com” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2012/07/Khutbah-Tarawih-300×200.jpg” alt=”” width=”300″ height=”200″ />/a>

Pada malam awal Ramadhan, para asatidz dan ustadzat serta santri dan santriwati Al-Manshur Darunnajah 3 melaksanakan tarawih berjama’ah. Sebelum melaksanakan shalat Tarawih, Ust. Busthomi Ibrohim, M.Ag berkhutbah tentang makna Puasa.

Bagi umat islam, berpuasa dalam bulan Ramadhan merupakan pengabdian sekaligus puasa itu sebagai mental training. Dimana setiap orang penuh kesadaran berlatih secara rohaniyah dan jasmaniyah dalam gemblengan Ramadhan agar menjadi manusia baru yang bersih dari segala noda dan dosa. Jadi puasa merupakan penataran keimanan dan akhlaq agar lebih mantap dan meningkat sehingga tercermin dalam tingkah laku sehari – hari.

Semua umat muslim dimanapun mereka berada insya Allah tahu bahwa puasa merupakan Rukun Islam yang ke -4, puasa juga merupakan perintah wajib dari Allah SWT. Sebagaimana termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya “ wahai orang – orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. K.H. Busthomi dalam khutbahnya bertanya kepada jama’ah yang hadir, mengapa dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah memerintahkan orang – orang yang beriman untuk berpuasa?,   Karena orang yang beriman adalah orang yang mempercayai Allah dan meniru sifat-sifat-Nya. Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum, juga menahan dari perbuatan yang mendekati maksiat.  Dalam khutbahnya juga beliau menggaris bawahi dua hal yang merupakan sifat Allah yang harus ditiru oleh orang mukmin yang berkaitan dengan pengertian puasa, yaitu :
ol>
li> Menahan diri dari makan dan minum/li>
/ol>
p dir=”RTL”>…… وَهُوَ يُطْعِمُ وَلاَ يُطْعَمُ …..  (الانعام :14)/p>
Dia (Allah) memberi makan dan tidak diberi makan. Sesuai dengan sifat Allah yang memberi makan dan tidak diberi makan (tidak makan), maka manusia hendaknya selama berpuasa agar menahan dari makan dan minum.
ol>
li>Menahan diri dari perbuatan maksiat/li>
/ol>
p dir=”RTL”>…… مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَلاَ وَلَدًا  (الجن : 3)/p>
Allah tidak membutuhkan kekasih juga tidak membutuhkan anak. Maksudnya adalah manusia selama berpuasa agar menjauhkan diri dari hubungan seksual ataupun yang mendekati maksiat.