ألله أكبر، ألله أكبر، ألله أكبر* ألله أكبر، ألله أكبر، ألله أكبر* ألله أكبر، ألله أكبر، ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وصبحان الله بكرة وأصيلا، لا إلا إلا الله وحده، صدق الله وعده، ونصر عبده، وأعز جنده، وهزم الاحزاب وحده، لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه، مخلصين له الدين ولو كره الكافرون. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه اجمعين، أما بعد.
• • ، •• • • ، ، • .
Hadirin Jama’ah Sholat Ied yang berbahagia!
Mari pada kesempatan pagi ini, 1 Syawal 1434 H. kita bersyukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan ni’mat Iman, Islam dan kesehatan.
Telah menghantarkan kita kepada hari kemengan. Bersyukur dengan meningkatkan amal ibadah kita, dari dimensi ibadah baik kuantitas dan kualitas, maupun dimensi sosial berbuat baik terhadap sesama, sehingga kita menjadi orang yang bertaqwa.
Setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa. Pada hakikatnya bukanlah puasa itu menjadi misi utama, tetapi ia adalah jalan atau perantara untuk mendidik orang beriman menjadi muttaqien.
Mudah-mudahan hari ini kita terbebas dari dosa, menjadi fitrah kembali, sebagaimana seorang bayi terlahir di dunia fana, tanpa dosa dan noda, terasa asing kita di dunia ini, sehingga kita berhati-hati, selalu berfikir cermat, berfikir positif, mensegerakan untuk senantiasa berkeja atau beramal kebajikan karena singkatnya waktu, sebab tidaklah terulang pagi hari yang telah berlalu, pun demikian sore hari telah berlalu takkan datang untuk kedua kalinya.
Maka pada kesempatan hari kemenagan ini kita senantiasa dianjurkan untuk memperbanyak mengumandangkan Takbir, Tahmid dan Tahlil serta mengerjakan sholat sunnah :
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu Dia sembahyang.”
Puasa melatih untuk membiasakan diri berbuat baik, ikhlas memberi dikala lapar, ikhlas beribadah dikala lapang. Melatih untuk menahan diri dari sesuatu yang dilarang, dikala sembunyi-sembunyi maupun dalam keramaian. Membiasakan berdisiplin dalam setiap kegiatan. Tanpa atau ada pengawas tetap mengemban amanah dengan baik, sebab Allah Maha tahu dan Maha Melihat apa yang tersembunyi dan apa yang sengaja disembunyikan, walau dalam lubang paling kecil sekalipun.
Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Puasa membakar jiwa amarah, menghantam penyakit hati, membangkitkan self control. Inilah yang harus diwujudkan dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari selain pada bulan Ramadhan.
Suatu kegiatan dan karakter baik yang sudah membudaya, melembaga dalam diri setiap mu’min. Sehingga suatu perkejaan baik yang dilakukannya menjadi suatu kebiasaan, ringan, tanpa basa-basi ingin dilihat orang, tanpa pamrih untuk suatu penghargaan atau penghormatan, setiap individu bisa menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan jahat.
Dalam suasana bahagia, sebagai muslim hendaknya kita saling mendoakan; mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang kembali ke dalam fitrah kesucian dan beruntung sebagai pemenang. Imam Ahmad meriwayatkan tentang perilaku para sahabat Rasulullah ketika bertemu sesamanya pada hari I’dul Fitri, mereka mengucapkan:
تقبل الله منا ومنكم تقبل ياكريم من العائدين والفائزين كل عام وأنتم بخير
Mudah-mudahan Allah SWT menerima amal kami dan amal anda, semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang beruntung, semoga anda dalam kebaikan sepanjang masa.
Janganlah kita terjebak memaknai Ramadhan dan Idul Fitri. Bulan Ramadhan subtansi terpentingnya adalah menjadi orang bertakwa. Muaranya adalah agar kita benar-benar menjadi hamba yang muttaqien, tidak sekedar sholih dalam beribadah saja, tetapi sholih pula dalam hubungannya dengan manusia.
Sebagaimana dilukiskan, seorang yang sedang beri’tikaf di masjid, maka ia harus tinggalkan apabila ada saudara, tetangga, keluarga, kerabat, orang lain sekalipun yang membutuhkan pertolongan.
Pada bulan puasa, di samping seorang hamba diperintahkan untuk memperbanyak beribadah seperti membaca al-qur’an sebanyak-banyaknya, sholat-sholat sunnah sepuas-puasnya, I’tikaf di masjid selama-lamanya. Tetapi Allah perintahkan pula untuk membantu orang lain, bersedekah sebaik-baiknya, memberikan buka puasa, tidak mengesampingkan pekerjaan duniawi sehingga sulit berbagi.
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Bulan Ramadhan penuh keistimewaan telah berakhir, wajar bila Bapak/Ibu Hadirin/Hadirat yang gemar beribadah, gemar investasi amal merasa sedih ditinggalkan bulan Ramadhan, sebagaimana Rasulullah sabdakan :
لو تعلم أمتى ما في رمضان لتمنوا أن تكون هذه السنة كلها رمضان
“Sekiranya umatku mengetahui keistimewaan Ramadhan, mereka akan mengharap agar semua bulan dalam setahun dijadikan Ramadhan….”
Walaupun hadits ini dipandang dhoif sebagian ulama’, tapi kita mengetahui betapa bulan Ramadhan memberikan pembelajaran dasyat tentang arti kehidupan, semenjak terjaga hingga terlelap. Itulah pada hakikatnya kehidupan sebenarnya, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Bekerja keras, beramal optimal, prinsip yang kuat, menahan diri, dan berbuat baik terhadap sesama rahmatan lil’alamin.
Perlu kita ingat, di akhir puasa, maksimalnya sebelum pelaksanaan sholat Ied, bahkan diwajibkan setiap muslim untuk mengeluarkan zakatnya. Anak baru lahir, orang renta, laki-laki, perempuan, miskin dan kaya, dengan batasan malam hari ada kelebihan makanan pokok yang cukup untuk zakat, wajiblah ia antarkan kepada ‘amil zakat.
Hadirin yang berbahagia!
Pertanyaannya kemudian, sanggupkah kita lestarikan tradisi-tradisi dan budaya-budaya di bulan Ramadhan untuk kesebelas bulan lainnya.? Semangat membaca al-Qur’an, semangat qiyamullail, semangat bersedekah, semangat berbagi, berinfak, bertegur sapa, bertausiah atau saling bernasihat dalam kebaikan, menjaga hubungan sillaturrahmi.
Kita sudah berkali-kali melewati bulan Ramadhan, tetapi kemiskinan kian bertambah, rakyat berteduh di kolong jembatan, perut bayi banyak membuncit, kelaparan menyeruak, peminta makin menjadi trend.
Berdasar rilis Badan Amil Zakat Nasional, bahwa potensi zakat di Indonesia dalam pertahunnya bisa mencapai 217 triliun atau 14% dari APBN 2013. Namun yang terserap baru kisaran 2,73 triliun atau 1% saja.
Angka kriminalitas, korupsi, asusila, perbuatan norak, kehidupan lebay, anarkis dan perbuatan-perbuatan keji serta munkar lainnya kian bertambah dan tidak malah menyusut. Jelasnya di bumi pertiwi kita ini sedang mengalami krisis multidemensi.
Padahal Rasul menjanjikan “Jika sebagian diantara kamu (orang yang berkecukupan) mau membayar zakat, niscaya tidak ada yang bertelanjang dada, tidak ada perut buncit karena lapar.” Padahal puasa bisa memberikan kepekaan perasaan sosial terhadap kaum papa, sehingga mereka bisa saling berbagi dan menyempurnakan. Padahal para pemegang kebijakan tahu hukum zakat dan sudah jelas dalam al-Qur’an.
“Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Sholat mampu menangkal kemiskinan, Sholat memberikan kesejahteraan dan seterusnya. Berapa persen dari ummat muslim yang tidak hafal rukun islam yang lima? Rasanya hampir-hampir semua muslim baligh bisa menyebutkannya, telah hafal betul di luar kepala.
Begitu pula, jika banyak-banyak membaca al-Qur’an akan membuat hati tenang, tenteram, damai, merasa aman, beban terasa ringan.
Tetapi kenapa tidak demikian adanya, malah sebaliknya? Bukankah Allah Firmankan : “Sesungguhnya Allah tidak pernah sekalipun mengingkari janji-Nya.”
Hadirin Jama’ah Sholat Ied Yang dirahmati Allah!
Jangan berpandangan negatif terhadap Allah, atau mengakatakan Allah telah ingkar tehadap janji-Nya. Tetapi memang ummat Islam harus intropeksi diri, kenapa amal perbuatan baik berjalan, tetapi perbuatan buruk makin merajalela?
Karena sebagian di antara kita masih memahami agama dengan pemahaman normatif. Menjalankan ibadah dipandang hanya sebagai kewajiban atau cukup menggugurkan kewajiban.
Menganggap ibadah tidak ada hubungannya dengan muamalah atau keshalihan sosial.
Jelas-jelas, dalam al-qur’an banyak dan seringkali disebutkan dan diikutkan keyakinan dan ibadah dihubungkan dengan kegiatan sosial.
Sebagai sedikit bukti : “Dirikanlah sholat, dan (jangan lupa) tunaikan pula zakat.”, “Orang yang beruntung adalah orang beriman, lagi mengerjakan kegiatan-kegiatan positif (baik dan sholih), saling berinteraksi-berkomunikasi untuk kebenaran dan kesabaran.” “Celakah atau Neraka Wail bagi orang mengerjakan sholat, karena lalai terhadap sholatnya, suka berbuat riya (ingin dipuji), dan enggan berbagi.” Dalam salah satu hadis dijelaskan, “Ambillah sebagian harta dari orang mampu untuk diberikan kepada orang yang tidak mampu.”
Dalam Islam ibadah mana yang tidak menyerukan, tidak berdampak, tidak berefek terhadap hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan alam semesta?
Seluruh aspek ibadah dalam Islam, di samping berinteraksi langsung kepada Allah SWT., maka hasilnya nihil jika tidak berakhlak baik dengan sesama manusia dan alam semesta.
Banyak di antara kita, beribadah hanya menghitung pahala saja, hanya ingin mendapatkan balasan lebih banyak dari apa yang telah dikeluarkan, ingin dikatakan sebagai ‘abid atau ahli ibadah. Tetapi lupa, bahwa misi beribadah pada hakikatnya untuk mencapai keridhoaan Allah, memasrahkan diri kepada Allah, menggantungkan secara tulus ikhlas kepada Allah.
Masih ingatkah di antara kita, doa yang terucap dari bibir Rabi’ah Adawiyah? “Wahai Tuhanku, jika aku menyembah-Mu, karena takut dari siksa neraka-Mu,maka bakarlah diriku dengan api itu. Dan jika menyembah-Mu karena mengharapkan masuk ke surga-Mu, maka haramkanlah surga itu dari diriku. Namun, jika aku menyembah-Mu, karena cinta kepada-Mu, maka berikanlah balasan-Mu yang besar itu kepadaku. Izinkan aku menyaksikan wajah-Mu Yang Agung dan Mulia.
Untuk itu, mari biasakan diri kita mulai semenjak sekarang untuk senantiasa membiasakan memahami ibadah tidak secara normatif teologis saja, melainkan juga mengaplikasikan dalam kehidupan kita, sehingga apa yang terucap sesuai dengan fakta.
Hadirin Yang Berbahagia!
Perayaan Idul Fitri agar mengantarkan diri kita kembali mendapatkan fitrah kesucian, mestinya diisi dengan:
Pertama, Halal- bihalal, saling memaafkan, menyambung putusnya persaudaraan. Jangan sampai kita marahan atau mendiamkan orang lain lebih dari tiga hari. Rasulullah saw bersabda,
لا يحل لمسلم أن يهجر أخاه فوق ثلاث
Kedua, Melakukan silaturrhami dengan famili (bapak, ibu), saudara, kawan-kawan, guru-guru kita, dan kerabat dekat, untuk minta maaf dan dihalalkan. Jangan malah terbalik, mendahulukan silaturraihm dengan kakek moyang yang tidak jelas hubungan nasabnya; pergi ke kebun binatang, ke pantai-pantai, tempat wisata, dll. Insya Allah, silaturrahim itu akan menambah keberkahan rizki dan umur kita, sebagimana dinyatakan Rasulullah saw., sbb.:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Ketiga, jangan sekali-kali Idul Fitri ini dirayakan dengan cara yang haram dan dimurkai Allah, sebagaimana dilakukan orang Arab Jahiliyah dulu, misalnya dengan pesta miras dan narkoba, atau pesta pora yang melanggar syari’at Allah.
Hadirin Sidang Idul Fitri Rahimakumullah
Akhirnya, saya ucapkan, “Selamat meraih kemenangan Idul Fitri 1434 H”.:
من العائدين والفائزين كل عام وأنتم بخير.أمين يارب العالمين
Mengakhiri khutbah ini, marilah kita sama-sama berdo’a,
بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين وارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات، إنك قريب مجيب الدعوات، رَبناِّ أَوْزِعْنِا أَنْ نشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَينا وَعَلَى وَالِدَينا وَأَنْ نعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنا بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين أمنوا ربنا إنك رءوف الرحيم. سبحان ربك رب العزة عمايصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.
[Mr.Song]