Ketika Amanah Dipikulkan

“Angkat semua ini keatas punggungku !”, pertintah Khalifah Umar kepada Aslam.

“Biar aku saja yang membawanya”, Aslam mengulanginya permintaannya ini beberapa kali.

“Apakah kamu mau menanggung dosaku di hari Kiamat?”, jawab Khalifah Umar dengan tegas dan setengah berteriak.

Aslam pun menyerah. Ia pun teringat dengan percakapan mereka dengan seorang perempuan paruh baya bersama anak-anaknya yang menangis.

***

Tampak periuk sedang ditaruh di atas api, tetapi terdengar isak tangis anak-anak. Umar pun menghampirinya.

“Assalamualaikum, wahai pemilik cahaya api ini.“

”Waalaikumussalam.”, jawab si ibu paruh baya.

“Bolehkah aku mendekat?”, tanya  Umar.

“Mendekatlah dengan maksud yang baik !”

“Apa yang sedang terjadi dengan kalian?”

“Kami sedang dikurung kegelapan malam dan dingin”

”Ada apa dengan anak-anak ini ?, mengapa mereka menangis?”

“Mereka lapar”

“Lalu apa isi periuk ini?”

“Tidak ada. Itu hanya caraku untuk membuat mereka diam dan tertidur. Aku membuat-buat alasan dan kesan seolah-olah aku mengolah sesuatu sampai mereka tertidur.”, jelas si ibu itu. “Biarlah Allah yang mengadili diantara kami dan Umar.”, lanjutnya.

“Semoga Allah merahmatimu. Tapi, dari mana Umar bisa tahu atas keadaan kalian?”, tanya Umar dengan kalem.

“Kalau dia yang mengurusi urusan kami, bagaimana bisa kami ini diabaikan?”

***

Aslam mengangkat sekantung gandum dan sejirigen minyak ke atas punggung Khalifah Umar bin Khattab dari gudang logistik. Mereka pun bergegas kembali menghampiri perempuan paruh baya tadi.

Gandum dan minyak diletakkan di samping ibu itu, lalu Umar mengolahnya dengan sabar. Setelah itu, dituangkan masakannya itu keatas nampan dan diberikan kepada ibu dan anak-anaknya.

“Semoga Allah membalas kebaikanmu, enkau lebih layak menjadi pemimpin dibanding Amirul Mu’minin.”, kata ibu itu setelah mereka kenyang.

“Katakanlah kebaikan. Jika nanti kau menjumpai Amirul mu’minin, Insya Allah kau akan menjumpaiku di sana.”, jawab Umar.

Begitulah Amanah. Umar saja yang menjalankan Amanahnya dengan baik sebagai Amirul mu’minin, masih dicaci maki penduduknya. Umar yang begitu terkenal akan kecerdasan dan kebijaksanaannya, di akhir hayatnya harus syahid di tangan seorang penghianat. Kisah Syahidnya Umar tersebut memberi kita pelajaran bahwa bagaimanapun baiknya seorang pemimpin, masih saja ada orang yang tidak menyukainya.

Begitu beratnya menjadi pemimpin, sehingga Allah menjadikan pemimpin yang adil mejadi golongan pertama yang dinaungi Allah, dimana tidak ada naungan di hari Kiamat kecuali naungan Allah SWT.

Jadi, kita sebagai pemimpin sejati, haruslah menghadapi tantangan yang akan datang kepada kita dengan keimanan dan kesabaran. Selalu perbaiki diri kita dan laksanakanlah amanah dengan sebaik-baiknya.

Dan untuk pengurus baru ingatlah “Kejayaan Darunnajah dan ummat ini diamanahkan kepada kalian, maka jayakanlah ummat ini”.[WARDAN/JANNAH]