Pesantren Darunnajah terus memperkuat komitmennya dalam menyiapkan kader-kader terbaik di berbagai bidang strategis, termasuk kesehatan. Melalui Program Kaderisasi Profesi, pesantren memberikan kesempatan bagi santri dan alumni terpilih untuk menempuh pendidikan sesuai kebutuhan lembaga. Salah satu di antaranya adalah pendidikan Diploma Keperawatan di STIKES Wijaya Husada Bogor, yang dibiayai sepenuhnya oleh pesantren.
Kader keperawatan yang kami wawancarai memulai studinya pada Agustus 2022 dan resmi diwisuda pada 11 November 2025. Ia kini bersiap kembali mengabdi di Klinik Darunnajah sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan pesantren. Berikut adalah versi singkat wawancaranya.
Apa yang mendorong Antum memilih dunia keperawatan?
Ketertarikan itu muncul ketika melihat perawat membantu pasien dengan penuh kesabaran. Ada rasa puas bisa menolong orang lain, dan ana melihatnya sebagai salah satu bentuk ibadah.
Bagaimana awalnya bisa menjadi kader keperawatan pesantren?
Setelah mendengar adanya program kaderisasi bidang kesehatan, ana mengajukan diri ke Departemen SDM, mengikuti rangkaian tes, dan akhirnya mendapat persetujuan Pimpinan Pesantren.
Apa perasaan Antum saat menerima amanah pembiayaan dari pesantren?
Ana sangat terharu. Ini amanah besar yang membuat ana bangga sekaligus lebih berhati-hati menjaga kepercayaan.
Tantangan terbesar selama kuliah?
Menyeimbangkan tuntutan akademik, praktik lapangan, dan komitmen sebagai kader pesantren.
Apa momen paling berkesan selama pendidikan?
Menangani pasien pertama kali saat praktik di rumah sakit. Momen itu mengajarkan profesionalitas dan ketenangan.
Pengalaman pasien yang paling membekas?
Seorang lansia pernah menggenggam tangan ana dan berterima kasih karena sudah mendengarkan keluh kesahnya. Dari situ ana sadar bahwa keperawatan bukan hanya tindakan medis, tetapi juga kepedulian emosional.
Nilai pesantren apa yang paling terasa manfaatnya?
Ikhlas, amanah, dan khidmah. Nilai-nilai itu menjadi pegangan ketika menghadapi tekanan akademik dan praktik.
Pernah merasa ingin menyerah?
Pernah, ketika jadwal kuliah dan praktik menumpuk. Ana bangkit karena mengingat amanah pesantren dan doa dari orang tua serta para ustadz.
Rencana setelah lulus?
Bismillah, ingin menjalankan pengabdian sebaik mungkin dan jika memungkinkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Bidang apa yang ingin dikembangkan?
Keperawatan komunitas dan gawat darurat karena relevansinya dengan kebutuhan warga pesantren.
Mengapa pesantren perlu memiliki kader keperawatan sendiri?
Karena kesehatan adalah pilar penting bagi keberlangsungan pendidikan dan kehidupan santri.
Apa pesan untuk adik-adik yang ingin mengikuti jejak ini?
Jangan ragu mencoba bidang baru. Niatkan sebagai ibadah dan jaga amanah yang diberikan.
Doa dan harapan terbesar setelah menjadi perawat?
Semoga ilmu ini bermanfaat, membuka jalan pengabdian, dan membawa keberkahan bagi pesantren serta keluarga.
