Menu

Keindahan Di Balik Merdunya Suara Adzan

Keindahan di balik merdunya suara adzan

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Sejarah Adzan

Keindahan di balik merdunya suara Adzan
Keindahan di balik merdunya suara Adzan

Adzan adalah pemberitahuan tentang waktu shalat dengan lafadz-lafadz khusus sebagaimana yang telah di syariat.

            Dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Dahulu kaum muslimin ketika tiba di Madinah (dari Makkah) mereka berkumpul menunggu-nunggu waktu shalat, sedangkan tidak ada seruan untuk shalat. Lalu pada suatu hari mereka membicarakan tentang hal itu. Sebagian ada yang berkata, “Gunakanlah lonceng seperti loncengnya orang Nashrani”. Dan sebagian yang lain berkata, “Gunakanlah terompet seperti terompetnya orang Yahudi”. ‘Umar berkata, “Mengapa kalian tidak menyuruh seseorang menyeru untuk shalat ?”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Hai Bilal, bangkitlah, serulah untuk shalat !”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 150]

Dahulu sebelum adanya Adzan kaum muslimin selalu berkumpul untuk menunggu datangnya waktu shalat, pada suatu saat kaum muslimin membicarakan persoalan tersebut, diatara mereka ada yang mengusulkan mengunakan lonceng seperti orang Yahudi dan ada juga yang mengusulkan untuk menggunakan terompet seperti orang nasrani. Seperti hadist di bawah ini       

Setelah Rasulullah SAW menyetujuinya walau pun sebenarnya Rasulullah SAW tidak terlalu menyukainya karena menyerupai orang Nasrani, salah satu sahabat Rasulullah yang bernama Abdullah bin Zaid bermimpi dan di dalam mimpi tersebut ia diberitahu bahwasanya ada yang lebih baik dari pada membunyikan lonceng dan itu adalah lafadz-lafadz adzan.

Pada keesokan harinya Abdullah bin Zaid menjumpai Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya, Rasulullah SAW menganggap mimpi itu benar dan menyuruh Bilal untuk mengumandakan Adzan.

Seperti yang sudah di jelaskan pada [HR. Ahmad, juz 4, hal. 43]

 

Lafadz “Ashsholaatu khoirum minan nauum”

 

Shalat lebih baik dari pada tidur
Shalat lebih baik dari pada tidur

Pada suatu pagi Bilal ingin memanggil rasulullah untuk Shalat Subuh dan Rasulullah masih tidur dan Bilal pun mengeraskan suara “Ashsholaatu khoirum minan nauum (Shalat itu lebih baik dari pada tidur)”. Dan lafadz ini dilafadzka setiap Adzan Subuh

Seperti yang sudah di jelaskan pada [HR. Ahmad, juz 4, hal. 43]

Balasan Seorang Muadzin

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Imam itu adalah penanggungjawab dan muadzdzin itu adalah orang yang diserahi amanat. Ya Allah, pimpinlah para imam itu dan ampunilah para muadzdzin”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 37]

            Dari Mu’awiyah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya para muadzdzin itu adalah orang-orang yang paling panjang lehernya kelak di hari qiyamat”. [HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah, dalam Nailul Authar juz, 2, hal. 37]

Pada hadist di atas dosa seorang muadzin akan di ampuni oleh Allah SWT karena muadzdzin adalah seorang yang diserahi amanat.

Maksud kata “panjang lehernya” mempunyai banyak perbedaan pendapat, An-Nawawi dalam Syara’ Muslim menjelaskan kata tersebut dengan arti bahwasanya para muadzin akan mendapat pahala yang sangat banyak.

Ada juga yang berpendapat “panjang lehernya “ dengan seorang pemimpin di akhirat nanti.

Perbuatan Syetan Ketika Adzan

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila dikumandangkan adzan, syaithan lari hingga terkentut-kentut sampai tidak mendengar suara adzan. Kemudian jika adzan telah selesai, ia datang lagi, kemudian jika iqamat diserukan maka ia lari lagi. Apabila iqamah telah selesai ia datang lagi hingga dekat sekali dengan manusia. Syaithan berkata, “Ingatlah ini dan ingatlah itu”. (Yaitu apa yang tadinya tidak diingat oleh orang yang shalat), sehingga orang yang shalat itu tidak tahu berapa rekaat ia telah shalat. [HR. Bukhari juz 1, hal. 151]

            Syetan akan berlarian hingga terkentut-kentut sampai tidak mendengar Adzan dan setelah itu mereka mendekati manusia dan berbisik sesuatu yang tadinya tidak diingat oleh orang yang shalat.

Jarak antara Adzan dan Iqomah

Dari ‘Abdullah bin Mughaffal, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Diantara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat, diantara dua adzan ada shalat”. Kemudian beliau bersabda pada yang ketiganya, “Bagi siapa yang mau”. [HR. Bukhari, juz 1, hal. 154]

            Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Apabila muadzdzin telah selesai adzan, maka para shahabat Nabi SAW menuju ke pilar-pilar masjid (untuk shalat sunnah) sampai Nabi SAW keluar (ke masjid), dan dengan cara begitu mereka shalat dua rekaat sebelum shalat Maghrib. Dan tidak ada diantara adzan dan iqamah itu sesuatu (waktu yang lama)”. Syu’bah berkata, “Tidak ada antara keduanya kecuali waktu yang sebentar”. [HR. Bukhari, juz 1, hal. 154]

            Dari hadist di atas bisa kita ambil kesimpulan jarak antara Adzan dan Iqomah adalah shalat Qobliah

Menjawab (menirukan) Adzan ketika mendengarnya

            Dari Abu Sa’id, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Apabila kamu mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzdzin itu”. [HR. Jama’ah, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 58]

Yahya berkata : Dan menceritakan kepadaku sebagian dari saudara-saudara kami, bahwasanya ia berkata, “Setelah muadzdzin berseru hayya ‘alash sholaah, maka orang yang mendengar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah”. Dan ia mengatakan, “Demikianlah kami mendengar Nabi kalian SAW bersabda”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 152]

Dari ‘Umar bin Khaththab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila muadzdzin berseru Alloohu Akbar Alloohu Akbar lalu salah seorang diantara kalian juga mengucapkan Alloohu Akbar Alloohu Akbar. Kemudian apabila muadzdzin berseru Asyhadu allaa ilaaha illallooh, ia mengucapkan Asyhadu allaa ilaaha illallooh. Kemudian apabila muadzdzin berseru Asyhadu anna Muhammadar rasuulullooh, ia mengucapkan Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullooh. Kemudian apabila muadzdzin berseru Hayya ‘alash sholaah, ia mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian apabila muadzdzin berseru Hayya ‘alal falaah, ia mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Kemudian apabila muadzdzin berseru Alloohu Akbar Alloohu Akbar, ia mengucapkan Alloohu Akbar Alloohu Akbar. Kemudian apabila muadzdzin berseru Laa ilaaha illallooh, ia mengucapkan Laa ilaaha illallooh, yang keluar dari hatinya (ikhlash), niscaya ia masuk surga”. [HR. Muslim, juz 1, hal. 289]

Bacaan Sesudah Adzan

Berdoalah setelah mendengarkan Adzan
Berdoalah setelah mendengarkan Adzan

Dari Jabir bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa setelah mendengar adzan lalu membaca Alloohumma robba haadzihid da’watit taammah, washsholaatil qooimah, aati Muhammadanil wasiilata wal fadliilah, wab’atshu maqoomam mahmuudanilladzii wa’adtah. (Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna dan shalat yang berdiri, berikanlah kepada Nabi Muhammad SAW derajat yang tinggi dan pangkat yang mulia, dan tempatkanlah dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya), niscaya dia akan mendapat syafa’atku nanti di hari qiyamat”. [HR. Jama’ah, kecuali Muslim, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 60]

by: M. Az-Zamakhsyari Atba

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Informasi Perubahan Kalender Pendidikan Tahun 2019-2020 Kelas 3 TMI Darunnajah Jakarta

Perihal  : Informasi Perubahan Kalender Pendidikan  Tahun 2019/2020                                  31 Maret 2020                                                                 Yang terhormat, Bapak/Ibu Orang Tua Santri Kelas III