Pondok Pesantren Darunnajah menggelar Khutbatul Wada’ bagi santri kelas akhir Tarbiyatul Mu’allimīn wal Mu’allimat al-Islamiyah (TMI) Darunnajah angkatan “Glorious Generation” di Aula Al-Ghazali, Kamis (25/6/2026), bertepatan dengan 10 Muharram 1448 H.
Acara ini dihadiri langsung oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Dr. K.H. Sofwan Manaf, M.Si., dan K.H. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs., yang menyampaikan amanat utama, dan para direktur lembaga, kepala sekolah, serta seluruh santri putra dan putri kelas akhir TMI.
Dalam nasihatnya, Kyai Sofwan mengawali dengan menjelaskan makna Khutbatul Wada’ yang merujuk pada khutbah perpisahan Rasulullah ﷺ. Beliau mengingatkan tiga hal pokok yang wajib dijaga setiap Muslim, yaitu jiwa, harta, dan kehormatan, sebagaimana sabda Nabi: “Inna dimā’akum wa amwālakum wa a’rāḍakum ’alaikum ḥarām.”
Ketiganya, lanjut Kyai Sofwan, sejalan dengan maqasid asy-syari’ah yang mencakup penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, bahkan kini ditambah penjagaan terhadap lingkungan.
“Sebagai alumni, kalian harus memahami maqasid asy-syari’ah sebagai landasan dalam menjalani kehidupan,” tutur beliau.
Kepada para santri yang tinggal beberapa hari lagi menyandang status alumni, Kyai Sofwan berpesan agar tetap menjaga diri hingga akhir masa pengabdian dan menyambut kebebasan dengan kerendahan hati, bukan dengan hura-hura.
Beliau menekankan pentingnya kemandirian saat memasuki “dunia yang lain” di tengah masyarakat. Beliau juga menegaskan bahwa meskipun jasad meninggalkan pesantren, jiwa para santri tetap menyatu dengan Pesantren.
“Di hati kalian sudah ada stempel Darunnajah yang tak akan terhapus,” ujar beliau.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah keutamaan khidmat atau pengabdian, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Kiai Sofwan mengingatkan bahwa nilai seorang alumni tidak diukur dari tumpukan ijazah maupun jumlah pengikut di media sosial, melainkan dari kemanfaatannya bagi sesama.
“Jasa kalian di masyarakat itulah yang terbaik untuk Darunnajah,” tegas beliau, mengutip hadis khairun-nas anfa’uhum lin-nas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Kyai Sofwan mendorong para santri untuk terus bergerak dan menetapkan target kemajuan secara berkala, memulai segala sesuatu dari hal kecil dengan fokus dan konsistensi, serta tidak ragu mengambil peran kepemimpinan di tengah masyarakat.
Beliau juga menekankan pentingnya keikhlasan sebagai jiwa pertama Panca Jiwa Pondok, memperbanyak sedekah, serta menjaga nama baik diri dan almamater di era digital dengan menebarkan hal-hal positif.
Tak lupa, Kyai Sofwan menyinggung karakter para santri sebagai bagian dari generasi Z dan Alpha yang kreatif, inovatif, dan melek teknologi. Namun ia mengingatkan agar mereka menyadari kelemahan “generasi strawberry”, tampak indah dari luar namun rentan rapuh di dalam. Seperti rentang fokus yang pendek dan keinginan serba instan.
“Sejauh kalian mampu mengatasi kelemahan itu, insyaallah kalian akan jauh lebih unggul,” tambah beliau.
Mengakhiri nasihatnya, Kyai Sofwan berharap para santri kelas akhir “Glorious Generation” menjadi bibit-bibit unggul yang membawa manfaat bagi lingkungannya dan meraih kesuksesan di tengah masyarakat.
“Ma’an-najah, semoga kita semua selamat dan berhasil dalam perjuangan di masyarakat,” pungkas beliau.
Kegiatan Khutbatul Wada’ ini menjadi “kelas” sebelum berakhirnya masa pendidikan santri kelas akhir TMI Darunnajah, sekaligus pembuka babak baru pengabdian mereka di tengah umat. (Humas Darunnajah)
