
Rabu (23/9/2020) Pernah gak sih kalian mendengar larangan untuk menikah di bulan Shafar? Kalau larangan untuk bepergian jauh pada bulan Shafar dengan beralasan bahwa bulan tersebut adalah bulan sial? Semua itu ternyata hanya mitos lho…!!
Kepercayaan ini memang sudah ada dari dulu, lalu turun dari zaman nenek moyang ke zaman now. Padahal kalau kita pikir-pikir, kesialan itu kan terjadi pada masa lalu yang jahiliyah…, lantas apa hubungannya dengan kita yang hidup di zaman modern yang serba digital ini…??
Sebelum islam datang, masyarakat jahiliyah di mekkah juga membenci bulan Shafar. Hal ini kemudian ditepis oleh Rasulullah SAW dengan beberapa peristiwa yang terjadi pada bulan ini. Antara lain pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, pernikahan Fatimah binti Rasulullah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga permulaan hijrah juga terjadi pada bulan ini.
Lantas, apakah itu semua membawa kesialan?. Tentu saja tidak, justru itu semua membawa hal-hal baru yang kemudian menjadikan bulan Shafar sebagai bulan pembawa berkah bagi umat Islam.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ
“Tidak ada ‘adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas menafikan beberapa kepercayaan jahiliyyah yang bersifat takhayyul. Seperti ‘Adwa (penyakit yang menular tanpa perantara dan tidak bisa dicegah), Thiyarah (menentukan nasib dengan melihat burung), Hammah (nasib sial yang akan menimpa seseorang apabila ada burung hantu yang hinggap diatas rumahnya), dan Shafar (bulan yang dianggap membawa sial).
Islam tidak mengenal adanya hari, bulan, atau tahun sial. Mempercayai itu bahkan dibenci oleh Allah SWT lho…, karena sesungguhnya ialah yang menentukan itu semua. Yang harus kita lakukan untuk menghindari kesialan adalah berikhtiar dengan amal perbuatan dan juga bertawakkal dengan do’a.
Berikut adalah beberapa amalan dan do’a yang bisa kita lakukan untuk selalu mendapat rahmat Allah SWT:
1. Memperbanyak Dzikir.
Salah satu keutamaan berdzikir adalah memperberat timbangan kebaikan kita dan juga memperdekat diri kita dengan allah SWT. Dengan dekatnya kita dengan sang pencipta, niscaya kita akan selalu mendapat perlindungan di dunia bahkan akhirat kelak.
2. Shalat Dhuha.
Allah menganjurkan kita untuk selalu bersedekah pada jalannya. Tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, shalat dhuha dapat mewakilkan amalan itu lho..!!
Rasulullah SAW bersabda :
“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?”
Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah sedekah. Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud).
3. Memperbanyak Shalawat.
Sudah jelas bahwasannya orang yang tidak pernah libur bershalawat semasa hidupnya di dunia, pasti akan selalu tenang menjalankan segala pekerjaannya dan ia akan mendapatkan syafaat pada hari kebangkitan kelak.
Dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah SWT akan bershalawat untuknya sepuluh kali.
Lalu mintalah kepada Allah SWT wasilah untukku, karena wasilah adalah sebuah tempat disurga yang tidak akan dikarunikan, melainkan kepada salah satu hamba Allah SWT. Dan aku berharap bahwa akulah hamba tersebut.
Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafa’at”. (HR. Muslim)
4. Memperbanyak Istighfar.
Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya:
“Barang siapa memperbanyak Istighfar, niscaya Allah memberi jalan keluar bagai setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka”. (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas)
5. Selalu Bersyukur.
Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an yang artinya:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim : 7)
Dengan tidak mempercayai adanya hari dan bulan sial, kita akan menjadi pribadi yang lebih waspada dan berserah diri kepada sang pencipta. Mengerjakan segala sesuatu dengan tenang dan mempercayakan hasilnya kepada Qadarullah tanpa ada rasa takut akan mengalami kegagalan.
Sama halnya dengan tahun 2020 ini. Tidak ada istilahnya tahun 2020, tahun corona pembawa sial. Semua usaha menjadi sepi, kegiatan ibadah dipersulit. Ini semua hanyalah cara Allah untuk menguji ketakwaan hambanya, bukan memberi kesialan dan juga bencana.
Kalau kita saja tidak percaya dengan penyakit yang tidak terlihat penularan dan gejalanya, bagaimana kita bisa percaya dengan Allah yang bahkan tidak pernah kita lihat wujudnya?.
Ditulis oleh Abdul Faqih, kontributor Darunnajah.com