(11-7-2018) Sekarang adalah Rabu terakhir di Bulan Safar. Masyarakat, biasa mengenalnya dengan sebutan Arba Mustakmir. Sementara tradisi Jawa dikenal dengan Rebo Wekasan.

Arba Mustamir atau Rebo Wekasan, istilah yang digunakan untuk menyebut hari Rabu terakhir di bulan Safar masih diyakini sebagian kalangan masyarakat sebagai hari yang sakral.

Konon di hari Arba Mustakmir atau Rebo Wekasan  adalah hari datangnya 320.000 bala, sumber penyakit dan marabahaya 20.000 bencana. Maka rata-rata tradisi yang dilaksanakan adalah bersifat tolak bala.

Karenanya menjadi semacam kebiasaan sebagian bagi masyarakat Banjar untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu,

Dijelaskan dalam kitab karya Syeikh Abdul Hamid bin Ali bin Abdul Qodir Quds al-Makki (1277-1335), diterangkan al-Allamah as-Syaikh Addiyarbi dalam Mujarrobat-nya, yang ba’dlul arifin dari ahlul kasyf menceritakan, pada setiap Rabu akhir Shafar , akan dicetak ke bumi 300.000 malapetaka dan 20.000 macam bencana. Barang siapa melakukan salat 4 rakaat, di setiap rakaat setelah fatihah membaca surat al-Kautsar tujuh belas kali, al-Ikhlas lima kali, dan Mu’awwidzatain satu kali. Setelah salam membaca do’a tertentu. (Kanzun Najah Wassurur, 95)

Di kitab yang sama mencerminkan, sebagian orang pada hari itu mengambarkan untuk membaca Surat Yasin. Ketika sampai ayat “Salamun qoulan min robbin rahim” diulang sebanyak 313 kali. Setelah selesai membaca Yasin, membaca doa tertentu. (Kanzun Najah, 98)

Fakta di masyarakat menunjukkan, ada dua amalan (salat dan pembacaan Surat Yasin), yang sering dilaksanakan pada Rabu akhir Shafar.

Pertama, salat Rabu Wekasan. Pijakan ritual atau amaliyah Rabu Wekasan adalah berdasar kasyf atau ilham, termasuk dalam kitab Kanzun Najah. Al-imam Tajuddin Assubuki dalam Jamul Jawami ‘mengemukakan, ilham adalah petunjuk dari Allah yang diberikan ke dalam hati seseorang. Ilham diberikan husus oleh Allah untuk sebagian orang pilihanNya. Ilham menyoroti hujjah, karena tidak ada suaka ma’shum bagi orang yang menerimanya. Ilham juga tidak bisa bersih (steril) dari bisikan setan.

Hal yang berbeda dengan pendapat sebagian besar shufi, yang menyatakan, bahwa ilham dapat digunakan sebagai hujjah bagi dia sendiri. Jadi orang yang ma’il seperti Nabi, maka ilham mungkin sebagai orang-orang dan orang lain, jika memang ada masalah dengan orang lain AS.

Penjelasan itu menunjukkan, salat Rabu Wekasan bukan sunnah Nabi, karena dasar dari amaliyahnya adalah berdasarkan ilham, sementara ilham itu tidak bisa dijadikan hujjah.

Semoga Bermanfaat

(santritv/ihsan)