Ikhlas Hanya Karena Allah
Menu

Ikhlas Hanya Karena Allah

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh K.H.Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor pada Juli 2010.

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ . فاطر : 5 صدق الله العظيم

Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa kembali melanjutkan pengajian setelah kita disibukkan dengan berbagai macam kegiatan menghadapi tahun ajaran baru. Semuanya sibuk. Tidak ada yang menganggur sehingga mengaji ini menjadi tidak sempat. Memang begitulah kalau orang itu sibuk biasanya ibadah juga kadang-kadang suka terlewatkan. Maka Rasulullah Saw. pernah mengingatkan para sahabat. Suatu ketika Rasulullah Saw. berada di mimbar dan para sahabat duduk-duduk di sampingnya. Rasulullah Saw. mengatakan,

إنَّ ممَّا أخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا . متفقٌ عَلَيْه

“Sesungguhnya diantara yang aku khawatirkan terjadi pada kalian sepeninggalku adalah apabila telah dibuka untuk kalian (keindahan) dunia serta perhiasannya.”

Yang baik juga menjadi tidak ada, karena sibuk. Contohnya ya kita ini. Karena adanya kesibukan; Pakde sibuk dengan jahitannya yang begitu banyak sehingga ketika dipanggil, “Ngaji pakde!”, “Gimana ya? Jahitan segini banyaknya, tidak sempat deh. Sampaikan saja salam pada yang lain.” Yang di kampung dengan panen yang melimpah, bagus hasilnya, maka biasanya saat diajak, “Yuk ngaji ayo!” “Waduh tidak sempat ini. Ini kalau tidak dipanen sekarang ini, akhirnya tidak bisa dipanen, keburu rusak,” dan sebagainya, sehingga ia tidak bisa mengaji. Yang di dapur juga begitu, “He ngaji, ngaji!” “Orang lagi kayak gini, banyak kekerjaan, nanti gimana itu orang-orang? Bisa makan apa tidak? Jangan-jangan nanti belum matang.” dan lain sebagainya, diomel-omelin orang. Ya seperti kisah yang sering saya sampaikan. Seorang sahabat dulu, ketika masih miskin, ia sering sekali pergi ke masjid untuk melakukan jama’ah bersama-sama yang lain. Setiap waktu dia selalu ada di shaf pertama, di situ kelihatan. Suatu saat ia tidak pergi ke masjid. Karena rajin itu, satu kali tidak datang, ia ditanyakan. Pakde biasanya rajin ke masjid, suatu saat pakde tidak pergi ke masjid, orang bertanya, “Pakde kemana ya? Sakit apa lagi pergi?” Itu mesti ada seperti itu. Tapi kalau orang tidak pernah pergi ke masjid, di masjid tidak tampak, ia tidak akan ditanya. Nah, ini ditanya oleh yang lain. “Coba dilihat ke rumahnya karena biasanya dia rajin.” Ternyata dilihat dirumahnya, dia menyatakan, “Bagaimana mau ke masjid, sarung saya, pakaian saya robek seperti ini. Tidak pantas untuk shalat di masjid. Saya shalat juga bergantian dengan pakaian istri saya di rumah.” Sehingga dia pergi ke masjidnya karena memang ia tidak mempunyai pakaian lain kecuali pakaian yang biasa dipakai itu. Yang biasa dipakai sudah dalam kondisi robek. Sahabat yang lain menyarankan agar menghadap Rasul meminta doanya. Disampaikan juga oleh sahabat kepada Rasulullah Saw. bahwa si Tsa’labah ini kasihan, pakaiannya hanya satu. Itupun robek, sehingga ia tidak pernah pergi ke masjid. Akhirnya ia dimodali kambing oleh Rasulullah Saw., didoakan mudah-mudahan dengan kambing itu ia bisa mendapatkan rizki nantinya. Alhamdulilllah, kambing dipelihara sehingga ia bisa minum susu karena kambing tersebut bisa diperah susunya. Tidak seperti kita di sini, pada zaman Rasul, orang memelihara kambing sedangkan susu kambingnya diminum oleh pemeliharanya itu. Bahkan bisa dijual dan sebagainya. Nah, Tsa’labah ini juga demikian. Ia diberikan kambing, sehingga diharapkan dari kambing ini nanti ada anaknya, bisa dijual, bisa digunakan untuk membeli pakaian, untuk ibadah, juga ada air susunya yang bisa digunakan untuk minum agar sehat. Ternyata, kambing tersebut terus berkembang (berkah), berkembang menjadi banyak dan semakin banyak. Setelah banyak, si Tsa’labah tidak sempat lagi pergi ke masjid. Ditanya lagi sama yang lain, “Kok tidak kelihatan lagi ya? Kemana ya?” katanya, “Macam-macam, mengurus kambing. Kambing ini beranak. Kambing ini sakit. Sehingga tidak sempat ke masjid. Sibuk sekali. Tidak sempat lagi ke masjid seperti tadinya ketika dalam kondisi masih miskin. Ini bisa jadi. Kita-kita ini ketika diberikan harta benda yang cukup banyak, akhirnya memang jangankan kita ke masjid, jangankan kita mau pergi silaturahim ke tempat lain, mungkin berbuat baik di rumah saja tidak sempat karena selalu berusaha untuk mengurus harta bendanya sehingga tidak sempat lagi. Rasulullah Saw. sangat mengkhawatirkan bila dengan dimudahkannya orang mendapatkan rizki, diberikan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan ini, justru orang-orang itu semakin tidak lagi mau mendekatkan diri kepada Allah, semakin tidak mau lagi untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Kita juga mengalami, ketika kita dalam kondisi sibuk seperti itu, kita kadang-kadang tidak sempat ke masjid. Ada tamu banyak di rumah, terdengar suara adzan. “Waduh gimana ya? Meninggalkan tamu gimana? Tidak meninggalkan, ini sudah azan.” dan sebagainya. Ini bisa saja terjadi, kemudian menyuruh orang, “Waduh, sono tolong suruh si anu saja shalat di masjid. Ada yang menggantikan imamnya. Saya lagi di rumah lagi menemui tamu.” Misalnya. Kadang-kadang berpikirnya menjadi seperti itu. Nah, sekarang bagaimana agar kita tidak rugi dengan harta benda yang bertambah? Kesibukan-kesibukan bertambah, tapi kita tidak rugi. Caranya adalah kita di dalam melakukan apa saja, selagi itu hal-hal yang baik, hendaknya harus diniati, niat lillahi ta’ala, ikhlas melakukan itu, niat semata-mata melakukan pekerjaan itu untuk mendapatkan balasan dari Allah Swt. Lakukan pekerjaan itu sesuai dengan aturannya, dengan baik. Andaiakata menjahit, jangan asal-asalan. Itu namanya zhalim. “Ah, yang penting jadi. Masa bodoh. Rusak? Nanti perbaiki lagi.” Itu zhalim. Maka kita menjahit juga dilakukan sebaik mungkin, serapi mungkin, sehingga jangan sampai ada orang kecewa nantinya, hatinya merasa tidak suka. Kalau masak juga jangan sampai masak asal-asalan, hangus. Masak sayur keasinan, kepedasan. Itu namanya zhalim. Dan nanti ada pihak-pihak yang bersuara, “Waduh nasinya perak kayak begini. Waduh kurang airnya. Waduh baunya bau tidak enak. Sayurnya kepedasan,” misalnya. Karena kita ikhlas, kita hanya ingin mendapatkan balasan dari Allah, maka yang kita lakukan harus yang terbaik. Dengan kita melakukan seperti itu, dengan niat yang ikhlas itu insya Allah kita tidak akan rugi, sekalipun kita sibuk, kita tetap mendapatkan hasil, yaitu dari kesibukan kita ini kita mendapatkan pahala, bukan hanya sekedar mendapatkan bayaran dari majikan, dari orang yang menyuruh kerja, tapi kita juga mendapat pahala. Jadi, menjahit itupun bisa mendapatkan pahala kalau niatnya lillahi ta’ala dan dilakukan dengan standar yang terbaik, tidak asal-asalan. Mencuci itupun kalau diniati lillahi ta’ala, niat karena Allah, niat karena ingin mendapatkan balasan dari Allah Swt., itupun kita akan menjadi bukan saja mendapatkan bayaran karena mencuci itu, tapi juga akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Termasuk menggembala kambing itu kalau diniati lillahi ta’ala, ingin mendapatkan balasan dari Allah, dengan memelihara kambing dengan sungguh-sungguh, nanti kambingnya berkembang banyak kemudian bisa dijual, kemudian bisa digunakan untuk nafaqah anak istri, bisa digunakan untuk beli sandang pangan, untuk ibadah, dan sebagainya, maka akan mendapatkan pahala, sekalipun hanya sekedar memelihara kambing, menggembala kambing. Jadi, supaya kita tidak rugi di dalam melakukan segala macam kesibukan-kesibukan ini jangan lupa niatnya.

إنما الأعمال بانيات

Amal perbuatan itu apa kata niatnya, akan sangat tergantung niatnya. Sama-sama melakukan perbuatan, misalnya menjahit, yang satu dilakukan oleh orang Islam, yang satu dilakukan oleh non-muslim. Orang Islam yang menjahit dengan niat mudah-mudahan mendapatkan balasan dari Allah dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan orang non-muslim, ia menjahit hanya semata-mata ingin mendapatkan upah dari orang yang menyuruh menjahit. Maka orang Islam ini di samping dapat upah, pahala dari Allah juga dapat. Sedangkan non-muslim ini karena niatnya ingin sekedar dapat upah, ya upah itu saja yang didapat, pahalanya tidak. Bahkan andaikata ada dua orang muslim yang melakukan pekerjaan yang sama, tapi dengan niat yang berbeda. Bisa saja yang satu hanya mendapatkan upah itu saja tanpa mendapatkan pahala dari Allah karena niatnya memang sengaja ingin cari upah itu, cari honor itu, cari gaji itu, ya hanya dapat itu saja. Tetapi yang satunya karena dia melakukan ingin mendapatkan pahala dari Allah Swt., ingin mendapatkan balasan dari Allah Swt., maka yang satunya akan mendapat dua-duanya, upahnya dapat, balasan dari Allah Swt. juga dapat. Nah tentang balasan ini, ibu-ibu supaya tahu. Allah Swt. di dalam memberikan balasan itu tidak hanya di akhirat. Artinya di dunia inipun Allah berikan. Sekalipun kita paham betul bahwa kehidupan di akhirat itu lebih panjang, lebih abadi, tidak ada ujung akhirnya bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia. Di dunia ini kan sementara. Kita tidak tahu kapan kita masih bisa hidup. Maunya sih kalo bisa kita mau hidup tiga puluh tahun lagi atau empat puluh tahun lagi. Akan tetapi umumnya orang diberi umur seratus tahun saja sudah tidak bisa menikmati makanan, sudah tidak bisa menikmati pakaian bagus, sudah tidak bisa menikmati apa-apa. Orang berumur sembilan puluh tahun, seratus tahun, di masyarakat sudah stroke kayak begitu. Berak saja sudah tidak bisa cebok, harus dicebokin, makan juga harus disuapin. Maka kita oleh Allah Swt. ya terserah Allah mau kapan. Yang mati masih muda juga banyak. Yang sudah sembilan puluh tahun tidak mati-mati sehingga istrinya bosan nyebokin terus, melayani terus, tidak mati-mati, juga ada yang seperti itu. Perempuan juga ada yang sudah berak di mana-mana, kencing dimana-mana, cucunya pada kesal semua, tidak mati-mati juga. Ada. Terserah Allah Swt. Tapi kita inginnya kapan pun kita ingin dalam keadaan husnul khatimah, yaitu akhir yang baik. Karena itu kalau kita mengetahui bahwa hidup di dunia itu hanya sebentar saja dan kita tidak jelas kapan kita akan diambil oleh Allah Swt. dan hidup di akhirat yang kekal abadi, maka seharusnya setiap apa saja yang kita lakukan itu harus diniati ibadah, menjalankan perintah Allah Swt., kebaikan-kebaikan yang Allah Swt. perintahkan dan Rasul-Nya Saw. itu harus diniati ibadah. Jadi, seperti masak ini juga bisa bernilai ibadah jika diniati ibadah. Tapi, kalau niatnya cuma agar dapat gaji saja, ya tidak bernilai ibadah. Mencuci itupun bisa bernilai ibadah, kalau diniati ibadah, bisa dapat pahala. Tapi, kalau niatnya cuma sekedar ingin dapat upah, ya hanya upah itu yang didapat, karena Allah Swt. tidak akan memberikan. Kalau yang diharapkan hanya sekedar upah duniawi, itu kan kecil sekali. Tetapi, kalau yang diharapkan adalah upah dari Allah Swt., balasan dari Allah, atau pahala, itu lebih besar daripada upah duniawi. Karena kebaikan dalam Islam itu diberikan ganti sepuluh kali lipat. Setiap kebaikan apa saja yang diniati dengan ibadah akan mendapatkan sepuluh kali lipat upahnya, gantinya. Tetapi kalau kita hanya mengharapkan dari manusia, ya kadang-kadang diharapkan juga belum tentu ada. Terkadang orang berbohong. Kadang-kadang orang suruh ini, “Nanti saya bayar segini,” tahu-tahu tidak dibayar, dan sebagainya, banyak kecewanya. Namun, kalau dari Allah, tidak. Dan Allah Swt. memberikan balasan tidak hanya di akhirat. Di dunia ini kalau orang baik, niatnya baik, pekerjaan yang dilakukan baik, tentu saja Allah Swt. juga akan memberikan balasan. Dan orang-orang pun akan senang. Orang-orang yang baik itu disenangi banyak orang. Misalnya, pakde, orangnya baik, jahitannya bagus, orangnya ramah, orang-orang yang datang ke situ dilayani dengan ramah, dengan sopan, kemudian juga tidak pernah ingkar janji. Kalau menjahitnya tiga hari, ya betul-betul tiga hari selesai, bukan tiga hari, tiga bulan baru diberikan. Ini kan penyakitnya kadang-kadang seperti itu. Dan jahitannya juga halus, bagus, orang tidak ada yang kecewa. Misalnya andaikata ada kesalahannya, ya minta maaf, diceritakan, “Oh maaf, kemarin begini dan begini.” Atau orang merasa tidak cocok, “Wah ini terlalu besar, bang. Saya minta dikecilkan.” “Oh ya, sini.” Dengan berbuat baik seperti itu, Allah Swt. akan memberikan pahala kalau niatnya lillahi ta’ala dan orang pun akan suka. Tetapi kalau orang yang tidak baik kepada siapa pun, apalagi tidak baik terhadap Allah Swt., maka orang pun tidak suka melalukan kebaikan kepada orang yang tidak baik itu. Malah biasanya ingin membalas. Orang yang barangnya dirusak oleh orang lain, kadang-kadang ia ingin membalas juga kalau tahu yang merusak siapa. Barang dia juga akan dirusak. Maka lebih baik kita melakukan kebaikan-kebaikan itu dengan niat tulus, yaitu mengharapkan balasan dari Allah Swt. Kalau kebaikan itu tidak diniati seperti itu, kita rugi. Kita tidak akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Maka ingatlah, bahwa hidup di dunia yang sementara ini supaya tidak rugi, amal perbuatan apapun hendaknya diniati dengan ibadah. Bahkan ada perbuatan-perbuatan ibadah karena niatnya supaya dipuji orang bisa saja justru tidak mendapatkan pahala. Misalnya, orang puasa, puasanya bukan karena ibadah, tapi puasanya karena ingin dipuji orang, maka tidak mendapatkan pahala. Dalam hidup ini, kita bekerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan ternyata keinginan manusia itu tidak ada habisnya. Sudah dapat satu keinginan, muncul keinginan yang lain. Misalnya, ingin beli baju. Baju itu sudah terbeli, muncul keinginan yang lain. Ingin makan enak, makanan enak itu sudah terbeli, masih ingin yang lain. Beli ini beli itu. Keinginan manusia tidak akan ada henti-hentinya, sehingga terkadang kita terjebak di sini. Bagaimana kita bisa memenuhi keinginan itu dengan bekerja keras sehingga ibadahnya terlupakan, atau tidak diniati ibadah dan sebagainya. Di sini kita akan mengalami kerugian, karena ternyata kalau kita bekerja seperti itu terus menerus demi memenuhi keinginan kita tanpa harus ibadah, kita belum tentu bisa menikmati. Karena apa? Kita kan tidak tahu hidup sampai kapan? Kapan datangnya kematian kita? Bekerja terus menerus siang malam sampai ibadahnya ditinggalkan, dikira ia masih hidup panjang, tahu-tahu mati. Kalau sudah mati, apa yang terjadi? Kata Rasulullah Saw. ketika orang itu mati, hanya ada tiga yang ikut dia; satu, keluarganya. Ketika ada yang mati, keluarganya ikut sampai ke makam. Bahkan pengaruh keluarga ini terkadang mengajak teman-teman, tetangga, dan sebagainya, kasihan, sehingga banyak yang mengantarkan sampai ke makam. Kedua, harta. Hartanya ini ikut ke makam. Mungkin untuk membayar orang menggali lubang, cari keranda, atau beli kain kafan. Ketiga, yang mengikuti adalah amal. Dua yang mengikuti pulang lagi, yang satu yang setia. Yang kembali lagi siapa? Yaitu keluarga. Keluarga ini walaupun saat menikah janjinya sehidup semati. Ketika suami mati, ia tidak mau ikut mati. Kedua, harta. Harta yang diperjuangkan, tiap hari dikumpulkan. Ternyata ketika ia mati, tidak ada yang ikut. Tanahnya tidak ikut. Mobilnya tidak ikut. Rumahnya juga tidak ikut. Semuanya tidak ikut. Uang yang ada juga tidak ikut. Bahkan harta ini nantinya akan ikut orang lain. Oleh yang hidup dijual, akhirnya ia ikut orang lain. Padahal dahulu diperjuangkan. Belum sempat menikmati, sudah mati. Inilah kehidupan. Rasanya kita ingin mengumpulkan terus, tidak tahu kapan menikmatinya sudah mati. Akhirnya tidak terbawa, sayang. Yang ketiga amal. Amal inilah yang akan kekal, akan mengikuti, akan mendampingi, akan menyelamatkan. Ketika amal perbuatannya di dunia ini baik-baik – sebenarnya amal perbuatannya banyak yang baik-baik, namun karena tidak diniati, maka tidak terbawa – ketika amal perbuatannya ini baik-baik, Sismi misalnya, bekerja di pesantren sekian lama, di dapur dengan niatan lillahi ta’ala, “Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada saya.” Ini nanti akan mendampingi dia. Ini-ini harus di surga ini. Ia bekerja di pesantren dengan ikhlas. Pada malam hari saat orang lain tidur semua, ia sudah bangun jam 2 malam. Ia ikhlas melakukan pekerjaan di pesantren, tidak pernah mengeluh. Yang seperti ini, nanti amalnya akan bisa mendampinginya. Harta benda? Tidak ada. Orang sekaya apapun, harta bendanya tidak akan masuk ke liang kubur. Orang China waktu mati, baju pengantinnya, jasnya, dan sebagainya dibawa ke kuburannya. Katanya, “Biar di sana nanti menjadi kemanten lagi.” Coba saja! Itu kan barang dunia. Busuk. Dikubur sekian lama akan menjadi busuk. Emasnya dibawa ke sana supaya nanti dipakai di sana. Alamnya sudah beda. Maka rugi sekali kalau kita hidup di dunia ini tidak punya amal. Kita kan banyak melakukan perbuatan-perbuatan baik, namun kalau tidak diniati lillahi ta’ala kan percuma, sia-sia. Maka perlu ada niat ingin mendapatkan balasan dari Allah Swt. Baiklah ini saja yang perlu saya sampaikan. Tolong, perbuatan apa saja, baik itu mencuci, masak, menjahit, dan sebagainya harus niat lillahi ta’ala. Kalau niat lillahi ta’ala, niat karena ingin mendapatkan balasan dari Allah Swt., insya Allah balasan Allah Swt. akan diberikan kepada kita. Balasan duniawinya pun kita akan dapat, karena Allah itu Maha Kuasa. Bukan hanya di akhirat Allah akan memberikan balasan, di dunia pun Allah Swt. akan memberikan balasan. Sekian saja pengajian hari ini.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

_____________________________________

Disampaikan Oleh K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc

Di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining.

Bogor, Juli 2010

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Maklumat Pimpinan Terkait Peraturan Terbaru Kedatangan Santri

Maklumat Pimpinan Pesantren Annur Darunnajah 8 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 dan Kedatangan SantriMaklumat Pimpinan Pesantren An-Nahl Darunnajah 5 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dan