Darunnajah Kindergarten, 16/04
Bermain merupakan cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar tentang apa saja yang bisa mereka kerjakan di sekitar mereka. Permainan dan mainan yang sesuai dengan perkembangan anak-anak akan mendorongnya berlatih dan memberikan kesenangan.
Permainan adalah suatu pekerjaan yang penuh kesungguhan hati dan timbul dari kodratnya. Anak-anak sehat tentu suka bermain sedangkan anak yang tidak suka bermain mungkin tidak berbadan sehat. Saat bermain pun, anak tak akan berasa kalau dia juga belajar. Seperti bermain balok, dia pasti akan menghitung balok yang akan dia susun menajdi sebuah bangunan. Sistem pembelajaran di Taman Kanak pun belajar sambil bermain, bermain seraya belajar. Asalkan orang tua mampu memberikan permainan yang baik dan mendidik anak.
Saat memberikan mainan bagi anak-anak, orangtua harus mencarikan permainan yang tepat dan sesuai dengan umurnya. Syarat mainan anak adalah
=> Mainan terbuat dari bahan yang aman
=>Tidak boleh ada bagian yang tajam sehingga bisa melukai
=>Mudah dicuci dan tidak mengandung bagian yang mudah terlepas
=>Memiliki warna-warna tua dan mencolok
Umur 3-4 bulan. Bayi mulai diberi mainan misalnya bola rajutan dengan warna-warna yang mencolok, mainan dengan bunyi-bunyian.
Umur 5-6 bulan. Bayi yang sudah pandai memegang dan meraba-raba diberi mainan agar bisa memegang dan meraba misalnya benda dari karet atau kain.
Umur 7-9 bulan. Gerakan jari-jari bayi sudah lebih bisa dikuasai sehingga bayi bisa memegang dan menarik-narik segala sesuatu yang dekat dengannya. Berilah kubus-kubus balok dari kayu yang beraneka warna, bola, binatang-binatang dari kain yang ditaruh dalam box.
Umur 10-12 bulan. Anak mulai belajar jalan sejauh beberapa langkah. Berilah permainan yang bisa bergerak agar ia dapat menarik mainan tersebut. Contohnya mobil-mobilan, kereta-keretaan atau bola karet yang bisa dilempar.
Umur 1-2 tahun. Anak sudah pandai berjalan dan berlari kecil serta sudah memiliki keinginan untuk mengetahui apa saja yang ada disekitarnya sehingga ia senang sekali membongkar laci atau lemari. Berilah mainan kotak yang berisi baju, balok-balok kecil atau perkakas rumah tangga berbentuk kecil seperti meja, kursi, sapu dan sebagainya.
Umur 3 tahun. Kubus-kubus balok beraneka warna, kotak berisi kertas berwarna dan pensil warna sangat menarik perhatian anak pada umur 3-4 tahun. Kesempatan-kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan dan mengadakan percobaan dengan keterampilan baru akan menolong dalam belajar dan menghiburnya.
Orang tua juga harus pandai memilih mainan yang aman untuk anak-anak saat membeli di toko, tipsnya :
1. Baca label dengan teliti : Kebanyakan orang tua membeli mainan anak tidak membaca label. Berdasarkan temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), banyak mainan yang tidak memiliki label bahasa Indonesia. Padahal, dalam peraturan perdagangan dijelaskan bahwa produk apa pun harus mencantumkan label berbahasa Indonesia, yang berisi tentang bagaimana cara menggunakannya dan untuk usia berapa.
2. Harga mahal belum tentu aman : Selama ini, banyak orang tua beranggapan bahwa harga menentukan kualitas. Hal ini memang benar, tetapi tidak selamanya harga mainan yang mahal itu aman. “Dari temuan yang kita dapatkan, ada mainan anak yang harganya Rp 30 ribu sampai Rp 300 ribu. Ternyata yang mahal itu masih terdapat bahan kimia dan logam berbahaya,” kata Noor Jehan, staf peneliti YLKI.
3. Membeli mainan sesuai usia anak : Misalnya, untuk anak berusia 3 tahun sebaiknya jangan dibelikan mainan yang ukurannya terlampau kecil. Karena yang ditakutkan, anak Anda akan memasukkan mainan tersebut ke dalam mulut mereka. “Sehingga, apabila zat berbahaya itu masuk ke dalam tubuh dan berakumulasi akan membahayakan kesehatan anak,” tambahnya.
4. Periksa fisik mainan: Beberapa mainan edukasi anak umumnya berbahan dasar kayu seperti sempoa. Sehingga penting untuk melihat dan memeriksa kondisi permukaan mainan, apakah aman atau tidak bagi anak. Karena serpihan mainan berbahan kayu yang tidak mulus misallnya bisa masuk ke tangan anak-anak atau bahkan ikut termakan.







