Nafsu merupakan bagian dari makhluk Allah. Dengan berbekal nafsu pula manusia dapat menjalankan kehidupannya secara wajar sebagai makhluk hidup yang hidup di alam dunia.

Berbagai kebutuhan penting manusia, seperti makan, minum, tidur, menikah, dan lain sebagainya, melibatkan nafsu di dalamnya. Karena itu, secara alamiah nafsu bukanlah hal yang mutlak buruk.

Namun demikian, nafsu memiliki kecederungan-kecenderungan untuk menyimpang. Kerena itu, dalam Islam terkandung anjuran kuat untuk mengendalikan nafsu. Memang manusia tak diperintahkan untuk memusnahkannya, namun nafsu harus memegang kuasa penuh atasnya agar selamat dari jebakan dan godaan-godaannya yang menjerumuskan.

Allah Ta‘ãlã mengingatkan:

أَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُ هَوٰىهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

A ra`aita manittakhaża ilāhah hawāh, a fa anta taknu ‘alaihi wakīlā

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al Furqãn[25]: Ayat 43)

Pilihannya hanya dua, apakah kita menguasai nafsu atau justru dikuasai oleh nafsu. Dua pilihan ini pula yang menentukan apakah kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki atau tidak. Imam Abu Hamid al-Ghazali pernah mengatakan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ûlûmiddîn:

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ

“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuiasai nafsunya.”

Dalam surat Al Jãtsiyah ayat 23 Allah Ta‘ãlã  juga mengingatkan hal yang sama: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Lihatlah diri kita. Betapa sering kita merasa sombong, marah-marah tanpa alasan yang jelas, kikir, iri dengki, berkeluh kesah? Hampir tiap waktu kita selalu diisi oleh sifat-sifat tersebut. Tanpa sadar, posisi Allah Ta‘ãlã sebagai Tuhan dalam diri kita sudah digantikan oleh hawa nafsu kita.

Walaupun secara lahiriah nampak shalih, rajin shalat, baca Al Qur’an, namun sesungguhnya tidak akan banyak bermakna jika kita tidak menyadari bahwa kita harus menyingkirkan tuhan-tuhan hawa nafsu dari relung hati kita.

 

(DN.COM/arulanisrullh)