Hasan Al-Bashri: Mutiara Tabiin yang Didoakan Umar bin Khattab Hasan Al-Bashri: Mutiara Tabiin yang Didoakan Umar bin Khattab

Hasan Al-Bashri: Mutiara Tabiin yang Didoakan Umar bin Khattab

Dalam jajaran ulama generasi Tabi’in, nama Hasan Al-Bashri (21-110 H) menduduki posisi yang sangat istimewa. Lahir di lingkungan pengasuhan para sahabat nabi. Meski terlahir dari seorang hamba sahaya milik Ummu Salamah dan ayahnya yang sempat menjadi tawanan perang sebelum akhirnya dimerdekakan dan tinggal di Madinah, Hasan Al-Bashri terkenal melalui kedalaman spiritual, kejujuran moral, dan kesederhanaannya yang melegenda. 

Pada tanggal 21 Hijriah (sekitar tahun 642 Masehi) menjadi hari pertama bagi seorang anak yang akan mengukirkan namanya dalam sejarah islam. Lahir di Madinah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA hingga beliau sediri yang memberikan nama tersebut sambil mendoakannya: “Ya Allah jadikanlah dia paham dalam agama dan jadikanlah dia dicintai oleh manusia”

Hasan Al-Bashri dikenal sebagai orang yang tekun beribadah dan sangat menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Dikaruniai dengan kecerdasan dan daya ingat yang sangat kuat serta nalar yang sangat tajam. Sahabat Anas bin Malik pernah berwasiat, “Dia menimba ilmu kepada kami, akan tetapi sekarang kami telah banyak lupa sedangkan ia masih mengingat ilmu yang kami ajarkan”

Tak hanya dianugerahi wajah yang rupawan dan kefasihan lisan, Hasan juga merupakan sosok yang paling dermawan serta berwawasan luas. Keberaniannya teruji nyata saat ia berada di barisan terdepan medan perang bersama Al-Muhallab bin Abi Shufrah melawan kaum Musyrikin. Tak heran jika para sahabat mengakuinya sebagai figur dengan keteguhan hati paling luar biasa di tengah khalayak ramai. 

Sikapnya yang selalu memikirkan sesuatu sebelum ia berbicara dapat memberikan pandangan yang baik, khususnya dalam pemberontakan Ibnu Al-Asy’ats melawan Al-Hajjaj bin Yusuf. Ketika peristiwa itu terjadi, ada sekelompok orang yang datang kepada Hasan dan menanyakan tentang hukum memerangi penguasa yang zalim karena suka menumpahkan darah dan melakukan berbagai pelanggaran. 

Hasan menjawab bila segala bentuk hukuman yang terjadi dari Allah, maka hendaknya mereka bersabar sampai Allah yang melakukannya, karena sebaik-baiknya hakim adalah Allah. Namun merasa tidak puas akan tanggapan yang diberikan oleh Hasan, mereka tetap menjalankan perang bersama Ibnu Al-Asy’ats dan seluruh pasukannya tewas bersimbah darah. 

Hasan Al-Bashri meninggalkan sepenggal wasiat sebelum ia meninggal. Abu Thariq As-Sa’di berkata, “ Aku menyaksikan Al-Hasan ketika menjelang wafatnya sedang berwasiat. Ia berkata kepada seorang penulis, ’Tulislah: Inilah yang disaksikan oleh Hasan bin Abi Al-Hasan. Ia bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Barang siapa bersaksi dengan kalimat ini secara jujur ketika menjelang kematiannya, maka ia akan masuk surga”