Bersyukur, Guru Darunnajah Menjadi Petugas Ibadah Haji Indonesia
Menu

Bersyukur, Guru Darunnajah Menjadi Petugas Ibadah Haji Indonesia

Petugas Ibadah Haji Indonesia

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Pengertian Haji

Ibadah Haji adalah termasuk Rukun Islam yang ke-5, setelah Syahadat, Sholat, Puasa, dan Zakat. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahuanan yang dilakukan oleh umat Islam, yang mampu secara material, fisik, maupun keilmuan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan berbagai macam kegiatan pada satu waktu yang telah ditentukan yaitu, pada bulan Dzulhijjah.

Petugas Ibadah Haji Indonesia
Petugas Ibadah Haji Indonesia

Alhamdulillah, tahun ini salah satu Guru di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, berhasil menjadi petugas TPHD (Tim Pemandu Haji Daerah) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Ustadz H. Mustajab adalah yang dimaksudkan. Terpilihnya beliau menjadi petugas Haji Indonesia, tidak dengan cara yang mudah. Tetapi setelah melalui berbagai macam seleksi ketat. Pendaftar petugas haji tersebut mencapai 1.700 orang dari seluruh Indonesia.

Seleksi tahap pertama sebanyak 1.640 orang, memasuki tahap kedua dengan jumlah peserta 900 orang, sampai tahap terakhir kelulusan adalah, hanya 96 orang yang terpilih. Ini adalah keberkahan yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada beliau. Amanah dan tanggungjawab yang besar telah beliau dapatkan.

Kesempatan untuk menjadi petugas haji adalah lima tahun sekali. Kloter yang beliau dapatkan bernama Kloter 9 JKS Kabupaten Bogor. Ada enam petugas dari setiap kloter yang ada, diantarnya yaitu, Ketua Kloter, TPHI (Tim Pemandu Haji Indonesia), TPIHI (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia), TPHD (Tim Pemandu Haji Daerah), satu orang dokter dan 2 orang perawat. Dalam satu kloter tersebut terdiri dari 701 jamaah haji yang siap diarahkan. Beberapa peserta yang berada di dalam kloter 9 JKS tersebut termasuk salah satu anggota MUI dan staf ahli Bupati.

Pemberangkatan Jama’ah Haji

Pemberangkatan Jama'ah Haji Indonesia
Pemberangkatan Jama’ah Haji Indonesia

Sebelum pemberangkatan haji, para petugas telah mengikuti bimbingan terlebih dahulu, tujuannya agar semua tugas yang diberikan bisa terlaksankan dengan baik dan sesuai dengan keinginan. Karena pada hakikatnya, kewajiban para petugas tidak hanya mengarahkan dan menjaga kloter yang bersama dengan mereka, tetapi tanggungjawab mereka adalah untuk mengawal seluruh jama’ah haji Indonesia.

Pemberangkatan dimulai dari tanggal 31 Juli 2017 M/7 Dzulqodah 1438 H sampai 10 Setember 2017 M/19 Muharram 1439 H, sekitar 42 hari kegiatan tersebut dilaksanakan. Terdapat empat  KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji), diantaranya, Nurul Fallah, As-Salam, Al-Khautsar, dan Darul Faizin. Jamaah berangkat dari Emberkasi Bekasi (nama asrama untuk jamaah haji sebelum pemberangkatan), menuju Pemda untuk mengikuti pelepasan, kemudian berlanjut ke Bandara Soekarno Hatta, menuju kota Madinah dan Kota Mekkah.

Kegiatan di Kota Madinah

Berziarah di Kota Madinah
Berziarah di Kota Madinah

Sesampainya di Kota Madinah jama’ah menginap di Hotel Taiba yang berbatasan langsung dengan Masjid Nabawi. Sesuai program yang dianjurkan oleh pemerintah, jama’ah di wajibkan untuk melaksankan sholat berjama’ah sebanyak 40 kali (sholat fardu), Shalat fardu berjama’ah tersebut berhasil dilakukan selama delapan hari.

Selain melakukan shalat berjama’ah, agenda jama’ah haji tersebut adalah berziarah ketempat-tempat bersejarah. Diantaranya, Jabal Uhud, merupakan gunung yang sangat di cintai Nabi Muhammad SAW. Masjid Qiblataini (artinya masjid dengan dua kiblat) adalah salah satu masjid yang terkenal di Madinah. Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun Rasulullah. Perkebunan Kurma, Kota Madinah dikenal sebagai kota penghasil kurma terlezat di Arab Saudi. Masjid Khandak adalah tempat dimana Rasulullah memimpin Pasukan Khandak.

Puncak Ibadah Haji dilakukan di Kota Mekkah

Ka'bah dilihat dari Lantai Atas
Ka’bah dilihat dari Lantai Atas

Tiba saatnya, para jama’ah melanjutkan perjalanan menuju Kota Mekkah Al-Mukarramah. Dengan fasilitas Bis khusus yang diberikan oleh pemerintah Indonesia, jama’ah haji berhasil sampai di Kota Mekkah atau kota utama di Arab Saudi. Kota ini menjadi tujuan utama kaum muslimin dalam menunaikan ibadah haji. Di Kota ini terdapat sebuah bangunan utama yang bernama Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya.

Satu bulan lamanya, jama’ah berada di Kota Mekkah, dengan menginap di Hotel Wihdah 1 yang berada di Jarwal. Sambil menunggu puncaknya kegiatan ibadah haji, para jama’ah kembali berziarah di Kota Madinah. Raudhah termasuk kunjungan utamanya, kerana tempat tersebut merupakan tempat dikabulkannya do’a. Batas Raudhah dengan tempat lainya telah ditandai dengan karpet berwarna hijau.

Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dan harus dilakukan dalam berhaji. Rukun haji tersebut yaitu, Ihram, Wukuf di Arafah, Tawaf Ifadah, Sa’I, Mencukur Rambut, dan Tertib. Rukun haji harus dilakukan secara berurutan dan menyeluruh. Jika salah satu ditinggalkan maka hajinya tidak sah.

Sedangkan wajib haji, yaitu memulai Ihram dari Miqat, dengan batas waktu dan tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah haji dan umrah.  Lalu melontar Jumrah, Mabit, atau menginap di Mudzalifah, dan Mabit di Mina, dan Tawaf Wada’ atau Tawaf Perpisahan. Jika salah satu dari wajib haji tersebut di tinggalkan maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda).

Memasuki puncak haji, yaitu pada tanggal 9 Zulhijjah para jama’ah segera melaksanakan wukuf di padang Arafah. Telah disiapkan tiga tenda khusus untuk jama’ah haji kloter 9 JKS, karena dengan total jama’ah 401, sehingga tidak akan cukup jika hanya menggunakan satu tenda. Sebelum melaksanakan wukuf pada sore harinya, kegiatan setelah sholat dhuhur adalah mendengarkan Khutbah Wukuf, setelah itu membaca Al-Quran sampai pukul 17.00 sore hari untuk segera melaksanakan Wukuf.

Dalam perjalanan wukuf, ada satu jama’ah yang mengalami musibah, hal yang tidak diinginkan terjadi. Ada satu jama’ah yang meninggal dunia. Tetapi inilah kebesaran Allah SWT yang telah ditakdirkan untuk para hambanya. Dan kematian pasti akan datang kepada semua manusia di muka bumi ini. Bahkan bukan hanya kematian yang terjadi kepada jama’ah, tetapi juga ada salah satu jama’ah yang jatuh sakit, sehingga tidak dapat melaksanakan Wukuf di Arafah. Yang pada akhirnya digantikan atau diwakilkan oleh dokter khusus, dan ini diperbolehkan.

Perjalanan dari Mudzalifah menuju Mina memakan waktu selama 12 jam menggunakan Bis. Kegiatan selanjutnya adalah melempar Jamarat dari tanggal 10 (7 kerikil), tanggal 11 (21 serikil), tanggal 12 (21 kerikil), urutan selama tiga hari ini disebut Nafar Awal dengan membutuhkan 49 kerikil. Sedangkan, diperobehkan juga jama’ah haji melaksanakan Nafar Stani yaitu dimulai dari tanggal 10 (7 kerikil), tanggal 11 (21 kerikil), tanggal 12 (21 kerikil), tanggal 13 (21 kerikil), jadi total semuanya, adalah 70 kerikir untuk Nafar Stani.

Kembali ke Negeri Tercinta Indonesia

Jama'ah Haji Indonesia menuju Negeri Tercinta
Jama’ah Haji Indonesia menuju Negeri Tercinta

Setelah rangkaian ibadah haji selesai dilakukan, maka segeralah jama’ah haji kembali ke Negara asalnya, yaitu Negara Indonesia. Perjalanannya di mulai dari Mekkah menuju Jeddah kemudian Indonesia. Tetapi ketika berada di Jeddah, beliau bertemu dengan para alumni Pesantren Darunnajah 2 Cipining yang sedang bertugas disana. Sungguh sangat kuat ikatan kekeluargaan yang dimiliki oleh guru dengan murid tersebut. Tidak memandang tempat dan profesi, dimanapun para alumni tersebar, disanalah butir-butir pejuang akan berkembang. (Wardan/Mbafer)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Maklumat Pimpinan Terkait Peraturan Terbaru Kedatangan Santri

Maklumat Pimpinan Pesantren Annur Darunnajah 8 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 dan Kedatangan SantriMaklumat Pimpinan Pesantren An-Nahl Darunnajah 5 Terkait Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dan