Daurah Dai dan Imam di Mesir Daurah Dai dan Imam di Mesir

Guru Darunnajah Cipining Ikuti Pelatihan Da’i dan Imam di Mesir

Ustadz Katena Putu Ghandi, S.Pd.I., Kepala Madrasah Aliyah Darunnajah Cipining, mengikuti Daurah Tadrib al-Duat wa al-Aimmah (Pelatihan Da’i dan Imam) yang berlangsung di Mujamma’ al-Buhuts al-Islamiyah, Universitas Al-Azhar Asy-Syarif, Cairo, Mesir. Pelatihan ini dilaksanakan selama 2 bulan, mulai tanggal 1 November 2019 sampai dengan 31 Desember 2019.

Selain Ust Katena, peserta lainnya dari Darunnajah Pusat adalah Ustadz Muhamad Irfanudin Kurniawan, M.Ag., sebagai Wakil Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah Jakarta, dan Ustadz Lili Mohammad Darli, M.A., selaku Kepala Biro Rumah Tangga Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar Asy-Syarif ini diikuti oleh para peserta dari berbagai negara. Ada dari Negeria, Kazakhtan, Togo, Malaysia, Rusia, Tunisia, Sudan, dll. Dari Indonesia sendiri, selain tiga orang dari Pesantren Darunnajah, ada lima peserta lainnya utusan dari PBNU sebanyak 8 orang, yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

Dalam pelatihan Da’i dan Imam ini, para peserta akan mempelajari ilmu-ilmu syariah seperti Ilmu Hadits, Tafsir, Fiqh, Ushul Fiqh dan Bahasa Arab. Pelatihan (arab=Daurah) ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ilmiah dan amaliyah para peserta dalam memecahkan masalah kontemporer masa kini, juga mempersiapkan Imam dan Da’i untuk berdakwah di kancah Internasional serta menjadi Duta-duta Al-Azhar dalam menpromosikan Wasathiyah Islam.

Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si. berkesempatan melepas ketiga guru peserta daurah ini, seraya mendo’akan kepada para mereka bertiga, agar dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik, serta mengambil ilmu dan wawasan dari para masyayikh.

Tiba di Kairo, Mesir.

Hari Sabtu, tanggal 2 November 2019, peserta daurah dari Pesantren Darunnajah tiba di Kairo Mesir. Mereka dijemput oleh teman-teman Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah (IKPDN); Isa Rizky yang merupakan alumni Darunnajah Cipining dan Dhifa dari Darunnajah 8 Cidokom.

Informasi dari mahasiswa (alumni Darunnajah) yang sedang menempuh pendidikan di Mesir, bahwa musim dingin baru saja dimulai, suhu di malam hari bisa mencapai 18-15°C. Tentu bagi peserta daurah yang baru pertama kali mengunjungi Mesir, cukup mengagetkan. Namun ahlamdulillah, para peserta daurah dalam keadaan sehat, sambil perlahan beradaptasi dengan Iklim baru di Negeri para Nabi ini. Peserta daurah dari Indonesia ini, ditempatkan di Madinatul Bu’uts al-Islamiyah di Imaroh Jadidah.

Selanjutnya panitia daurah menghimbau agar peserta segera melakukan registrasi ulang di Kkantor. Alhamdulillah, Ketika melakukan registrasi tersebut, untuk pertama kalinya peserta daurah dari Indonesia ini bertemu dengan peserta lain dari berbagai negara, termasuk negara tetangga yaitu Malaysia. Peserta juga bertemu dengan saudara baru dari Rusia, Nigeria, Chad, dan beberapa negara lainnya.

Kegiatan Daurah

Hari Senin, tanggal 4 November 2019, Pkl 08.00 waktu Kairo, acara daurah pun di mulai . Diawali dengan sambutan dari Kepala Akademik Madinatun Bu’uts yaitu Prof. Dr. Muhammad Isa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan beberapa point tentang daurah sebagai berikut;

  1. Dalam sambutannya kepala Akademik Madinatun Bu’uts Al-azhar Mesir Prof. Dr. Muhammad Muhammad Isa menyampaikan bahwa kedatangan para Imam dan da’i ke Madinatul Bu’uts bukan hanya sekedar untuk kuliah, tetapi lebih dari itu.
  2. Kehadiran di Madinatun Bu’uts supaya dijadikan momentum untuk berdiskusi dan bermusyawarah dengan para ulama dalam masalah-masalah keumatan yang dihadapi di negara masing-masing.
  3. Beliau juga menyampaikan bahwa setiap sesi pelatihan jangan membiarkan pemateri berbicara sendiri, tapi setiap peserta harus dan wajib menyampaikan pemikiran, pendapat dan kritikan atau intisari dari apa yang dikuliahkan.
  4. Dalam latihan ini tidak cukup hanya menulis materi yang disampaikan, tapi semuanya perlu membukan hatinya, pikirannya dan menyampaikannya, sehingga semuanya mendapatkan manfaat yang lebih besar dari pelatihan ini.
  5. Diskusi menjadi metode terpenting dalam pelatihan ini, karena dengan diskusi setiap peserta bisa mengambil banyak hal, baik dari pemateri maupun dari peserta yang lainnya. Dengan diskusi semuanya bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki, sebagai para Imam dan Da’i harusnya sudah memiliki dasar-dasar keilmuwan Islam yang matang.
  6. Dalam pelatihan ini, setiap peserta harus mulai menulis apa yang menjadi permasalah dalam dakwah di negara masing-masing dan tulisan itulah yang nantinya akan didiskusikan bersama.
  7. Dalam penutup sambutan kepala Akademik Madinatun Bu’uts Al-azhar mendekatkan bahwa dirinya dan semua staf-stafnya ada untuk para Imam dan Da’i, untuk Islam dan semua umat Muslim.
  8. Menurutnya khidmahnya sebagai kepala Akademik adalah hak para Imam dan Da’i atau hak Islam dan Muslimin yang harus diambil darinya, oleh sebab itu, kami membuka pintu 24 jam untuk mendiskusikan perkembangan dakwah di negara masing-masing.

Selanjutnya, Peserta daurah dibagi menjadi 2 kelas. Setiap hari ada tiga sesi, yang setiap sesi-nya berdurasi kira-kira 1 jam. Materi pertama “kelompok-kelompok dalam Islam” oleh Prof Dr. Mahmud Muhammad Husein. Namun dalam sesi pertama ini, professor dalam bidang aqidah dan filsafat ini, tidak langsung memberikan materi, beliau meminta kepada para peserta untuk memperkenalkan diri.

Daurah Dai dan Imam di MesirDr. Mahmud menyampaikan bahwa peserta yang dikumpulkan untuk dauroh selama dua bulan di Al-Azhar Asy-syariif harus memiliki niat yang kuat dan menyamakan persepsi dakwah Islamiyah ke berbagai negara. Sehingga daurah tersebut dapat membawa kepada perubahan, baik untuk diri sendiri maupun untuk negara. Peserta daurah yang berasal dari berbagai negara yang berbeda, disatukan oleh satu agama yakni Islam, yang memiliki Tuhan yang sama, memiliki Kitab suci yang sama, dan memiliki Nabi dan Rasul yang sama.

Sesie berikutnya adalah materi Aqidah yang disampaikan oleh Prof Dr. Muhammad Robi’ Muhammad Juhuri yang membahas tentang Aqidah Islamiyyah dan berbagai permasalahannya. Dan sesi terakhir yaitu materi Tafsir al-Qur’an oleh Prof Dr. Hasan Abdul Hamid, beliau membahas tentang Tafsir al-Qur’an Dan diskusi tentang permasalahannya.

Di sela-sela kegiatan daurah, peserta daurah dari Darunnajah; Ust Katena, Ust Irfanuddin, Ust Lili berkesempatan berkunjung ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Mesir. Mereka bertiga diantar oleh teman-teman IKPDN; Harun Rama Satsono dan Ahmad Mujahid al-Hafizh yang keduanya merupakan alumni Darunnajah Cipining. Alhamdulillah mereka diterima dengan hangat oleh staff KBRI Atase Dikbud dan dipertemukan dengan Kepala Adikbud yaitu Dr. Usman Syihab, serta staff KBRI; Ustadz Cecep Taufiq, MA., Ustadz Subhan, MA., dan Ustadz Muhlason Jalaluddin.

Banyak hal yang diperbincangkan, diantaranya terkait dengan dauroh dan arah pendidikan di era teknologi saat ini. Pada kesempatan itu juga, mereka bisa bertemu dengan Ustadz Heriyanto staff KBRI yang juga merupakan alumni Darunnajah 2 Cipining, yang baru saja tiba dari mudik ke Indonesia, beberapa hari yang lalu. (WARDAN/DR)