Menu

Darunnajah Kirim Tiga Guru Ikuti Pelatihan di Universitas Al-Azhar Mesir

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA) telah menjalin banyak kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi dunia, salah satu perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir yang disebut sebagai perguruan tinggi tertua di dunia.

Salah satu bentuk kerja sama yang telah berjalan antara kedua perguruan tinggi ini adalah pengiriman utusan atau yang dikenal dengan sebutan mab’uts dari Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir terhadap Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah. Tercatat lebih dari 5  orang utusan yang telah dikirim dalam kurun waktu 25 tahun kerjasama ini.

Atas dasar itu, Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah juga mengirim para dosennya untuk mendapat pelatihan secara langsung di Universitas Al-azhar. Tercatat tiga angkatan yang sudah berangkat untuk mendapatkan pelatihan intensif di negri Kinanah itu.

Pada tahun ini, tiga dosen atau tenaga pendidik Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah, kembali berangkat untuk mengikuti pelatihan intensif tersebut.

Diantara mereka adalah:

  1. Bapak Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag.

Wakil Ketua Satu Bidang Akademik yang mengampu materi Sejarah Peradaban Islam, Fiqih Siasah, Bahasa Arab dan Metode Studi Islam.

  1. Bapak Lili Muhammad Darli, MA.

Dosen Perbandingan Fiqih, Nushusul Kitab dan Ta’bir Arabi.

  1. Bapak Katena Putu Ghandi.

Dosen Managemen Pendidikan Islam dan Managemen Lembaga Pendidikan Islam.

Rombongan diterima Pengurus IKPDN Mesir

Setibanya di Bandara Kairo Mesir, rombongan dijemput langsung oleh pengurus Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah (IKPDN) Mesir dan diantar langsung ke Madinatul Bu’uts, beberapa info tentang kehidupan di Mesir mereka sampaikan dengan fasih.

Alhamdulillah, alumni-alumni Darunnajah sudah tersebar di berbagai daerah dan negara dalam satu payung IKPDN, sehingga memudahkan silaturrahmi dan koordinasi antar alumni.

Sesampai di Madinatul Bu’uts, kami tidak langsung diterima oleh penjaga lembaga tersebut (Security/Satpam), kami diminta menunggu dan menyerahkan pasport, setelah dijelaska bahwa kami adalah undangan Al-azhar untuk mengikuti pelatihan Imam dan da’i barulah kami diizinkan masuk dan langsung mendapat penginapan.

Setelah merapikan barang-barang di penginapan, kami diarahkan kebagian registrasi pelatihan yg terletak di Gedung No.15.

Gedung-gedung dengan warna dan bentuk yang sama hanya dibedakan oleh nomer dan beberapa nama, cukup membuat kami susah menghapalnya.

Setibanya di tempat registrasi, beberapa peserta dari negara-negara lain sudah berkumpul, ada yang berasal dari Rusia, Nigeria, Sudah, dll.

Ketika menuju meja registrasi, petugasnya bertanya “anta malizi?”, dan sontak kami menjawab “la, lasna malizian bal indonesia.”

Warga Indonesia di luar negeri memang sering disebut malaysia atau philipina dll.

Kesamaan rupa dan warna kulit ini yang menjadi pertanda.

Oleh sebab itu, ungkapan nusantara yang pernah disebutkan oleh pati Gajah Mada masih tetap relevan.

Sayangnya pembukaan yang direncakan akan dibuka pada hari ini belum bisa dilaksanakan, hanya pemberkasan dan registrasi yang kami lakukan kemudian kembali ke kamar.

Sore dan malam hari, beberapa pengurus Ikatan Keluarga Pesantren Darunnajah datang bersilaturahmi, dengan suka cita. Mereka bercerita tentang perjuangannya di Mesir.

Alhamdulillah, secara umum semuanya baik dan bisa mengikuti perkuliahan dengan baik juga.

 

Abi Ghassan

Madinatul Bu’uts

2 November 2019

 

Baca Juga “3 Guru Darunnajah Ikuti Pelatihan di Universitas Al-Azhar Mesir

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait