(22/08/09) Puasa telah lama dikenal oleh umat manusia. Namun ia bukan berarti telah usang atau ketinggalan zaman. Ragam tujuan puasapun banyak, antara lain untuk memelihara kesehatan atau sekedar merampingkan tubuh supaya lebih ideal, atau baru-baru ini dan acap kali dilakukan sebagai wujud protes mogok makan dengan pihak-pihak yang dianggap mendzalimi. Bisa juga sebagai wujud solidaritas atas malapetaka yang menimpa teman, sanak kerabat, saudara. Kesemuanya bermuara pada “pengendalian diri”.
Puasa yang dilakukan oleh ummat Islam, sebagaimana yang disyari’atkan oleh Allah s.w.t. “bertujuan untuk memperoleh derajat taqwa”. Tujuan dimaksud akan tercapai bila sang pelaku bisa memaknai dan menghayati arti puasa itu sendiri.
Dalam berpuasa, seorang berkewajiban mengendalikan dirinya berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan fa’ali dalam waktu tertentu, dari semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Yang berpuasa juga sekaligus berusaha mengembangkan potensi dirinya agar mampu membentuk dirinya dan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifat-Nya
Meski demikian, bukanlah lapar dan dahaga menjadi tujuan puasa. “Berapa banyak dari orang yang berpuasa tiada dapat hasil, melainkan hanya lapar dan dahaga saja”. Mengapa demikian?. Hal ini terjadi karena yang bersangkutan tidak memahai makna hakekat puasa sebenarnya, yakni meneladani sifat-sifat-Nya yang sembilan puluh sembilan.
Maka para sahabat sungguh bergembira, berharu biru, tatkala datang bulan Ramadhan dan masih diberikan umur panjang. Bukan karena masih diberikan kesempatan hidup lebih lama, melainkan mereka memahami betul rahasia-rahasia yang tersibak di bulan Agung ini. Fastabiqul khairat, saling berlomba mensukuri karunia Khaliq.
Teladan itu harus sampai pada generasi muslim saat ini, walau rentasan waktu antara zaman Muhammad s.a.w. dan abad dua puluh yang tidak muda. Tapi spirit itu harus tetap berkobar, tetap menyala.
Dalam meneladani dan menela’ah, menjalankan sunnah Rasulullah s.aw., hari-hari di Pesantren Darunnajah Cipining senantiasa diliputi ibadah. Pukul 07.00 WIB, masuk sekolah formal s.d. pukul 12.00 WIB., kemudian sholat dhuhur berjama’ah dilanjutkan ceramah ramadhan oleh Pimpinan Pesantren Darunnajah bagi seluruh warga pesantren, baik yang tinggal di asrama maupun nonasrama. Masuk waktu ashar, sholat ashar berjama’ah, dilanjutkan dengan pembacaan fadhillah-fadhillah puasa dan membaca kitab suci alqur’an. Selepas masghrib, buka puasa bersama, kembali ke masjid sholat Isya’, beriring kemudian sholat tarawih. Antara Tarawih dan Witir disampaikan pula ceramah ilmiyah mengenai shoum Ramadhan yang beragam materinya. Tidak sampai di situ, para santri juga disibukkan kegiatan I’tikaf, kembali mengaji al-qur’an.
Sungguh luar biasa kegiatan di bulan Ramadhan. Bukan hanya harakah personal saja yang digalakkan, tetapi ijtima’i pun berjalan, seperti Safari
Ramadhan/Jaulah Ramadhaniyah di masyarakat sekitar dan buka puasa bersama serta santunan sosial anak yatim dan dhua’fa, dan mudah-mudahan banyak kegiatan-kegiatan lainnya bermunculan, bukan saja pada saat mereka di pesantren, saat-saat liburanpun bernuansakan ibadah.
Rasulullah s.a.w., atas nama Allah s.w.t., menggambarkan bahwa : “seseorang hamba akan mendekatkan diri kepada-Ku (Tuhan), hingga Aku mencintainya, dan bila Aku (Tuhan) mencintainya, menjadilah pendengarnan-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakan untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk jalan.” (Hadits Qudsi).
Hamba yang digambarkan dalam hadits di atas, memperoleh keni’matan tersebut karena ia berusaha dengan sungguh-sungguh dan berhasil meneladani Tuhan di dalam sifat-sifatNya.
Itulah, kenapa para sahabat sangat bersuka cita ketika menyambut bulan Ramadhan, tatkala datang menghampiri mereka tamu Agung. Rasanya suatu keni’matan, setiap pendengaran kita, penglihatan kita, tindakan kita serta langkah kita terbimbing atas bimbingan Rab.
Darunnajah, di atas pusara bumi dengan segala potensinya harus tetap menjalankan sunnah-sunnah-Nya, sunnah-sunnah Rasul-Nya. Generasi muslim perlu diberikan bekal ilmu agama yang kuat, hingga tujuan puasa tercapai dan menjadi derajat mulya “Muttaqien”. [Mr. Song]