Setiap awal semester, kami selalu mengajukan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa baru yang mengikuti kuliah Filsafat Ilmu:
“Apa yang teman-teman harapkan dari mata kuliah ini?”
Jawaban mereka hampir selalu seragam. Ada yang mengatakan ingin lulus dengan nilai baik. Ada yang ingin memahami teori-teori filsafat agar terlihat intelek. Ada pula yang jujur: “Ikut kuliah sesuai jadwal, Pak.”
Kami tidak pernah marah mendengar jawaban itu. Sebab, kami tahu, mereka belum pernah bertemu dengan filsafat. Yang mereka temui selama ini adalah tentang filsafat—nama-nama besar, tahun kelahiran, aliran pemikiran, dan teori-teori yang harus dihafal untuk ujian. Banyak yang mengenal Aristoteles, tetapi tidak pernah diajak berpikir seperti Aristoteles. Mereka hafal definisi epistemologi, tetapi tidak pernah merasakan pengalaman bertanya, dari mana pengetahuan berasal.
Filsafat, dalam praktik pendidikan kita yang malang, telah direduksi menjadi sekadar mata kuliah. Ia diajarkan seperti ilmu sejarah: sebagai kumpulan fakta yang harus diingat, bukan sebagai aktivitas yang harus dialami. Padahal, filsafat, sebagaimana kami tegaskan dalam buku “Menjejakai Alam Filsafat” mengutip dari para perenung sejati, filsafat bukanlah produk, melainkan proses. Ia bukan sesuatu yang diketahui, melainkan sesuatu yang dilakukan.
Filsafat Sebagai Aktivitas, Bukan Koleksi Pengetahuan
Dalam tradisi pemikiran Islam, filsafat tidak pernah dipisahkan dari aktivitas berpikir itu sendiri. Al-Kindi, filsuf Muslim pertama, mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu sesuai dengan kemampuan manusia. Perhatikan frasa “sesuai dengan kemampuan manusia”. Ini bukan sekadar definisi, melainkan pengakuan bahwa filsafat adalah aktivitas—upaya terus-menerus manusia untuk mendekati kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri yang selesai dan final.
Ibnu Sina tidak menjadi filsuf karena ia hafal teori Aristoteles. Ia menjadi filsuf karena ia berpikir bersama Aristoteles, lalu berpikir melampaui Aristoteles. Ia membaca, merenung, meragukan, mempertanyakan, dan akhirnya, setelah melalui proses panjang, sampai pada kesimpulannya sendiri. Itulah filsafat sebagai aktivitas.
Kami sering berkata kepada mahasiswa: “Jika teman-teman keluar dari ruang kuliah ini hanya membawa catatan tentang apa yang dosen katakan, mahasiswa tersebut telah gagal. Tetapi jika keluar dengan membawa pertanyaan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, selamat anda telah memulai perjalanan filsafat.”
Sayangnya, sistem pendidikan saat ini, dengan segala standar kompetensi, capaian pembelajaran, dan ujian objektifnya, lebih mudah mengukur hafalan daripada mengukur kedalaman bertanya. Kita tahu persis berapa nilai ujian mahasiswa, tetapi kita tidak pernah punya instrumen untuk mengukur apakah ia berpikir hari ini.
Kesadaran: Titik Nol Filsafat
Dalam buku “Menjejaki Alam Filsafat” kami menulis sebuah kalimat yang hingga kini jadi pegangan:
“Kesadaran muncul dari dalam diri, ketika seseorang memahami apa yang ia lakukan.”
Kesadaran adalah titik nol filsafat. Sebelum kesadaran itu lahir, semua pengetahuan hanyalah tumpukan informasi mati. Manusia bisa hafal seribu definisi, tetapi jika ia tidak sadar akan apa yang ia ketahui dan mengapa ia mengetahuinya, ia tidak lebih dari katalog berjalan.
Pertanyaan filosofis tidak lahir dari kekosongan. Ia lahir dari momen tersentaknya kesadaran. Saat seorang anak kecil bertanya, “Mengapa langit biru, Bu?” ia tidak sedang meminta penjelasan ilmiah tentang hamburan Rayleigh. Ia sedang mengalami kekaguman, dan dari kekaguman itu lahir pertanyaan. Itulah filsafat dalam bentuknya yang paling murni.
Sayangnya, sistem pendidikan kita sangat efektif mematikan kemampuan bertanya. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sedikit pertanyaan yang diajukan. Anak TK bertanya puluhan kali sehari. Mahasiswa S1, S2 bahkan S3 bertanya hanya ketika ujian proposal. Kita melatih mereka untuk menjawab, tetapi tidak pernah melatih mereka untuk bertanya—apalagi bertanya tentang hal-hal fundamental.
Padahal, Filsafat ilmu dimulai dari pertanyaan sederhana: Apa itu ilmu? Mengapa saya mempercayai pengetahuan ini? Bagaimana saya tahu bahwa apa yang saya ketahui itu benar?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh Google. Tidak bisa dihafal semalam sebelum ujian. Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab melalui proses perenungan yang panjang, sunyi, dan kadang menyendiri. Inilah yang disebut Al-Ghazali sebagai riyadhah—latihan jiwa. Inilah yang disebut Al-Attas sebagai ta’dib—penanaman adab ke dalam diri.
Krisis Epistemologis dan Hilangnya Keheranan
Salah satu diagnosis paling tajam tentang krisis pendidikan modern datang dari Syed Muhammad Naquib al-Attas. Ia menyatakan bahwa krisis umat adalah krisis adab—hilangnya pengakuan dan penempatan sesuatu pada tempatnya yang benar. Dalam konteks pendidikan, krisis adab ini termanifestasi dalam bentuk hilangnya keheranan.
Manusia modern kehilangan kemampuan untuk heran. Kita menerima segala sesuatu sebagaimana adanya. Kita tidak lagi bertanya mengapa alam semesta ini ada, mengapa kita ada di dalamnya, apa tujuan pengetahuan, ke mana arah peradaban. Kita sibuk memproduksi pengetahuan, tetapi tidak pernah merenungkan makna pengetahuan itu sendiri.
Ilmu berkembang pesat, teknologi maju luar biasa, tetapi kebijaksanaan justru menyusut. Kita bisa mengirim manusia ke bulan, tetapi tidak bisa mengirim kedamaian ke hati sendiri. Kita bisa memetakan genom manusia, tetapi tidak bisa memetakan tujuan hidup kita. Inilah ironi peradaban yang digambarkan Al-Attas: kita tahu banyak, tetapi memahami sedikit.
Filsafat ilmu, dalam konteks ini, bukan sekadar mata kuliah metodologi penelitian. Ia adalah ruang penyadaran—tempat di mana kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk produksi ilmiah, lalu bertanya: Untuk apa semua ini?
Logika, Qiyas, dan Transformasi Metodologis
Dalam kuliah-kuliah, kami sering memperkenalkan mahasiswa pada hubungan antara logika Yunani dan qiyas dalam ushul fiqh. Ini bukan sekadar pelajaran sejarah pemikiran. Ini adalah contoh bagaimana tradisi intelektual Islam melakukan transformasi metodologis yang kreatif.
Aristoteles memperkenalkan silogisme: premis mayor, premis minor, kesimpulan. Para fuqaha dan mutakallimun tidak sekadar menerjemahkan dan menggunakan silogisme begitu saja. Mereka mentransformasikannya menjadi qiyas dengan konsep ‘illah (causa legis), far’ (cabang), dan ashl (pokok). Mereka tidak sekadar mengadopsi, tetapi mengadaptasi dan merekonstruksi dalam kerangka worldview Islam.
Inilah yang disebut Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai penguasaan ganda: menguasai tradisi intelektual Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan kontemporer, lalu melakukan kritik, seleksi, adaptasi, dan rekonstruksi. Tapi semua itu tidak mungkin dilakukan tanpa kesadaran terlebih dahulu.
Seorang mahasiswa yang tidak sadar akan identitas epistemologisnya akan dengan mudah menelan mentah-mentah teori-teori Barat. Ia akan menggunakan SPSS tanpa bertanya apakah paradigma positivisme di balik SPSS sesuai dengan worldview Islam. Ia akan menulis penelitian kualitatif tanpa pernah mempertanyakan asumsi fenomenologi atau hermeneutika yang menjadi fondasinya. Bukan karena ia jahat atau bodoh, tetapi karena ia tidak sadar. Ia tidak pernah diajak merenungkan fondasi dari apa yang ia kerjakan.
Mengajarkan Filsafat, Mengajar Kesadaran
Jika filsafat adalah aktivitas, maka mengajar filsafat berarti menggerakkan orang untuk beraktivitas. Ini bukan pekerjaan mudah. Jauh lebih mudah mengajar mahasiswa menghafal nama-nama filsuf daripada mengajar mereka berpikir filosofis.
Selama dua dekade mengajar, kami menemukan beberapa cara—masih dalam proses pencarian—untuk membangkitkan kesadaran filosofis mahasiswa.
Pertama, memulai dari pengalaman konkret, bukan teori abstrak. Kami tidak pernah memulai kuliah Filsafat Ilmu dengan definisi filsafat dari para tokoh. Kami memulai dengan pertanyaan: Pernahkah teman-teman merasa ragu dengan sesuatu yang selama ini diyakini benar? Dari pengalaman keraguan itu, kita membangun jembatan menuju epistemologi.
Kedua, menciptakan ruang aman untuk bertanya. Mahasiswa kita telah dikondisikan selama belasan tahun bahwa bertanya adalah risiko: bisa salah, bisa ditertawakan, bisa dianggap bodoh. Kami selalu mengatakan di awal pertemuan: “Di ruang ini, tidak ada pertanyaan bodoh. Yang bodoh adalah orang yang tahu tetapi tidak bertanya.”
Ketiga, mengajarkan filsafat melalui praktik, bukan sekadar wacana. Kami pernah meminta mahasiswa menulis self-reflection tentang asumsi-asumsi yang mereka bawa dalam penelitian tesis mereka. Salah seorang mahasiswa menulis: “Saya baru sadar bahwa selama dua semester menyusun proposal, saya tidak pernah bertanya mengapa saya memilih metode ini. Saya hanya mengikuti kebiasaan dan ikut-ikutan teman.” Itulah momen kesadaran. Itulah filsafat.
Filsafat Ilmu untuk Kehidupan, Bukan Sekadar Kelulusan
Pada akhirnya, filsafat ilmu harus kembali pada fungsi asalnya: membimbing manusia menuju kebijaksanaan. Bukan sekadar alat untuk lulus kuliah, menulis sekripsi, tesis, atau mendapat gelar.
Al-Attas mengingatkan bahwa tujuan tertinggi ilmu dalam Islam adalah ma’rifah, pengenalan akan Tuhan. Setiap cabang ilmu, dari fisika hingga sastra, dari kedokteran hingga ekonomi, harus diorientasikan kembali pada tujuan agung ini. Seorang fisikawan Muslim tidak hanya memahami hukum-hukum alam, tetapi juga melihatnya sebagai ayat (tanda-tanda) kebesaran Tuhan. Seorang ekonom Muslim tidak hanya menghitung efisiensi pasar, tetapi juga merenungkan keadilan sebagai manifestasi sifat Al-‘Adl.
Filsafat ilmu, dengan demikian, bukanlah mata kuliah yang diajarkan di semester tertentu lalu dilupakan. Ia adalah cara hidup—way of life—yang terus-menerus menyadarkan kita akan hakikat, sumber, dan tujuan pengetahuan. Ia adalah suara yang bertanya, Untuk apa semua ini? Ke mana arah pengetahuan kita? Apakah yang kita lakukan hari ini mendekatkan kita pada kebenaran, atau justru menjauhkan?
Maka, izinkan kami mengakhiri tulisan ini dengan undangan, bukan kesimpulan.
Jika teman-teman membaca tulisan ini di ruang kuliah, di perpustakaan, atau di kamar kos yang sunyi, berhentilah sejenak. Tutup buku Anda. Matikan layar gawai Anda. Tanyakan pada diri sendiri:
Apa yang sedang saya lakukan? Mengapa saya melakukannya? Ke mana arah semua usaha ini?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan mengganggu ketenangan teman-teman, selamat. Anda baru saja memulai perjalanan filsafat. Dan tidak ada kata terlambat untuk memulai.
Penulis adalah pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu, Perilaku dan budaya Organisasi, manajemen dakwah dan kempemimpinan pendidikan di Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UDN Jakarta. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi dan tidak mewakili institusi.
Penulis: Muhammad Irfanudin Kurniawan
