Rahmat Dilla Efendi, Lc. Alumni Darunnajah Lolos AKSI Indonesia 2026 Rahmat Dilla Efendi, Lc. Alumni Darunnajah Lolos AKSI Indonesia 2026

Ditempa di Pesantren, Rahmat Dilla Buktikan Perjalanan Dakwah di AKSI 2026

Menjadi salah satu peserta dalam ajang AKSI (Akademi Sahur Indonesia) 2026 menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Rahmat Dilla Efendi, Lc. Alumni Pondok Pesantren Darunnajah ini mengaku kesempatan tampil di panggung dakwah nasional tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang yang telah ia impikan sejak masa menjadi santri.

Bagi Rahmat, tampil di AKSI bukan sekadar ajang kompetisi dakwah.

Ia menyebut kesempatan itu sebagai bagian dari proses panjang yang ia jalani selama bertahun-tahun.

“Ini perjuangan yang cukup panjang. Sejak di pesantren saya sudah memiliki mimpi untuk bisa berdakwah di panggung yang lebih luas,” ungkapnya.

Rahmat merupakan alumni TMI Darunnajah tahun 2020.

Sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, ia sudah tertarik dengan dunia dakwah dan pidato.

Ketertarikan itu membuatnya aktif mengikuti berbagai kegiatan latihan berbicara di depan umum yang diselenggarakan di lingkungan pesantren.

Kesempatan untuk mengikuti AKSI sebenarnya sudah pernah ia coba saat masih duduk di kelas 2 MTS.

Ketika itu ia mengikuti proses audisi secara langsung, namun belum berhasil melangkah lebih jauh.

Keinginan untuk mencoba kembali sempat muncul saat kelas 5, tetapi berbagai kegiatan wajib pesantren membuat rencana tersebut tidak dapat terlaksana.

Meski demikian, Rahmat tidak memadamkan keinginannya.

Ia tetap melatih kemampuan dakwah dan memperbanyak pengalaman berbicara di depan publik.

Hingga akhirnya, setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir dan meraih gelar Lc., kesempatan itu datang kembali dan membawanya menjadi salah satu peserta di AKSI Indonesia 2026.

Selama menempuh pendidikan di Darunnajah, Rahmat aktif dalam Jam’iyyatul Mubalighin, sebuah wadah pembinaan dakwah bagi para santri.

Perjalanan organisasinya pun dimulai dari anggota biasa, kemudian menjadi calon mudabbir (pengurus) di kelas 4, pengurus di kelas 5, hingga dipercaya menjadi ketua Jam’iyyatul Mubalighin di kelas 6 TMI.

Selain itu, kegiatan muhadharah atau latihan pidato yang rutin dilaksanakan setiap pekan juga menjadi sarana penting baginya dalam mengasah kemampuan retorika.

Dari kegiatan tersebut ia belajar menyampaikan pesan dakwah dengan lebih terstruktur dan percaya diri.

Bagi Rahmat, pesantren tidak hanya mengajarkan kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga membentuk mental dan karakter dalam berdakwah.

Ia merasa berbagai pengalaman selama menjadi santri telah menempanya untuk berani mencoba dan terus berusaha.

“Saya belajar mental di pesantren. Kalau sudah maju, maju terus. Kita hanya bisa berusaha, sementara hasilnya Allah yang menentukan,” tuturnya.

Kini Rahmat bersiap menapaki panggung dakwah yang lebih luas melalui AKSI 2026.

Ia berharap dapat memberikan penampilan terbaik sekaligus membawa nama baik almamaternya.

Baginya, kesempatan tersebut bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang menyampaikan dakwah yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

(adm/humas)