Senin, 4 November 2019/ 8 Rabi’ul Awwal 1441 H. Setelah selesai mengurus pendaftaran (Ijraat) dan pembukaan pada hari Ahad, 3 November 2019, Pelatihan Imam dan Da’I (دورة الائمة و الوعاظ) dimulai. Pelatihan ini berbentuk perkuliahan di mana para dosennya adalah ulama, professor di universitas Al-Azhar, bahkan beberapa di antaranya adalah anggota dari ikatan ulama-ulama besar  Mesir.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Mahmud Muhammad Hasan dalam materi “kelompok-kelompok dalam Islam” namun dalam sesi pertama ini professor dalam bidan akidah dan filsafat ini, tidak langsung memberikan materi, tapi meminta para peserta untuk memperkenalkan diri.

Dalam acara perkenalan yang dipandu langsung olehnya, banyak diisi dengan canda dan tawa, membuat perkuliahan atau tadrib, menjadi lebih menyenangkan. Salah satu candaan yang dilemparkan kepada peserta adalah pertanyaannya tentang “berepa istri kamu?”.

Peserta yang semuanya adalah laki-laki tersebut sontak tertawa atau tersenyum, fasalnya ada beberapa peserta yang belum menikah dan 80 % peserta beristri satu. Salah satu peserta seorang imam dari Sudan mengaku memiliki 3 istri, pengakuannya tersebut membuat ramai tempat perkuliahan yang berada dalam sebuah aula mini itu.

Beberapa peserta menyebutnya sebagai uswah hasanah, yang lain menyebutnya sang pemberani, dan salah satu peserta dari Indonesia mengatakan bahwa apa yang dilakukan imam tersebut di Indonesia disebut “mantab”.

Dalam canda tawa tentang pertanyaan professor itu, salah satu peserta dari Slovenia, sebuah negara pecahan Uni Soviet, bercerita bahwa pada jaman khalifah utsmaniah, salah satu khalifah, setelah melihat banyaknya pasukan muslim yang syahid, mengumpulkan seluruh bawahannya dan memberikan sebuah pengumuman, bahwa mereka wajib menikahi dua atau tiga para janda syuhada, apa bila tidak menikah lagi maka mereka harus menyusul untuk menjadi syuhada selanjutnya.

Mendengar pengumuman tersebut, seorang prajurit langsung beranjak pulang, setelah mengetuk pintu rumahnya dan diterima istrinya, dia menyampaikan pengumuman dari sang khalifah, bahwa dirinya harus menikah lagi, apa bila tidak dilakukan maka dia akan dipenggal.

Mendengar cerita tersebut, sang istri berkata, wahai suamiku sungguh menjadi syuhada merupakan sebuah kenikmatan dan tujuan yang mulia. Seketika sang prajurit yang asalnya berwajah cerah, menjadi pucat, hilanglah apa yang telah dia bayangkan untuk menikah lagi.

Mendengar cerita dari imam Slovenia tersebut, para peserta langsung tetawa dengan terbahak-bahak. Memang keinginan untuk beristri dua, tiga dan empat kebanyakan diinginkan oleh para lelaki, sehingga pembicaraan tentang poligami akan selalu ramai mengundang canda tawa.

Suasa menjadi lebih ramai lagi, ketika peserta bertanya kepada professor apakah beliau berpoligami dan ternyata beliau masih beristri satu, sambil berkata saya adalah orang yang bertauhid (tauhid asal kata wahid artinya esa atau satu). Sontak, perserta tertawa kembali, bahkan ada yang mencandainya dengan menyebutnya “minal khaifin” termasuk anggota ISTI (ikatan suami takut istri).

Sebagai perserta pelatihan, apa yang kami lihat dari professor tersebut merupakan sebuah metode pembelajaran yang perlu ditiru, bahwa peserta harus merasa nyaman dengan pemateri salah satunya dengan memberikan cerita atau permainan, atau dalam bahasa modern disebut dengan ice breaking atau dalam ilmu Tarbiayah disebut dengan Al-Muqaddimah.

 

By Abi Ghassan

Jam 03:20 pagi di Madinatil Bu’uts Mesir

(dn.com/danisha)