Daurah Bahasa Arab yang dilaksanakan a di asrama santri cilik putrpada Senin malam, 21 Oktober 2013 dimanfaatkan betul oleh dewan guru untuk bertanya dan sharing dengan Narasumber sekaligus penulis buku Bahasa Arab Al Qur’an, ustadz Zainal Alim, Lc yang notabene alumni Gontor dan Syiria. Sesi tanya jawab selama 30 menit yang didahului dengan sesi pemaparan berdurasi 90 menit, tampak hidup dengan berbagai pertanyaan peserta daurah.
Meskipun dalam posisi sebagai MC yang duduk berdampingan dengan narasumber, ust. Muhlisin Ibnu Muhtarom memulai sesi tanya-jawab dengan mengajukan dua pertanyaan; pertama, bagimana pandangan nara sumber tentang seorang motivator di acara sebeuah televise swasta yang menerjemahkan lafadz Allah dengan kata ganti ‘Beliau’, sementara ini terjemahan bahasa Indonesia yang sering digunakan untuk kata ganti Allah adalah Aku, Engkau, Kami dan Dia. Ust. Zainal menjawab: “ Dari sisi hukum, penggunaan kata ganti Beliau untuk Allah tidak salah, meskipun menjadi kurang enak terdengar di telinga kita karena memang jarang digunakan penyebutan seperti itu!”.
Kedua, ust. Muhlisin bertanya bagaimana menerjemahkan yang baik dari redaksi sebuah ayat al qur’an: lan yanaala Allaaha luhuumuhaa, yang menjadikan tidak mudah adalah karena lafadz Allah dalam ayat tersebut berbaris fathah dalam kondisi manshub sebagai maf’ul, lain halnya jika berbaris dhommah dalam kondisi marfu’ sebagai faa’il. Ust. Zainal kemudian menerjemahkannya: “ Daging-daging qurban itu sejakli-kali tidak akan sampai kepada (keridhaan) Allah….!”.
Berikutnya ada ust. Amin Songgirin Sarim, S.H.I yang menanyakan adakah rumus atau kaidah tertentu untuk memahami fi’il madhi yang dalam kontek kalimatnya bermakna fi’il mudhori’, diteruskan ust. Ahmad Rosikhin Wasyraf, S.Pd.I yang menanyakan terjemahan yang baik dari sebuah susunan kalimat dalam pelajaran Muthola’ah kelas 6 TMI : “ U’iidzuka allaa takuuna minal mukhlishin!”, disusul ust. Adiwarman Rahmatullah yang meminta penjelasan asal-asul kalimat ‘Halal Bi Halal dan Ucapan Tahniah terkait hari raya.
Tidak ketinggalan ust. Muhayat Lukman yang bertanya tentang perubahan harakah dalam pengucapan kalimat-kalimat bahasa ‘aamiyyah yang cenderung sulit bagi yang terbiasa ‘hanya’ berbahasa fusha. Ust. Nur Shodiq Salim juga minta komentar nara sumber tentang pengaruh tulisan arab yang dibaca dalam tulisan latin dan perbedaan standar transliterasi huruf arab ke dalam huruf latin.
Sesi tanya-jawab dan sharing dipungkasi oleh kepala MTs Darunnajah 2 Cipining, ustadz Nasihun Sugik, SE dengan mengajukan pertanyaan kiat-kiat motivasi dan trik handal untuk membangkitkan disiplin berbahasa warga pesantren, mengingat Bahasa Arab dan Inggris adalah Mahkota Pesantren. Narasumber menjawab semua pertanyaan tersebut dengan sabar, lugas dan tepat. Dewan gurupun tampak antusias mendengar dan menyimak setiap uraian dan jawaban. (Wardan/ Abu Ezzat El Wazira).