Oh Pondokku……..
Tempat Naung kita
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa bathin damai dan sentosa
Dilindungi Allah Ta’ala
Oh pondokku ……..
Engkau berjasa
Pada Ibuku Indonesia
Tiap pagi dan petang
Kita beramai sembahyang
Mengabdi pada Allah Ta’ala
Di dalam kalbu kita
Wahai pondok tempatku

Laksana Ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh pondokku ……….
I ……. bu …… ku ……
“Bait-bait sair lagu itulah selalu berkerling dalam ingatanku.” Aku melanglang buana ke berbagai penjuru dunia, Negeri Para Nabi, Negeri

Kangguru, Negeri Sakura, Negeri Tirai Bambu, Negeri Fir’aun, Negeri Seribu Satu Malam, Negeri Menara Pisa, Negeri Matador, Negeri Paman Syam pun pernah kusambangi.
Aku juga tak berhenti jua pergi ke berbagai belahan dan bentangan luasnya Negeriku, dari sabang sampai merauke, dari Miangas ke pulau Rote, semua telah terjejak langkah-langkahku.
“Qum, qum…….,” “sa’ah ar-râbi’ah tamâm, alwaqt lidzihâb ilal masjid”. Spontan semua bangun, meraih gayung masing-masing bergegas ke hamâm tuk mck dan ambil air wudlu.
“Wahid, Itsnani, Tsalatsah…..”, Rupanya sudah ada yang standby di bawah pohon kecapi kamar empat. “ku cincingkan sarungku, dan ambil langkah seribu tuk berjihad ke masjid, “e….e…h, sendalnya putus lagi…..”. Yah walaupun pake sarung kedodoran, nyeker, masih belekan yang penting sampai masjid tepat waktu.” Ya itulah prinsip santri.
Sesampainya di masjid, “ku tekukur di pojokan sambil tunggu waktu subuh.” Tak terasa, “kok dingin-dingin mengalir dari mulutku”. He….he…. he…., rupanya aku diberikan keni’matan lagi melanjutkan peraduan tidurku di masjid. “blak….blak….blak….., rupanya sajadah telah menghinggapi punggungku.”
Seusai sholat subuh kegiatan tak henti-hentinya berlanjut. Ceramah jum’at pagi, yang dihadiri seluruh santri menambah riuh semangat mendengarkan nasehat pimpinan pesantren yang khas, selalu mendampingi para santri. Sesekali ku didirikan oleh qismu ibadah, karena tidak kuat menahan rasa kantuk.
“Baiklah anak-anak, berhubung waktu sudah siang pengajian cukup sampai di sini.” “Ucap pak Kiayi dan … Wassalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaaaa…….tuhhhhh.” dengan nada melengking anak-anak menjawab salam.” Lalu akupun turut berhamburan keluar masjid. Aku lupa, rupanya kakiku sudah beralas sesampainya di kamar, padahal kan tadi putus sandalnya.
“Hari Jum’at, hari super masghul buat santri. Akupun demikian, ikut silat dari jurus katak melempar tubuh, sampai tandukan lembu jantan……., dari mawar mekar, sampai mawar layu. Entahlah…..tapi kini aku sudah lupa jurus-jurus itu.
Hmm…..kuingsutkan tempat dudukku di atas balai bambu, sembari berkelakar sendiri mengenang masa-masa di pondok, baik suka maupun duka, baik sedih maupun ketawa, semua ku kenang, ku berusaha tuk selalu mengenang dengan detail.

Yang tak kalah penting, menu di pondok tuch asyik-asyik loh and so pasti unik. Ada sate, (sayur terong), ada kobra (kacang panjang), dan masih banyak lagi. Tapi diantara sekian menu, yang paling teringat dan terfavorit adalah SATE alias sayur terong….. kangen lo, makan sayur terong, itu yang digoreng and dikasih sambal bikinan Mbok Dapur kita.
Saat-saat melepas penat, seusai pulang kerja, kuingat-ingat pula tatkala tobur di hammam. Terutama di kamar mandi bawah, jadi geli sendiri kalau kukenang itu semua ketika terpergok keamanan sedang asyik syijâr. Mungkin sampai saat ini juga masih “Man Ba’daka Akhi……?, “Ana ya….. ba’daka.”
Aku jadi kangen ma suasana pondok, setiap sudut, setiap ruang, setiap jalan dan setiap aktifitas yang kujalani selalu memberikan kesejukan, melepas dahaga kerinduan dan memberikan spirit tuk melangkah ke depan.
BANGKIT DARUNNAJAH…….TEGAK DAN PERKASA……………..DARUNNAJAH MAJULAH KE MUKA. [Mr. Song]
