Darunnajah Cipining Tempo Doeloe (2)

Porseka Pertama

Awal Tahun Pelajaran 2010-2011 Pesantren Darunnajah Cipining menggelar Pekan Olahraga Seni dan Pramuka (Porseka) ke-23, padahal usianya baru genap 22 tahun, menginjak tahun ke-23. Hal itu karena sejak awal tahun pelajaran pertama (1988-1989) Porseka telah digelar. Kegiatan ini mengadopsi apa yang dilakukan di pesantren induknya, Darunnajah Ulujami Jakarta.

Dengan segala keterbatasan dan keadaan santri yang semuanya baru kelas I TMI/MTs, kegiatan yang intinya adalah pekan perkenalan itu dilaksanakan. Kepanitiaan Porseka kala itu hampir seluruhnya ditangani oleh guru. Namun demikian, berbagai jenis lomba dan kegiatan  Alhamdulillah dapat terselenggara dengan baik. Para guru dan segenap santri terlihat sangat antusias dan bersemangat.

Sejak awal pendidikan formal (sekolah) di Darunnajah Cipining telah menganut sistem Kulliyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (KMI) ala Pondok Modern Gontor. Hanya saja namanya diadaptasi menjadi Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI), seperti yang diterapkan di Ulujami. Di samping itu para santri sekaligus menjadi siswa Madrasah (c.q MTs). Kurikulum keduanya dipadukan sekaligus. Jadi santri belajar di kelas 100% TMI dan 100% Madrasah. Oleh karenanya, jumlah jam pelajaran (beban belajar) para santri lebih banyak dibanding dengan mereka yang belajar di sekolah/madrasah pada umumnya.

Manajemen TMI/madrasah dan pesantren di Darunnajah Cipining waktu itu sangat sederhana tetapi memenuhi syarat. Pak Kiai (Pimpinan Pesantren K.H. Jamhari Abdul Jalal, Lc) menjabat Direktur TMI dan Kepala MTs sekaligus. Adapun bidang pengajaran, tata usaha, administrasi keuangan, pengasuhan santri, rumahtangga (pembangunan), dan sebagainya diamanatkan kepada beberapa orang guru. Rapat dan musyawarah guru terselenggara secara rutin dan teratur setiap pekan. Rapat/musyawarah dipimpin langsung oleh Pak Kiai. Bila beliau berhalangan (ada kegiatan lain), rapat tetap berjalan dipimpin oleh guru yang diberi mandat (seringkali Bagian Pengajaran).

Di asrama para santri juga memperoleh perhatian penuh dari para guru sebagai wali kamar.

Pimpinan Pesantren saat itu masih mengajar di TMI Darunnajah Ulujami sampai beberapa tahun berikutnya. Beliau juga dosen di Institut Agama Islam Darunnajah (IAID), yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA). Biasanya beliau berangkat ke Ulujami hari Selasa, dan kembali Rabu.

Ketua Yayasan dan pendiri/wakif K.H. Abdul Manaf Mukhayar secara rutin mengunjungi Cipining. Biasanya beliau bermalam beberapa hari. Beliau menaruh perhatian penuh terhadap pembangunan prasarana dan sarana. Beliau selalu berkeliling mengawasi kegiatan para tukang dan pekerja. Kiai Manaf juga sangat rajin shalat berjamaah. [Dituturkan dan direkonstruksikan oleh Abu Mujahid].