Darunnajah adakan Pelatihan Admin Pengelola Website, Media Sosial Guru Pusat & Cabang Darunnajah adakan Pelatihan Admin Pengelola Website, Media Sosial Guru Pusat & Cabang

Darunnajah Adakan Pelatihan Admin Pengelola Website, Media Sosial Guru Pusat & Cabang

Pembukaan pelatihan Admin Pengelola Website & Media Sosial, Pada Senin, (7/09/2026). Pelatihan ini berlangsung selama 3 hari dan diikuti oleh seluruh perwakilan guru Darunnajah pusat & cabang. Guru yang mengikuti pelatihan ini merupakan bagian dari tim Publikasi & Dokumentasi, Production House (PH), dan juga Penerimaan santri baru dari masing-masing pondok

Pembukaan ini dibuka oleh Assoc. Prof. Dr. Musthofa, S.Pd.I., Lc., M.A., dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa, orang yang minat dibagian admin Pengelola Website, Media Sosial  itu sangat dicari, karena antum dibekali dengan materi keterampilan yang orang lain susah diakses, maka istiqomah itulah yang akan memenangkan kita pada persaingan.

Pekerjaan ini merupakan pekerjaan utama sehingga tidak boleh memiliki pekerjaan sampingan. Brand ambassador, marketing, sales, dan berbagai peran lainnya harus ditangani oleh tim admin. Pesan ini perlu disampaikan kepada SDDM dan pimpinan masing-masing lembaga darunnajah. Tim admin tidak diperbolehkan berpindah ke bagian lain dan tidak diperbolehkan melakukan riset, kecuali setelah mencapai STG.

Darunnajah adakan Pelatihan Admin Pengelola Website, Media Sosial Guru Pusat & Cabang

Beliau juga menyampaikan bahwa, mengapa tim admin tidak boleh berpindah bagian dan tidak boleh melakukan riset terlebih dahulu? Karena investasi untuk membangun tim ini sangat besar. Ketika seseorang sudah terlatih kemudian pindah bagian atau mengundurkan diri, investasi yang telah dikeluarkan menjadi hilang dan lembaga harus kembali membangun kemampuan tersebut dari awal.

Sebagai contoh, biaya pelatihan ini sekitar Rp38 juta, hampir Rp40 juta, dan itu baru biaya acaranya. Belum termasuk biaya transportasi masing-masing peserta. Ada yang mengeluarkan Rp500 ribu, bahkan ada yang mencapai Rp1 juta. Jika seluruh biaya tersebut dihitung, totalnya bisa mencapai Rp50–60 juta untuk satu kali pelatihan.

Itu merupakan investasi yang sangat besar. Belum lagi tugas-tugas yang ditinggalkan selama pelatihan, serta berbagai fasilitas yang disediakan di kantor dan pondok, seperti laptop, kamera, koneksi internet, ruangan, dan fasilitas lainnya.

Oleh karena itu, jika ada anggota tim admin yang pindah bagian, sebagian besar investasi tersebut ikut hilang dan lembaga harus kembali membangun kemampuan dari dasar. Begitu pula ketika ada anggota tim yang mengundurkan diri. Hal seperti ini cukup sering kita saksikan. Ada yang sudah bertahun-tahun berada di tim website, sudah ahli, kemudian pindah karena dibutuhkan di bagian lain. Ada pula yang sudah ahli, rajin, dan memiliki kemampuan baik, tetapi memilih mengundurkan diri karena ingin mencari pengalaman baru.

Darunnajah adakan Pelatihan Admin Pengelola Website, Media Sosial Guru Pusat & Cabang

Pada akhirnya, lembaga kembali dirugikan karena harus mencari orang baru dan membangun kemampuan mereka dari awal. Bayangkan jika dalam satu tahun ada lima atau enam kegiatan seperti ini. Jika satu kegiatan membutuhkan biaya sekitar Rp60 juta, maka lima kegiatan saja sudah mencapai sekitar Rp300 juta. Sayang sekali apabila investasi sebesar itu harus berulang karena pergantian personel.

Karena itu, apabila tim admin dapat dipertahankan secara konsisten, setiap tahun kemampuan mereka seharusnya semakin meningkat. Kita tidak lagi berjalan di tempat, tetapi terus menaiki tangga. Semakin lama, keterampilan mereka semakin tinggi, semakin terlatih, dan semakin advanced. Mereka tidak lagi harus mempelajari hal-hal dasar, tetapi sudah dapat berkembang ke tingkat yang lebih tinggi. 

Maka dari itu Bagaimana cara menaikkan jumlah santri? karena Ketika santri menurun, rasanya menyusahkan, keuangan pesantren menurun, kegiatan, fasilitas, dan pembangunan harus dikurangi. Dan Juga belum tentu penurunan terjadi pada penurunan internal akan tetapi pada penurunan eksternal, bisa jadi orang dan masyarakat belum mengenal kita dengan baik. (SW)