Darunnajah 17 Gelar Sosialisasi Stop Bullying, Tekankan Pencegahan Bullying di Dunia Pendidikan Darunnajah 17 Gelar Sosialisasi Stop Bullying, Tekankan Pencegahan Bullying di Dunia Pendidikan

Darunnajah 17 Gelar Sosialisasi Stop Bullying, Tekankan Pencegahan Bullying di Dunia Pendidikan

Darunnajah 17 Gelar Sosialisasi Stop Bullying, Tekankan Pencegahan Bullying di Dunia Pendidikan

Darunnajah 17, 4 Agustus 2025 — Bullying masih menjadi ancaman nyata di dunia pendidikan termasuk di lingkungan pesantren. Hampir 15 % pelajar di sekolah mengalami perundungan berdasarkan survey nasional. Angka yang menunjukkan bahwa masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius. Tindakan perundungan yang sering dianggap ringan ini bisa menciptakan luka psikologis mendalam dan berdampak pada masa depan korban. Maka menyadari urgensi tersebut, Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ummul Mu’minin Darunnajah 17 bersama mahasiswa KKN UIN SMH Banten menggelar Sosialisasi Stop Bullying di Aula Thoif, Senin (4/8), sebagai perwujudan langkah menciptakan lingkungan belajar yang aman.

Acara dibuka dengan pembacaan kalam ilahi. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ust. Ahmad Ulil Azmi, Lc., selaku bagian Kurikulum dan Penjamin Mutu. Beliau mengapresiasi kegiatan ini dalam sambutannya dan menegaskan bahwa pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pembelajaran akademik. Menurutnya santri tidak hanya perlu unggul dalam ilmu saja akan tetapi juga memiliki akhlak mulia dan sikap saling menghargai

Selanjutnya Ketua Pelaksana Imanuddin menekankan bahwa bullying adalah masalah yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya merusak perkembangan peserta didik. Ia menegaskan pentingnya edukasi anti bullying agar lembaga pendidikan lebih serius melakukan langkah pencegahan. “Tingkat bullying di Indonesia masih tinggi. Menurut data UNESCO, 41 persen kasus bunuh diri pada remaja disebabkan oleh bullying. Sayangnya, banyak korban tidak memiliki tempat perlindungan ketika mengalaminya, apapun bentuknya,” ujarnya

Rasa antusias peserta semakin terlihat sejalan dengan urgensi pencegahan bullying yang kemudian diperdalam oleh narasumber utama, Eef Saefullah. Dalam pemaparannya, Eef tidak hanya memaparkan definisi bullying, akan tetapi juga menguraikan berbagai bentuknya seperti perundungan verbal, fisik, sosial, hingga perundungan di dunia maya (cyberbullying) yang semakin marak di era digital. Ia menekankan bahwa setiap bentuk bullying, sekecil apa pun, dapat menimbulkan dampak jangka panjang berupa trauma, hilangnya rasa percaya diri, hingga penurunan prestasi belajar.

Eef mengajak santri untuk berani berkata “tidak” terhadap perundungan dengan bahasa yang lugas baik sebagai korban maupun saksi. Ia membagikan langkah-langkah  pencegahan seperti membangun empati, menjaga komunikasi yang sehat, dan menciptakan budaya saling melindungi antar teman. “Ketika kita membiarkan satu bentuk bullying tanpa adanyatindakan aktif untuk menghentikan perundungan, sama saja kita memberi ruang bagi perilaku itu untuk berkembang,” tegasnya.

Sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh antusiasme dan mearik. Salah satunya ketika seorang santri bertanya apakah narasumber pernah mengalami bullying. Pertanyaan tersebut memunculkan kisah pribadi narasumber yang menyentuh membuat pesan anti bullying menjadi terasa lebih dekat dan membekas di hati para peserta.

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kesadaran bersama bahwa pencegahan bullying bukan sekadar himbauan saja akan tetapi merupakan tanggung jawab setiap warga pesantren. Menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, saling menghargai, serta mendukung korban harus menjadi budaya yang terus dijaga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.