[Cerita dari Syiria] Perjalanan Dauroh di Syiria

Selasa, 5 April 2011

“…149, 150, 151, 152” sambil mengatur nafas hitungan pun selesai di angka 152. Ya.. 152 anak tangga harus kami daki untuk mencapai lantai enam. Di lantai tersebut kelas kami berada. Sebenarnya ada dua lift, yang satu untuk para pengajar atau staf dan yang satu lagi untuk para mahasiswa. Tapi sayang, liftnya terlalu kecil, normalnya hanya untuk tiga orang, tapi kadang dipaksakan untuk lima orang. Sedangkan yang ingin menggunakan lift biasanya banyak dan antri. Bagi kami yang masih muda, tentu tangga adalah pilihan yang tepat untuk sampai ke kelas (hitung-hitung olah raga).

Saya lihat jam di HP, waktu menunjukkan pukul 11.01. Terlambat satu menit dari waktu yang telah ditentukan ustadz Ghiyas untuk daurah hari ini. Ustadz Ghiyas adalah salah satu dari tiga guru yang mengajar kami. Beliau masuk setiap hari Selasa. Dari ketiga guru yang ada, ust. Ghiyas lah yang kami rasa paling cepat dalam menerangkan pelajaran dan terkadang kami merasa keteteran. Akan tetapi, beliau sangat teliti dalam memeriksa tulisan dan menyimak bacaan kami. Hari Selasa ini adalah hari terakhir beliau mengajar kami. Tapi ternyata beliau belum tahu, beliau baru tahu hal tersebut setelah di tengah pelajaran ada seorang staf pengajar memberi info tentang rencana kepulangan kami. Ada sedikit raut kekecewaan di wajah beliau. Beliau merasa belum menyambut kami, belum mengajak kami makan bersama atau mampir ke rumah beliau. Akhirnya, setelah selesai pelajaran beliau mengambil foto kami sebagai kenang-kenangan.

Memang kami tidak memberi tahu kepada ustadz Ghiyas pada tanggal berapa kami akan pulang ke Indonesia. Kami pikir beliau sudah tahu, karena dua pengajar yang lain sudah mengetahuinya. Beliau juga tidak pernah bertanya tentang rencana kepulangan kami. Berbeda dengan ustadz Hazim, beliau sering bertanya kapan kami pulang ke Indonesia. Beliau juga yang paling sering masuk kelas selama daurah. Beliau mendapat jadwal dua hari, Ahad dan Senin. Tidak hanya mengajar di kelas, bahkan beberapa kali ustadz Hazim mengajak kami ke markaz madinah atau city center-nya Aleppo. Waktu pertama kami datang, beliau lah yang mengantar kami ke tempat penukaran uang. Waktu itu kami menukar beberapa dolar ke pound Syria (dalam bahasa Arab ditulis ليرة سورية atau lira Suriah, tapi dalam bahasa Inggris menjadi Syrian Pounds).

Sesuai jadwal, hari Senin kemarin adalah hari terakhir ustadz Hazim masuk kelas. Beliau mengambil kesempatan tersebut untuk mengajak kami belajar di luar kelas. Bukan di halaman kelas atau di taman kampus, beliau mengajak ke suatu tempat yang berjarak sekitar 80 km sebelah selatan Aleppo. Di sebuah tempat dekat dengan kota Ma’rat Nu’man. Tempat yang kami tuju adalah makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz, cicit Umar bin Khattab (ibu Umar bin Abdul Aziz adalah cucu Umar bin Khattab). Siapa yang tidak kenal dengan sosok Umar bin Abdul Aziz, Seorang Khalifah yang masyhur dalam Dinasti Bani Umayyah. Khalifah yang terkenal dengan keadilannya. Bahkan bisa disejajarkan dengan sang kakek. Para sejarawan juga sering mengutip kisah bahwa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, orang-orang susah mengeluarkan zakat karena tidak ada lagi yang mau menerima zakat, semua rakyat telah kaya. Itulah gambaran kemakmuran umat Islam di zaman kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz walaupun beliau hanya memegang jabatan Khalifah selama kurang lebih dua setengah tahun. Beliau juga yang memerintahkan pembukuan hadits, sehingga manfaat dari pembukuan hadits dapat kita rasakan sampai saat ini. Beliau meninggal pada usia yang relatif masih muda, sekitar 40 tahun (61 – 101 H).

Dalam perjalanan menuju makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kami diajak mampir ke riif halab (pinggir kota Aleppo), di sebuah desa yang yang berjarak sekitar 35 km dari Aleppo. Di sana terdapat satu madrasah ibtidaiyyah. Di madrasah tersebut ustadz Hazim mengajar (beliau mengajar di Jami’ah Halab pada hari Ahad dan senin, hari-hari yang lain beliau mengajar di madrasah tersebut). Masih sangat desa. Maka tidak heran jika anak-anak madrasah itu sangat antusias melihat ‘turis asing’ datang ke sekolah mereka.

Selain desa tempat ustadz Hazim mengajar, kami pun diajak ke desa sebelah. Nama desa tersebut adalah Bawabiyah. Di desa Bawabiyah terdapat sebuah madrasah setingkat aliyah. Fasilitasnya masih sangat sederhana. Maklum, karena madrasah tersebut terletak di sebuah desa yang jauh dari kota. Bahkan di desa tersebut masih banyak orang mengembala kambing, masih banyak ladang, persawahan dan jalannya pun masih tanah belum di aspal. Di Madrasah tersebut ada empat ruang kelas, tetapi yang terisi hanya tiga ruang. Kami pun memasuki ruang satu per satu. Terlihat lah wajah-wajah dengan senyum mengembang. Mereka gembira karena ada lima orang ‘turis asing’ masuk kelas mereka. Mungkin ini baru pertama kali, ada turis yang masuk ke kelas mereka. “klik.. klik..” kami pun ambil gambar mereka.

Di madrasah Bawabiyah tersebut ustadz Musthafa mengajar. Ustadz Musthafa adalah staf pengajar di Ma’had Ali Lillughat (tempat kami daurah). Tetapi beliau tidak ada jadwal mengajar kami. Seperti ustadz Hazim, beliau juga mengajar beberapa hari di desa tersebut, dan hari lainnya ada di Ma’had Ali Lillughat. Ustadz Musthafa adalah teman ustadz Hazim yang diajak ikut ziarah ke makam Umar bin Abdul Aziz. Beliau yang tau jalan ke makam. Bahkan beliau yang menyetir mobil KIA cerato bernomor حلب 546067, mobil sedan hitam milik ustadz Hazim. Mobil itu diisi tujuh orang, empat orang di belakang dan tiga orang di depan termasuk supir. Kami pun berdesak desakan, bahkan kaki saya terasa kesemutan sepanjang perjalanan karena susah bergerak. Untung saya mengambil posisi di jok depan. Jadi sedikit terhibur dengan pemandangan di sepanjang jalan menuju makam Umar bin Abdul Aziz.

Tidak lama setelah sampai di area makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kami segera mengambil air wudhu, azan Dhuhur segera berkumandang. Setelah shalat Dhuhur kami membaca al-Fatihah dan beberapa surah lainnya untuk arwah para almarhum yang ada di komplek pemakaman Umar bin Abdul Aziz. Dalam komplek tersebut ada tiga makam, makam Umar bin Abdul Aziz, isteri beliau yang berada persis di bawah kaki beliau, karena wasiat sang isteri untuk dimakamkan di bawah kaki Umar bin Abdul Aziz sebagai rasa tunduk taat kepada sang suami, dan satu lagi makam yang berada di samping makam Umar bin Abdul Aziz, saya kurang tau persis nama ulama penghuni makam tersebut.

Setelah selesai berdoa dan berkeliling di area makam, kami langsung pulang menuju Aleppo. Sesampainya di Aleppo, kami langsung menuju Ma’had Ali Lillughat. Ustadz Musthafa langsung pergi entah kemana, mungkin beliau menuju ke tempat makan, karena di dalam mobil sewaktu perjalanan pulang beliau berteriak-teriak kecil sambil bercanda kalau beliau lapar. Memang di antara kami beliaulah yang paling gede badanya. Sebenarnya kami pun ditanyai mau makan di mana, apakah kami lapar, dan seterusnya. Kami hanya jawab “tidak usah, syukron.. syukron…” padahal tidak bisa dipungkiri kami juga lapar. Hehe… dasar orang Indonesia…. malu-malu ‘manusia’… Untung ustadz Hazim memahami adat kami dan beliau pun sudah bilang sejak awal bahwa beliau harus menjamu makan kami dan makan bersama kami. Beliau segera mengantar kami ke asrama dan meminta kami untuk menunggu di asrama, beliau hendak mencari makanan buat dimakan bersama. “asyik….” dalam hati bersuka cita.. eh, tapi nanti dulu.. jangan berharap makanan yang akan datang adalah nasi Padang dengan ayam gorengnya atau nasi warteg dengan soto ayamnya. Aahh.. biarin, yang penting ditunggu aja..

Benar, beberapa menit kemudian ustadz Hazim datang, dengan membawa beberapa bungkus makanan. Saya selidiki, tak terlihat sebutir nasi pun dalam makanan yang dibawa ustadz Hazim. Yang ada adalah roti asmar dengan potongan-potongan ayam bakar dan tentu dengan lalapannya. Memang beliau tidak biasa makan nasi, beliau makan roti. Kami pun harus ikut makan roti. “ya iya lah.. masa’ makan nasi, kalau makan nasi berarti kita yang menjamu orang Syria” hati coba menyadarkan pikiran. Jadi ingat pepatah, “di mana bumi diinjak di situ langit di junjung”. Tapi alhamdulillah, akhirnya kami kenyang juga.

Rabu, 6 April 2011

Pukul 09.59 kami sudah berada di depan kelas. Persis satu menit sebelum jadwal masuk kelas. Tak lama kemudian ustadzah Batul nampak dari kejauhan. Ustadzah Batul ini adalah salah satu pengajar yang mengajar kami selain ustadz Ghiyas dan ustadz Hazim. Tapi hari ini beliau tidak akan mengajar karena hari ini adalah hari terakhir dan akan dilaksanakan imtihan. Beliau pun nampak membawa lembaran-lembaran soal yang akan diujikan. Sebelumnya kami hanya menebak-nebak bahwa ustadzah Batul ini seorang ibu muda dengan satu atau dua anak. Usia sekitar 35-an. Setelah selesai imtihan kami pun diberi alamat email beliau. Dalam alamat email itu ada angka 85. Kami coba tanya, apa 85 itu 1985, tahun kelahirannya. Ternyata beliau menjawab ‘iya’. “hah..” ternyata yang mengajar kami selama ini baru berusia 26 tahun.

Alhamdulillah, ujian pun selesai sebelum Dhuhur. Peserta yang ikut ujian hanya kami berlima. Sebenarnya ada satu orang lagi yaitu Ni’mat. Akan tetapi, pemuda Turki ini akan tinggal lebih lama di Aleppo, jadi ujiannya diakhirkan. Pada awal daurah, kami juga punya teman bernama Naseem. Mahasiswa kedokteran keturunan India yang berkewarganegaraan Amerika itu akhirnya memilih ke kelas yang lebih rendah setelah dua minggu sekelas dengan kami. Dia merasa kurang mampu mengikuti daurah di kelas mutawassithah.

Pada malam hari, tepatnya sebelum isya’, ustadz Hazim menelpon kami. Beliau memberi tahu kalau beliau dan ustadz Musthafa akan datang ke asrama kami pukul 20.30, karena sekitar jam 21.00 Dr. Muhammad Hasan Abdul Muhsin ingin menemui kami di asrama. Dr. Hasan adalah ketua bagian bahasa Arab di Ma’had Ali Lillughat. Beliau ingin mengucapkan salam perpisahan. Akhirnya, Dr. Hasan datang juga ke asrama. Kami pun menyambut beliau di depan gedung asrama. Setelah itu, kami dan Dr. Hasan langsung mengadakan pertemuan yang diadakan secara kekeluargaan di loby asrama. Setelah ramah tamah selesai, beliau pun memberikan bingkisan kepada kami sebagai kenang-kenangan. Setelah itu, dilanjutkan dengan foto bersama.

Dengan selesainya acara pertemuan itu, maka seolah sudah resmi daurah kami ini ditutup. Alhamdulillah banyak pelajaran yang kami dapat selama daurah di kelas, apalagi ditambah pengalaman di luar kelas. Saya jadi teringat setiap kali kami pergi ke luar asrama, ke pasar, ke tempat wisata, atau ke tempat-tempat lainnya, selalunya orang menyapa…. “shiin…?” atau “yaabaan..?”.. dua sapaan itu yang paling sering kami dengar… mereka menganggap kami dari China atau Jepang.. timbullah pertanyaan dalam hati… apa kita mirip Andy Lau, Jacky Chan, atau Jet Li..? selain China dan Jepang ada juga yang menyapa… “kuurii…?”.. mereka pikir kami ini dari Korea.. mungkin karena banyaknya mobil Korea di sini, merek-merek seperti Hyundai, Daewoo, atau KIA dengan mudah dapat kami jumpai. Atau kemungkinan lain wajah kami mirip dengan Kim Bum artis Korea yang melejit lewat serial ‘Boys Before Flowers’… hm… ntah lah mana yang benar… ehm..

Selain anggapan mereka kalau kami ini dari Asia Timur, mereka pun sering menganggap kami dari Pakistan atau India… mereka bilang… “pakitanii…?” … “Hindii..?”.. kalau kali ini, kami tak perlu meragukan kalau memang wajah kami berlima mirip Sakh Rukh Khan, Amir Khan, Salman Khan, Ajay Devgan, atau Amitabachan waktu masih muda… hehe.. (jadi ingat polisi Gorontalo yang nyanyi ‘chaiyya-chaiyya’…). Yang jelas hampir tidak ada orang yang menganggap kami ini orang Indonesia atau memang Indonesia ga’ dikenal oleh orang-orang sini?.. adapun anggapan mereka yang paling dekat adalah mereka menganggap kami orang Malaysia..

Selesai………
(Demikian kabar dari Aleppo, Syria. Mungkin ini cerita terakhir yang dapat kami kirimkan, mengingat modem yang kami gunakan harus dihentikan hari ini… akhirnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada Pimpinan PP. Darunnajah atas kesempatan yang telah diberikan kepada kami. Tak lupa pula terima kasih kami kepada para ustadz dan ustadzah yang telah mendoakan, membantu, dan mengingat kami selama perjalanan ini. Kami juga meminta doa agar selamat di perjalanan pulang nanti, dan apa yang telah kami dapat di sini menjadi manfaat bagi kami, Darunnajah, dan semuanya… amin)