Assalamualaikum…
Alhamdulillah sudah tiga minggu kami tinggal di negeri Presiden Basyar al-Asad. Tiga minggu sudah suka duka hidup di negeri orang harus kami rasakan. Kami pun harus bersahabat dengan cuaca, budaya, makanan, dan waktu. Teringat ketika pertama kami berkenalan dengan air Syria, waktu itu 12 Maret 2011 pagi, kami tengah menempuh perjalanan dari Damaskus ke Aleppo, di tengah perjalanan kami mampir ke sebuah restoran yang bernama ‘Al Jallab’ yang di sampingnya terdapat sebuah jami’, kami segera menunaikan shalat Subuh di jami’ tersebut, tak perlu banyak kata untuk mendeskripsikan keadaan cuaca saat itu, cukup dengan kata “wow.. kaki terasa beku” dan seakan kaki sudah mati rasa. Setelah keluar dari masjid, saya bergegas ke mobil, mengambil sepatu, untuk menutup kaki yang sebelumnya hanya beralaskan sandal. Memang waktu itu adalah hari-hari akhir fashlu syita'(musim dingin). Jadi jangan coba-coba menantangnya dengan beralas kaki sandal atau dengan memakai pakaian yang tipis. Setelah kami mengisi perut dengan makanan ‘ala kadarnya’, makanan ghoma (ghoiru mafhum), dan dunia mulai kembali terang, kami melanjutkan perjalanan ke Aleppo.
Babak baru episode kehidupan lima orang Indonesia pun dimulai, ya.. lima orang, dua orang dari DN (ga’ perlu disebut ya….), pak M. Rofiq Anwar (66 th) yang biasa dipanggil pak Rofiq dan pak Ali Bowo Tjahjono (53 th) atau biasa kami memanggilnya pak Ali, keduanya adalah dosen UNISULA Semarang, satu lagi adalah Cep Wanda Effendi (20 th), alumni Gontor 2009 yang berdomisili di Cianjur. Kami berlima menempati asrama Dar Dhiyafah atau Hospitality House. Satu kamar diisi dua orang, kamar kami saling berdekatan, sy dan ust Mukhtar di kamar 12, pak Rofiq dan pak Ali di kamar 13 dan Wanda di kamar 4 yang berhadapan langsung dengan kamar 13. Setiap kamar terdapat dua lemari, dua tempat tidur yang masing-masing dilengkapi satu bantal dan tiga selimut, satu heater, satu kipas angin, dan dua lampu tidur. Dalam satu lantai rata-rata terdapat 40 kamar, sisi kanan 20 dan kiri 20 kamar. Setiap sisi terdapat 4 kamar mandi, 4 wc, dan 20 wastafel. Dar Dhiyafah yang dikhususkan untuk pelajar-pelajar asing mempunyai 8 lantai dan kami berada di lantai 2.
Setiap pagi pada hari-hari belajar kami pergi ke kampus. Dari Dar Dhiyafah ke kampus berjarak sekitar 200 m dan dipisahkan dengan jalan raya. Selama tiga minggu ini, alhamdulillah daurah berjalan dengan lancar walaupun keadaan politik di Syria sedang tidak stabil. Demonstrasi terjadi di mana-mana yang puncaknya hari Selasa tanggal 29 Maret, tejadi demo besar-besaran di Syria, termasuk Aleppo sebagai kota terbesar kedua setelah Damaskus. Semua madrasah libur termasuk Aleppo University. Kami yang sudah bersemangat ke kampus pun terpaksa ‘balik kanan’ setelah seorang administratur menghadang kami di pintu masuk kampus. “No study today.. no study… only today..” katanya, seakan melihat keheranan kami kenapa kok libur, dia menegaskan kembali, kali ini dengan bahasa Arab, “alyaum maa fii ta’lim… maa fi daurah… al-yaum ‘uthlah bisababi al-masiirah.. al-yaum faqath….”. Mahasiswa diarahkan untuk berdemo, bahkan kantor-kantor pun diliburkan beberapa jam untuk memberi kesempatan kepada para karyawan ikut berdemo. sssttt… jangan membayangkan demo di sini seperti apa yang terjadi di Mesir atau negara-negara Timur Tengah lainnya. Demonstrasi besar-besaran dilakukan untuk mendukung Presiden. Mereka melakukan itu karena di sebagian kecil wilayah Syria sebelumnya terjadi demo anti pemerintahan. Demonstrasi yang pro presiden disebut dengan masiirah. Sedangkan demonstrasi yang menentang atau kontra disebut mudhaharah.
Di Syria, kebanyakan rakyat cinta dengan Presiden Basyar al-Asad yang berusia sekitar 45 tahun. Presiden muda ini menggantikan ayahnya Hafiz al-Asad yang meninggal tahun 2000. Hafiz al-Asad sendiri pada masanya sering mendapat julukan Singa Timur Tengah bersama dua pemimpin negara lain, Saddam Husein dan Muamar Khadafi. Cerita yang kami dapat, bahwa Presiden Basyar hidup merakyat, ia sering keluar malam dengan mobil yang dia supiri sendiri guna melihat keadaan rakyatnya. Isterinya juga sering ke pasar-pasar, membeli langsung ke pedagang, dan ia menolak jika pedagang ingin memberikan barang yang diinginkannya dengan cuma-cuma. Dia tidak mau gratisan, dia tidak mau diistimewakan dan harus membayar layaknya pembeli yang lain.
Kecintaan rakyat pada presiden Basyar juga tercermin dari foto presiden yang dapat kita jumpai di mana-mana. Di kampus, taksi, pasar, dan bahkan hampir semua toko terdapat gambar Presiden Basyar dengan berbagai gaya. Di Aleppo sendiri kami tidak menjumpai orang-orang yang kontra dengan presiden. Jadi setelah demo besar-besaran, keadaan di Aleppo kembali tenang karena semua rakyat Aleppo pro dengan sang presiden. Kami pun kembali merasa tenang dan daurah berjalan seperti biasa. Akan tetapi, hari Ahad kemarin kami sedikit kaget, bukan kaget karena demo, kami kaget karena ust. Hazim (salah seorang ustadz yang mengajar kami pada daurah ini) menelpon, menanyakan kebaradaan kami, “Ya Mu’ammar, aina antum ….. ta’akhartum, al-aan as-saa’ah al-‘asyirah wa nisf… la tadrusun al-yaum au turiidun an ta’tuu fi al-sa’ah al-hadiya ‘asyar…”. Spontan kami kaget, kami lihat jam, masih sekitar jam 09.30. Biasanya masuk kelas jam 10.00. Jadi kami merasa tidak terlambat, tapi kenapa ustadz menelpon dan mengatakan kami terlambat…
Kami bergegas ke kampus, dalam perjalanan ke kampus kami saling bertanya, mencocokkan jam, dan jam kami tidak salah. Sesampainya di kelas kami langsung bertanya, kenapa kok kami dibilang terlambat sembari kami menunjukkan jam di HP kami. Kemudian ustadz menerangkan kalau di Syria waktunya dimajukan satu jam, mulai Jum’at 1 niisaan (April). Jadi perbedaan dengan WIB sekarang hanya 4 jam yang tadinya 5 jam. Kami coba usut lagi kenapa dimajukan, beliau pun menjawab, karena fashl syita’ sudah berakhir dan sekarang sudah fashl rabii’ (musim semi) yang dianggap sebagai permulaan fashl shaif (musim panas), jadi waktu dimajukan satu jam dan akan dimundurkan satu jam kembali menjelang musim dingin. “Oh.. begitu..” kami baru tau kalau ada perubahan jam di Syria. Pantas, beberapa hari terakhir kami melihat jam di loby asrama tidak sama dengan jam kami, padahal dulunya sama, dan kami sering mengatakan jam di dinding itu ngaco.
Memang cuaca di sini sudah mulai bersahabat dengan kami. Matahari sudah hangat, bahkan kadang terasa gerah. Air pun sudah tidak dingin lagi. Tidak lagi terlihat orang-orang yang memakai pakaian tebal. Dan tidak lagi kedinginan jika keluar asrama memakai sandal. Konon musim semi ini adalah musim yang paling disukai kebanyakan orang Syria. Banyak dari mereka yang bersantai bersama keluarga di taman-taman kota atau mereka melakukan rihlah ke tempat-tempat wisata. Hhmm.. ngomong-ngomong rihlah, kami pun tidak ketinggalan (meski pun sebenarnya kami sudah merasa rihlah walau cuma tinggal di asrama, mengingat jauhnya tempat kami sebenarnya). Kami mengambil hari libur yaitu hari Sabtu 2 April untuk pergi ke Qal’ah Sam’an. Qal’ah yang sudah berdiri sekitar 1600 tahun yang lalu ini, berbentuk seperti istana besar dan terletak di pegunungan batu. Material utama istana ini juga dari batu, sayangnya sekarang hanya puing-puing saja yang tersisa. Akan tetapi, tetap indah untuk dinikmati. Untuk sampai ke sana dan menikmati peninggalan bersejarah tersebut, dengan jarak sekitar 40 km arah barat laut dari Aleppo, kami harus mengeluarkan 650 Lira Syria (130.000 Rupiah) untuk tiga orang (hari itu pak Rofiq dan pak Ali tidak ikut). Dengan kendaraan utama mobil mikro yang dapat diisi 15 orang (termasuk supir), kami tempuh perjalanan kurang lebih selama 1 jam dan melewati perkampungan penduduk yang berakhir di kota Dar Izzah. Kemudian perjalanan dilanjutkan lebih ke puncak gunung batu di mana qal’ah itu berada.
Laporan dari Ust. Akhmad Muamar dan Ust Muchtar Ghozali
Aleppo,
Senin, 4 April 2011
08:54 Aleppo/12.54 WIB