Cerita Santri yang Mengajarkan Teman Sekamarnya Membaca Quran dari Awal

Di sebuah kamar asrama pesantren, dua anak tidur di kasur yang berdampingan. Satu sudah hafal beberapa juz Quran sejak sebelum mondok. Satu lagi belum lancar membaca huruf hijaiyah. Perbedaan itu bisa menjadi jarak. Tapi di pesantren, perbedaan justru sering menjadi jembatan.

Momen ketika santri yang satu menyadari bahwa temannya belum bisa membaca Quran biasanya tidak terjadi di kelas.

Terjadi di momen yang lebih personal. Saat tahsin sore, ketika semua santri membuka mushaf dan mulai membaca, ada satu anak yang diam. Mushafnya terbuka tapi matanya tidak bergerak mengikuti baris. Bibirnya tidak bergerak. Dia hanya duduk, menunggu waktu tahsin selesai, berharap tidak ada yang menyadari.

Tapi teman sekamarnya menyadari.

Tidak ada reaksi yang berlebihan. Tidak ada pertanyaan yang mempermalukan. Malam itu, setelah lampu asrama diredupkan dan santri lain sudah mulai tidur, teman sekamarnya berbisik dan bertanya — mau belajar bareng? Pertanyaan sederhana itu membuka pintu yang mungkin tidak akan pernah terbuka kalau dia harus bertanya sendiri.

Proses belajar dimulai dari huruf pertama.

Alif. Ba. Ta. Tsa. Setiap malam, setelah jam belajar resmi selesai, dua anak itu duduk berdampingan di pojok kamar dengan satu senter kecil dan satu buku Iqra. Yang satu mengajarkan, yang satu mengikuti. Prosesnya pelan. Kadang satu huruf butuh beberapa malam untuk benar-benar dikuasai. Tapi tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada tekanan. Hanya dua teman yang duduk bersama mempelajari sesuatu yang salah satunya sudah kuasai dan ingin diajarkan.

Yang mengajarkan juga belajar sesuatu.

Mengajarkan Quran kepada orang lain ternyata membutuhkan kesabaran yang berbeda dari sekadar menghafal sendiri. Harus menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami. Harus mengulangi tanpa menunjukkan rasa bosan. Harus menemukan cara kreatif untuk membantu temannya mengingat perbedaan antar huruf yang bentuknya mirip. Proses itu melatih kemampuan mengajar yang tidak didapatkan dari pelajaran manapun di kelas.

Kemajuan temannya menjadi kebahagiaan bersama.

Momen ketika temannya berhasil membaca satu ayat pendek dengan benar untuk pertama kalinya — momen itu dirayakan dengan senyuman lebar di kegelapan kamar asrama. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pengumuman. Hanya dua anak yang tahu betapa besarnya pencapaian kecil itu. Dan itu sudah cukup.

Berminggu-minggu berlalu. Buku Iqra selesai. Mushaf Quran dibuka untuk pertama kali. Huruf-huruf yang beberapa minggu lalu masih terasa asing sekarang bisa dirangkai menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi ayat. Bacaannya masih terbata-bata. Tajwidnya belum sempurna. Tapi dia membaca. Benar-benar membaca. Sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah bisa dia lakukan.

Ikatan yang terbentuk dari proses ini berbeda dari ikatan pertemanan biasa.

Santri yang mengajarkan temannya membaca Quran dan santri yang diajarkan biasanya punya hubungan yang bertahan sampai lama setelah lulus. Ada rasa terima kasih yang tidak pernah bisa sepenuhnya diungkapkan dengan kata-kata. Ada kebanggaan yang tidak terlihat dari luar tapi terasa sangat dalam. Hubungan itu dibangun dari momen-momen sunyi di kamar asrama, bukan dari acara besar atau pencapaian publik.

Di Darunnajah 2 Cipining, program tahsin Quran berjalan setiap sore untuk seluruh santri. Tapi di luar jam resmi itu, ada proses belajar yang terjadi secara spontan di kamar-kamar asrama — santri mengajarkan santri, tanpa diminta, tanpa imbalan, hanya karena itu terasa sebagai hal yang benar untuk dilakukan.

Kadang guru terbaik bukan yang berdiri di depan kelas. Tapi yang duduk di sebelah kita di kamar asrama dan berbisik — mau belajar bareng?

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.