Kami meyakini bahwa pengabdian merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim. Sebagaimana tujuan penciptaan manusia menjadi khalifah di muka bumi dan beribadah kepada Allah Swt. Ilmu yang dimiliki tidak akan bermakna tanpa diabdikan. Setiap orang hendaknya mengeluarkan apa yang ia miliki, baik harta, tenaga, maupun pikiran, demi kebaikan dan kemaslahatan sesama.
Pengabdian ini kami jalani dengan bekal perjalanan panjang selama menjadi santri: ilmu, pengalaman, suka duka, serta wejangan dari guru-guru kami selama tiga hari penuh. Dengan niat yang kuat, kami pun berangkat menunaikan tugas.
Perjalanan dimulai dari pondok pada pukul 02.00 dini hari, Rabu, 4 Februari 2026. Setelah berhenti sejenak untuk melaksanakan salat Subuh, kami melanjutkan perjalanan menuju pemberhentian kedua, yaitu Masjid Jami’ Kota Pandeglang. Di sana kami bersiap-siap sebelum menuju Pendopo Bupati Pandeglang untuk mengikuti pembukaan kegiatan PPM dan bersilaturahmi dengan Pemerintah Kabupaten Pandeglang.
Pukul 09.30 perjalanan dilanjutkan menuju Pesantren Kun Karima La Tansa 3 di Kampung Ciekek, Kecamatan Majasari. Setelah beristirahat dan menunaikan salat Zuhur, kami kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di Kantor Kecamatan Cibaliung pukul 17.00.
Dari kantor kecamatan, kami berpencar menuju rumah masing-masing tuan rumah yang akan kami tinggali selama PPM. Kelompok 5 ditempatkan di Desa Sudimanik, Kecamatan Cibaliung. Kesan pertama yang kami rasakan adalah hangatnya suasana kekeluargaan. Sambutan masyarakat begitu ramah hingga kami merasa langsung menjadi bagian dari keluarga mereka.
Hari-hari awal kami isi dengan silaturahmi kepada tokoh-tokoh masyarakat, seperti Bapak Unung Suana, S.Pd. (Kepala SDN Sudimanik), Bapak Hedi (Kepala Desa Sudimanik), serta keluarga DKM Masjid At-Taqwa Sudimanik. Kehadiran kami diterima dengan terbuka dan penuh keakraban.
Selama berada di desa, kami berusaha menjalankan program-program yang telah kami susun sebelumnya di pondok. Berkat dukungan masyarakat—khususnya keluarga tuan rumah, kepala sekolah, dan kepala desa—seluruh program berjalan lancar, meskipun kegiatan desa saat itu sudah mendekati penutupan menjelang bulan Ramadan.
Salah satu momen paling berkesan adalah acara Ihtifalan, atau yang oleh masyarakat setempat disebut lesengan. Acara tahunan ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Dalam kegiatan ini, para santri setempat diuji untuk menyampaikan materi di hadapan masyarakat. Selain itu, terdapat penampilan qari dan qariah, nasyid, nadzam, serta qosidah. Kami turut membantu mulai dari persiapan panggung, dekorasi, susunan acara, hingga penyediaan hadiah. Alhamdulillah, acara berlangsung meriah dan penuh kebahagiaan.
Interaksi dengan anak-anak desa menjadi sumber semangat tersendiri bagi kami. Antusiasme mereka selalu mengharukan. Kami membuka Taman Baca dan Kreasi di rumah, dan anak-anak datang dengan penuh kegembiraan. Setiap pagi dan siang, kami juga membantu mengajar di SDN Sudimanik dan Madrasah Diniyah Awwaliyah (MDA) Riyadhul Athfal.
Menjelang Magrib, kami menuju salah satu pondok salafi setempat untuk membantu kegiatan mengaji. Anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dari Magrib hingga selepas Isya. Salah satu tantangan yang kami hadapi adalah perbedaan metode pembelajaran dengan yang biasa kami gunakan di pondok. Namun, melalui komunikasi dan penyesuaian dengan kiai setempat, proses belajar kembali berjalan baik.
Kami juga mewakafkan mushaf Al-Qur’an dan menyalurkan bantuan kepada masyarakat sebagai amanah dari pondok. Harapan kami, wakaf ini dapat membantu para santri agar lebih mudah mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an.
Kegiatan PPM ini memberikan pelajaran berharga bagi kami. Kami belajar berkontribusi secara nyata kepada masyarakat, terutama bagi generasi muda. Kami juga menyadari bahwa berorganisasi di tengah masyarakat tidaklah semudah di pondok; dibutuhkan kesadaran kolektif dan rasa kebersamaan yang tumbuh dari hati, bukan sekadar kesepakatan lisan.
Tiada kata yang lebih pantas kami ucapkan selain syukur kepada Allah Swt. atas terselesaikannya kegiatan PPM beserta seluruh pelajaran berharga yang kami dapatkan.
Razan Muhammad
Tulisan terkait:
- Praktek Pengabdian Masyarakat (PPM) Santri Kelas 6 TMI: Amalkan Ilmu dan Keterampilan di Masyarakat
- Kunjungan Guru Darunnajah Jakarta Ke Kelompok 15 Praktik Pengabdian Masyarakat
- Memahami arti dari kegiatan PPM ( Peraktik Pengabdian Masyarakat )
- Safari Dakwah Santri Darunnajah 13: Wujud Pengabdian dan Pengaplikasian Ilmu di Tengah Masyarakat
