Pagi itu setelah aku keluar dari kamar bagian bahasa dengan perasaan kesal campur dongkol. Ingin sekali aku memaki kakak kelasku yang menghukumku tadi hanya karena sebuah pena. Ya, aku kehilangan penaku satu-satunya kemarin malam dan belum sempat membeli pena baru. Kemudian ketika pemberian kosakata bahasa Inggris seslepas Isya' aku tidak bisa menulis satu pun kosakata di buku saku kecilku sehingga ketika bagian bahasa memeriksa buku saku itu, ia tidak menemukan menemukan satu pun kosakata yang baru. Aku kehilangan banyak waktu pagi ini.
Sekarang hanya tersisa lima belas menit untuk bersiap-siap masuk kelas. Pada pukul tujuh nanti, seluruh santri harus berada di kelasnya masing-masing. Bila tidak, maka aku harus berurusan dengan Ustadz Abdul Aziz. Lima belas menit bagiku cukup untuk mencuci muka dan menggosok gigi ala koboi lalu mengganti pakaian dan berlari sampai kelas.
Maka aku pun berlari dan terus mengejar lima hitungan terakhir dari Ustadz Abdul Aziz. Beliau terkenal sebagai guru yang paling tegas dalam hal disiplin bahkan beliau tidak segan memberi hukuman push-up sebanyak seratus kali bagi santri yang tidak menjalankan disiplin termasuk terlambat masuk kelas walau pun hanya satu detik. " Sittah, sab'ah, tsamaniyah, tis'ah, wal akhir, asyaroh…"
Gerbang pun ditutup dan aku hanya bisa pasrah dengan keterlambatanku ini. Lalu Ust, Abdul Aziz membariskan seluruh santri yang terlambat termasuk aku dan menyruh kami push-up sebanyak seratus kali.
Pelajaran sudah dimulai ketika aku tiba di depan pintu kelas dengan napas tersengal dan Ust. Luqman Hakim tengah menuliskan tamrin bahasa Arab di papan tulis sedangkan santri yang lain asyik menyalin soal di buku tluis mereka. Aku segera mengucapkan salam setelah mengetuk pintu sebayak tiga kali, Serentak seluruh isi kelas menoleh ke arahku, Ust, Luqman menjawab salamku dan mempersilahkanku masuk.
" Dari mana kamu? Tanya Ust. Luqman.
Habis dihukum bagian bahasa, tadz. Afwan. Jawabku merundukkan kepala.
Sama siapa? Kenapa dihukum? Tanyanya lagi.
Sama bagian bahasa,tadz, gara-gara nggak bawa pena waktu mufrodat.
Ya, sudah! Kerjakan tamrin sambil berdiri! perintahnya tegas,
Ya, tadz, jawabku sambil merogoh saku celanaku. Tapi, astaghfirullah, aku belum punya pena baru. Ust. Luqman kembali menatapku.
" Kenapa lagi ? tanyanya bak singa yang siap menerkam mangsanya.
Anu, tadz. Saya belum beli pena yang baru.
Ya sudah. Ini pakai pena saya dulu. Ujar Ust. Luqman sambil menyaodorkan pena miliknya.
Bel istirahat berbunyi. Aku masih mernungi kesialanku hanya karena sebuah pena. Kenapa aku kena apes berturut-turut Cuma gara-gara penaku hilang? Tiba-tiba Muammar Husni, kaeanku, menepuk bahuku dan membuyarkan lamunanku.
" Ada apa akhi Irfan? Kok kaya orang yang masa depannya suram aja? Tnya Muammar melucu.
Ah! Ente ! Bikin kaget orang aja sih. Itu kemarin malam penaku hilang,lalu kuceritakan semua yang menimpaku berturut-turut.
Oh! Begitu! Gini akhi, sebagai pelajar, pena itu memang sangat penting sekali bagi kita. Kalau tentara, mereka selalu punya senjata dan peluru. Jika mereka kehilangan senjata, maka mereka akan mati ditembak musuh. Lalu kalau kehabisan pelurudan tidak diisi secepatnya merka juga akan diserang. Atau kilata seperti pemburu yang akan mengikat mangsa. Mangsa kita adalah ilmu. Dan ilmu bila tidak ditullis akan hilang sama halnya dengan mangsa yang tidak dilikat akan kabur.Terang Muammar dan aku mulai merenungi kejadian ini.
Oh! Begitu! Ujarku
Dan pena itu juga sampai dicantumkan dalam Al-Qur'an yaitu, Al-Qalam.Itu karerna pena memang begitu penting untuk para pencari ilmu dan para penulis. Sambung Muammar.
Aku merenungi kata demi kata yang diucapkan Muammar. Aku juga menyadari bahwa keadaanku sama dengan seorang tentara dan pemburu yang diceritakan oleh Muammar tadi.
" Syukran Akhi! Aku mau ke took dulu beli pena baru.
Afwan! Beli pena yang bagus dan jangan Cuma beli satu. Beli yang banyak. Tambah Muammar.
***
Malam harinya, aku mencatat semua pelajaran yang tertinggal. Kini aku punya lima pena sebagai senjataku. Besok pagi adalah hlangan harian Muthala'ah. Aku mempersiapkan semuanya dengan penuh semangat jihad.
Di kelas semua santri tampak sudah siap untuk menghadapi semua soal. Ust. Yunus membagikan kertas-kertas soal. Kulahap semua soal dengan senjata baruku. Di kursi depanku tampak An'am sedang gelisah. Ia terlihat sedang menggoyang akn penanya. Aku tahu bahwa penanya sudah macet mak aku pun menyodorkan salah satu penaku.
Ia menerimanya dengan senyum. Kemudian ia mulai membabat semua soal bak tentara yang menghabisi segenap musuhnya. Aku tak ingin An'am kehilangan waktunya hanya karena sebuah pena seperti aku kemarin. Kini aku adalah tentara yang dilengkapi dengan bayak senjata. Dan penaku adalah senjataku.
(Naskah asli santri tanpa editan Redaksi)
Syahir Hadi, 21 Januari 2008, Darunnajah.