Santriwan kelas III TMI Darunnajah
Bagian Pers dan Jurnalistik (Petik) OSDN 2008-2009 setiap harinya menempelkan surat kabar ataupun yang sering kita bilang “koran”. Koran sangatlah penting bagi kita, karena merupakan satu – satunya alat media informasi bagi para santri di pondok pesantren Darunnajah. Semua alat elektronik itu dilarang oleh pondok, dan yang boleh dibawa hanyalah setrika saja, para santri tidak boleh membawa alat komunikasi seperti HP, ataupun juga tidak boleh membawa alat hibur seperti radio, mp3, mp4, dan lain sebagainya. Alat pemanas air atau hotter pun juga dilarang dikarenakan menurut ketua bagian keamanan Ust. Wahyu Fajri alat tersebut dapat membuat bayaran tagihan listrik pondok pesantren Darunnajah menjadi mahal. Maka dari itu koran pun sangatlah berarti bagi para santri untuk mengetahui apakah berita teraktual dari luar sana.
Koran pun dipasang di dua tempat, yang pertama yaitu dipasang di depan rayon Nusantara, dan yang satunya lagi dipasang di dekat taman gedung Ibnu Sina. Namun sekarang ini koran yang ditempelkan oleh bagian petik berbahasa Inggris. Memang program kerja ini sangatlah baik dikarenakan dapat membantu santri dibidang peningkatan bahasa resmi pondok, yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris, dengan koran bahasa Inggris kita dapat mempelajari bahasa Inggris secara tidak langsung di luar kelas. Menurut salah satu pengajar, Ust. Cariwan, beliau mengatakan bahwasanya koran berbahasa Inggris sangatlah bagus sekali dan banyak sekali manfaatnya, kita dapat belajar membaca bahasa Inggris, mengartikan, dan lain sebagainya. Apalagi dalam rangka Ujian Lisan yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi ada mata pelajaran Bahasa Inggris yang harus diujikan, apalagi kelas I yang baru kali pertama akan mengikuti ujian lisan bahasa Inggris yang perdana.
Koran “The Jakarta Post”, merupakan koran yang ditempel di majalah dinding depan gedung Nusantara. Didepan gedung Nusantara memang sudah berbahasa Inggris, namun koran yang ditempelkan oleh Majelis guru yang berada di dekat taman depan gedung Ibnu Sina masih berbahasa Indonesia, padahal didepan kamar LAC (Language Advirsory Council)sudah tertulis dengan bahasa Arab dengan artian sebagai berikut: “Diharapkan bagi para guru dan administratur agar memakai bahasa resmi yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris”. Namun koran berbahasa Inggris tersebut masih belum rutin adanya, terkadang masih ditempelkan koran Sindo (Seputar Indonesia), dikarenakan santri masih banyak santi yang komplen ke bagian petik dengan alasan “Kak, ane gak ngerti korannya!, bisa ganti gak kak?”.