Kebijakan terbaru pemerintah, yaitu menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) hingga 28,7% memang mencengangkan dan mengejutkan. Untuk kalangan atas ke atas lagi, yaitu yang tidak hanya sekedar menengah ke atas, mungkin kenaikan bahan apapun tidak berpengaruh banyak. Namun untuk kalangan sebaliknya, kenaikan harga BBM ini tentunya sangat mencekik. Karena, dengan kenaikan BBM saja, semua bahan-bahan pokok pasti ikut naik. Tarif angkot yang biasanya 2000 atau 1500 untuk pelajar, kini mulai naik menjadi 2500, bahkan ada yang mencapai 4000, lebih mahal dibandingkan dengan tarif busway. Harga sembako mulai naik. Untuk BBM itu sendiri, untuk jenis premium, harga yang awalnya 4500 setelah naik menjadi 6000. untuk solar, harga setelah naik menjadi 5500. Dan kenaikan itu berdampak ke semua hal. Kebijakan ini dicanangkan berkaitan dengan harga minyak dunia yang hampir menyentuh angka USD 130 per barelnya. Pemerintah bermaksud untuk menyeimbangkan harga tersebut, jelasnya untuk menyelamatkan APBN. Bahkan, apabila harga minyak dunia naik lagi menjadi USD 150 per barel, maka ada kemungkinan harga BBM akan dinaikkan lagi.
Demonstrasi yang dilakukan dari banyak golongan yang menuntut untuk membatalkan penaikan harga BBM atau menundanya, seperti tidak berpengaruh apa-apa bagi pemerintah. Karena ini merupakan kebijakan yang bisa dibilang sangat "mentok". Untuk menyelamatkan APBN juga kebutuhan lainnya. Banyak yang harus dikorbankan. Jelas, masyarakat yang sudah terjepit masalah ekonomi yang tak kunjung selesai semakin terjepit dengan kenaikan harga BBM ini. Ironisnya, banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab yang malah menimbun BBM samapi harganya naik. Belum lama ini, sebuah SPBU di Tuban disegel oleh pihak berwajib karena tertangkap menimbun solar sebanyak 8.000 liter. Cerita memprihatinkan juga ada, berasal dari seorang tukang ojek. Menurutnya, kenaikan harga BBM ini akan menyulitkan penambahan nafkahnya. Karena apabila harga BBM naik, otomatis tariff ojek ikut naik. Dirinya khawatir, itu akan mempengaruhi pelanggannya yang sudah terbiasa dengan harga standar. Dan akan semakin sulit ia menafkahi keluarganya.
Masalah ekonomi benar-benar cerita bersambung ala Indonesia yang seakan tidak ada ujungnya. Setelah kelangkaan minyak tanah, bencana alam dimana-mana yang kian merugikan, kini masalah kenaikan harga BBM yang menjadi berita paling hangat. Tindak kriminalitas pun makin meraja lela dengan mudahnya, karena kemiskinan yang semakin tinggi angkanya. Kenaikan BBM yang kenaikan harganya sudah tidak bisa dipungkiri lagi memang menjadi nightmare untuk mayoritas masyarakat Indonesia yang bisa dibilang "mati di dalam lumbung padi". Untuk menanggulanginya, maka kita berkewajiban pula untuk menyiasatinya. Seperti meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor, dan tidak ngebut-ngebutan. Mungkin, ini sudah ditakdirkan karena semakin mahal BBM, semakin malas orang untuk menggunakan kendaraan bermotor, maka semakin sedikitlah polusi yang ditebarkan.