Di papan pengumuman kelas, daftar peringkat dipasang setiap akhir semester. Nama-nama berjajar dari atas ke bawah, lengkap dengan nilai rata-rata yang membedakan satu posisi dengan posisi lainnya. Di banyak tempat, papan peringkat seperti ini bisa menjadi sumber tekanan. Tapi di pesantren, papan itu justru menjadi pemicu semangat — karena persaingan yang terjadi di sini punya karakter yang sangat berbeda dari persaingan di tempat lain.
Apa yang membuat persaingan akademik di pesantren terasa sehat?
Karena pesaingnya juga sahabatnya. Santri yang bersaing di peringkat kelas adalah santri yang sama-sama tidur di kamar yang sama, makan dari nampan yang sama, dan sholat di shaf yang sama setiap hari. Sulit untuk membenci seseorang yang membangunkan kita untuk tahajud setiap malam, meski orang itu juga yang menggeser posisi kita di peringkat kelas.
Persaingan di pesantren terjadi di siang hari — di kelas, di ujian, di lomba. Tapi di malam hari, semua kembali menjadi teman. Santri peringkat satu dan santri peringkat terakhir bisa duduk bersama di kamar, belajar bersama, bahkan saling membantu mengerjakan tugas. Tidak ada rasa iri yang menghalangi persahabatan.
Budaya ini terbentuk karena satu hal sederhana — di pesantren, nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Santri yang nilainya biasa-biasa saja tapi hafalannya kuat tetap dihormati. Santri yang peringkatnya rendah tapi jago olahraga tetap punya tempat. Keberagaman ukuran keberhasilan ini menghilangkan tekanan berlebihan pada satu aspek saja.
Bagaimana persaingan sehat mendorong semua orang naik?
Fenomena yang menarik di pesantren adalah ketika rata-rata nilai seluruh kelas naik bersamaan. Bukan hanya santri teratas yang nilainya meningkat, tapi juga santri yang biasanya di posisi bawah. Ini terjadi karena persaingan di pesantren bersifat mengangkat, bukan menjatuhkan.
Santri peringkat atas tidak menyembunyikan caranya belajar. Ia membagikan catatan, menjelaskan konsep yang sulit, dan kadang menjadi tutor dadakan untuk teman-teman sekelasnya. Ia tahu bahwa kalau teman-temannya juga pintar, kualitas diskusi di kelas akan lebih baik — dan itu menguntungkan semua orang termasuk dirinya sendiri.
Sementara itu, santri yang nilainya masih rendah termotivasi bukan karena malu, tapi karena melihat bukti nyata bahwa usaha membuahkan hasil. Temannya yang dulu nilainya sama-sama rendah sekarang sudah naik karena rajin belajar kelompok malam. Bukti itu lebih meyakinkan dari motivasi verbal mana pun.
Peran apa yang dimainkan ustadz dalam menjaga persaingan tetap sehat?
Ustadz di pesantren tidak pernah membandingkan santri satu dengan yang lain secara merendahkan. Tidak pernah ada kalimat seperti “lihat dia bisa, kenapa kamu tidak bisa?” Pujian diberikan untuk usaha, bukan hanya untuk hasil. Santri yang nilainya naik dari enam menjadi tujuh mendapat apresiasi yang sama tulusnya dengan santri yang nilainya naik dari delapan menjadi sembilan.
Dengan kurikulum TMI yang memadukan ilmu agama dan umum, setiap santri punya bidang keunggulannya masing-masing. Ada yang kuat di matematika tapi lemah di bahasa Arab. Ada yang menguasai fiqh tapi kesulitan di fisika. Keberagaman ini membuat tidak ada satu orang pun yang merasa paling pintar di semua hal — dan itu menjaga kerendahan hati di tengah persaingan.
Apa pelajaran terpenting dari persaingan sehat ini?
Bahwa keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi kita. Ini pelajaran yang sangat langka di dunia yang sering mengajarkan sebaliknya. Di pesantren, santri belajar bahwa ketika temannya berhasil, itu bukan berarti ia gagal. Justru sebaliknya — keberhasilan temannya menjadi bukti bahwa metode belajar yang mereka jalani bersama memang efektif.
Alumni pesantren yang masuk dunia kerja sering menonjol karena kemampuannya berkolaborasi. Mereka tidak melihat rekan kerja sebagai pesaing yang harus dikalahkan, tapi sebagai mitra yang bisa diajak maju bersama. Pola pikir ini bermula dari bangku kelas pesantren — dari pengalaman bertahun-tahun bersaing sambil tetap bersahabat.
Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, sistem akademik dirancang untuk mendorong setiap santri mencapai potensi terbaiknya tanpa mengorbankan persahabatan. Peringkat kelas tetap ada sebagai motivasi, tapi budaya saling membantu yang sudah mengakar menjadikan persaingan di sini sebagai kekuatan yang mengangkat semua orang — bukan menjatuhkan yang lemah.
Mungkin itulah perbedaan terbesar antara persaingan yang merusak dan persaingan yang membangun — di pesantren, santri berlomba untuk menjadi lebih baik dari dirinya kemarin, bukan untuk menjadi lebih baik dari temannya hari ini.
Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang sistem pendidikan dan suasana belajar di pesantren, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap pertanyaan dijawab dengan senang hati.